Seandainya Bumi Tidak Memiliki Bulan

Seandainya Bumi tidak memiliki Bulan

Bumi mempunyai bulan yang besar, yang menjadikannya unik pada sistem tata surya kita. Merkurius dan Venus tidak memiliki bulan, dan Mars hanya mempunyai 2 bulan seukuran asteroid kecil yang mengelilinginya. Sebuah penelitian dari Bernard Foing dari European Space Agency melihat begaimana bulan mempengaruhi bumi, dan menjelaskan betapa bedanya Bumi kita seandainya Bumi tidak mempunyai bulan sebagai pengikutnya. Apakah kehidupan akan berkembang berbeda seperti yang ada pada saat ini, atau bahkan apakah akan ada kehidupan di Bumi?

Apabila waktu keberadaan Bumi dari awal terbentuk sampai saat ini dimampatkan sebagai 24 jam, maka terbentuknya bulan terjadi pada 10 menit setelah Bumi terbentuk. Bumi terbentuk sekitar 4,56 miliar tahun yang lalu, dan bulan terbentuk 30 juta tahun kemudian. Pada saat itu, Bumi masih berupa lautan magma. Sebuah benda seukuran planet mars menabrak bumi dalam posisi miring, dan melepaskan selimut magma. Selimut magma ini kemudian terkumpul di orbit bumi. Bersama dengan material sisa/puing-puing benda yang menabraknya, material inilah yang akhirnya membentuk Bulan.

Pada saat pertama kali terbentuk, bulan sangat dekat dengan Bumi. Jaraknya hanya kurang lebih 20-30 kilometer, dan akan terlihat sangat besar di langit, kurang lebih 20 s/d 10 kali lebih besar dari bulan yang terlihat sekarang. Tetapi pada saat itu belum ada kehidupan di Bumi, sehingga tidak ada yang bisa melihat pemandangan yang menakjubkan tersebut.

Pengaruh pasang surut dari sebuah benda meningkat sebagai pangkat tiga dari jarak benda tersebut. Dengan demikian pengaruh gaya pasang-surut Bulan pada Bumi saat itu sangatlah besar, terutama pada lautan magma. Hal ini menyebabkan timbulnya semacam energi tambahan untuk pemanasan dari material radioaktif yang ada. Tetapi setelah pemanasan radioaktif tersebut berkurang, bulan tetap merupakan sumber energi pemanasan bumi yang masih berpengaruh terhadap struktur geologi bumi. Magma di bumi tetap bertahan panasnya dan mungkin menyebabkan tambahan arus konveksi di permukaan bumi.

Setelah bumi mulai mendingin, suatu bentuk yang padat pertama kali terbentuk pada permukaan magma. Pada periode ini bumi menjadi objek bombardir dari meteor. Bombardir ini terjadi sangat hebat pada awal pembentukan tata surya dan mulai berkurang. Tetapi pada waktu sekitar 500 juta tahun setelah terbentuknya Bumi (atau sekitar 2 jam 40 menit pada skala 24 jam di atas) ada ledakan jumlah meteor penabrak. Kejadian ini diperkirakan selama ratusan juta tahun, dan para peneliti menyebutnya dengan “bombardir besar terakhir”. Banyaknya kawah2 di bulan adalah bukti dari bombardir yang terakhir ini. Dalam hal ini, bulan adalah sebuah “buku sejarah” untuk Bumi dan Tata Surya.

Bumi tertabrak meteor lebih banyak dari bulan, tentu saja karena bumi berukuran lebih besar dan mempunyai gaya gravitasi yang lebih besar. Besarnya gaya gravitasi ini membuat benda – benda penabrak tersebut memiliki kecepatan yang lebih besar saat menabrak bumi. Pada saat itu mestinya terjadi bencana alam yang luar biasa di Bumi. Begitu banyaknya bombardir, membuat segala yang ada menjadi hilang. Seandainya saat itu sudah ada kehidupan, semua pasti akan musnah kecuali ada yang dapat menemukan tempat yang terlindung dari bencana global ini.

Pada saat meteor menabrak bumi, ledakan yang terjadi mengakibatkan batuan dan tanah terlempar jauh dari planet. Beberapa material terlempar jauh ke luar tata surya dan beberapa diantaranya jatuh ke bulan. Ada beberapa ratus kilogram material bumi ditemukan pada setiap 1 km2 permukaan bulan, terkubur beberapa meter dibawah tanah. Sungguh sangat menarik dapat mengambil batuan tersebut dan mendapatkan kembali sampel material bumi pada awal terbentuknya.

Tidak ada yang dapat bertahan hidup di Bumi pada periode ini karena masih adanya daur ulang tektonik permukaan bumi maupun karena udara pada atmosfir. Peneliti berusaha mendeteksi keberadaan material organik pada batuan tersebut untuk mendapatkan sejarah kimia organik di Bumi. Beberapa dari batuan tersebut membantu peneliti untuk melihat lebih jauh kembali ke data fosil, yang terhenti pada masa 3,5 milyar tahun yang lalu. Dengan cara ini, kita akan dapat mempelajari kehidupan awal di bumi.

Dengan menjelajahi bulan, kita mendapat petunjuk bagaimana bumi berkembang. Kita dapat mempelajari proses di bulan yang juga terbentuk bumi, seperti vulkanik dan tektonik. Karena bulan lebih kecil dari Bumi, pemanasan yang terjadi berkurang lebih cepat. Setelah kurang lebih 1 milyar tahun, susunan dalam bulan tidak berkembang banyak, dan perubahan permukaan bulan terjadi lebih banyak akibat tumbukan. Ada periode singkat dimana aktifitas magma membentuk permukaan dalam, sejumlah kecil magma bergerak ke atas, dan mengisi kawah2 yang baru terbentuk karena tumbukan dengan basal (basalt), membentuk apa yang disebut dengan “Maria”


QUOTE
The Lunar maria (singular: mare, two syllables) are large, dark, basaltic plains on Earth's Moon, formed by ancient volcanic eruptions. They were dubbed maria, Latin for "seas", by early astronomers who mistook them for actual seas. They are less reflective than the "highlands" as a result of their iron-rich compositions, and hence appear dark to the naked eye. The maria cover about 16 percent of the lunar surface, mostly on the near-side visible from Earth. The few maria on the far-side are much smaller, residing mostly in very large craters where only a small amount of flooding occurred. The traditional nomenclature for the Moon also includes one oceanus (ocean), as well as features with the names lacus (lake), palus (marsh) and sinus (bay). The latter three are smaller than maria, but have the same nature and characteristics.

Bulan mempengaruhi permukaan zat cair di bumi, khususnya pasang surut air laut. Bulan mempengaruhi pasang surut air laut lebih besar pada suatu tempat dibanding lainnya. Contoh : pada selat yang memisahkan Kepulauan Inggris dan Daratan Eropa besarnya pasang surut dapat mencapai 10 meter, bandingkan dengan yang ada di Pasifik yang hanya dibawah satu meter.

Daratan di bumi juga terpengaruh. Gaya pasang surut bulan menyebabkan pemanasan dan menhamburkan energi yang signifikan. Sebagian energi memanaskan bumi, sebagian lainnya digunakan untuk membuat bulan semakin menjauhi bumi dari waktu ke waktu. Ada orang yang mengemukakan bahwa pengaruh pasang surut bulan menggerakkan konveksi pada bumi yang menjadikan adanya banyak lempeng tektonik. Planet lain tidak mempunyai siklus tektonik demikian. Pada planet2 tersebut daratan seperti sebuah penutup yang tidak bergerak horisontal. Magma dan panas ditutupi oleh permukaan ini. Bumi memiliki gerakan konveksi melingkar yang menarik lapisan daratan, dan memasukkan lapisan ini kembali ke selimut magma dan di ‘daur ulang’.

Ada beberapa pengaruh tidak langsung bulan terhadap iklim dan lautan. Satu pola yang baru-baru ini ditemukan berhubungan dengan fenomena El Nino di Samudera Pasifik. Ada arus dingin bawah laut datang dari Antartika, menciptakan “arus humboldt” yang menyebabkan laut di amerika selatan di sekitar peru dan chile tetap dingin. Oleh sebab itu hanya ada sedikit awan dan penguapan disana. Suatu saat arus ini bergerak menjauh dari pantai, kemudian ada banyak awan terbentuk dan cuaca menjadi sangat buruk di amerika selatan. Satelit telah memonitor arus laut di samudera pasifik dan menemukan beberapa arus laut yang tidak diketahui sebelumnya. Arus laut ini dapat dihubungkan dengan bagaimana gaya pasang surut bulan mempengaruhi pencampuran pada kedalaman samudera. Ada misi gabungan Perancis-Amerika yang dinamakan TOPEX/Poseidon, yang secara akurat mengukur ketinggian muka air laut, menemukan ada arus laut yang lebih tinggi beberapa sentimeter. Jumlah ini terdengar tidak begitu besar, tetapi untuk seluruh luas samudera pasifik ini akan menjadi jumlah air yang sangat besar berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Apabila bulan tiba-tiba hilang, ketinggian lautan di Bumi akan berubah. Pada saat ini ada penyimpangan dimana permukaan lebih tinggi di equator. Apabila tidak ada pengaruh ini, maka seketika sejumlah air yang sangat besar akan terbagi merata ke arah kutub bumi.

Bulan juga menjadi faktor mengapa sumbu perputaran bumi menjadi stabil. Kalau anda melihat planet Mars, sumbu perputaran planet ini “bergoyang “ cukup besar karena pengaruh gravitasi dan planet2 lain di tata surya. Karena perubahan2 ini, lapisan es yang sekarang terlihat di kutub planet mars kadang2 bergeser ke equator. Tetapi bulan membantu bumi untuk tetap stabil sedemikian rupa sehingga sumbu perputaran bumi tetap sama. Karena itulah bumi memiliki perubahan iklim yang sedikit dibandingkan bumi “sendirian”. Hal ini mengubah jalan kehidupan di bumi, membuat munculnya organisme kompleks multi sel dibandingkan dengan planet dengan perubahan iklim yang ekstrem dimana hanya ada sedikit organisme yang kuat saja yang bisa bertahan hidup.

Di sisi lain bulan juga mempengaruhi aspek biologi. Bagi spesies yang hidup di pantai, pasang surut adalah faktor yang sangat penting. Kalau anda melihat sepanjang garis pantai, terlihat bentuk organisme berbeda yang beradaptasi dengan air asin berdasarkan pasang surut dari air laut.

Pandangan mata sebagian mamalia sensitif terhadap sinar bulan. Tingkat penyesuaian dari pandangan mata saat malam hari akan sangat berbeda jika tidak ada bulan. Beberapa spesies telah berkembang sedemikian rupa sehingga pandangan mereka saat malam hari dapat bekerja dengan baik meskipun dengan cahaya bulan yang lemah, karena pada saat itulah mereka menjadi sangat aktif. Tetapi mereka juga menjadi incaran predator. Oleh sebab itu, ada keseimbangan antara kemampuan untuk melihat dan kemampuan untuk tidak dilihat. Bulan sangat mempengaruhi perkembangan evolusi pada hal tersebut.

Pandangan manusia sangat sensitif sehingga kita dapat bekerja bahkan dengan cahaya dari galaksi bima sakti. Bulan purnama memberi cahaya yang lebih dari yang kita butuhkan untuk melihat pada malam hari. Pada banyak hal dalam sejarah, kita berburu , mencari ikan, bertani dan mengatur hidup kita menggunakan bulan. Bulan menentukan kapan waktu berburu, atau saat memanen. Itulah sebabnya banyak kalender kita didasarkan atas pergerakan bulan.
Dalam sebuah kegiatan yang disebut “Hubungan bumi-bulan” psikolog mendiskusikan hubungan antara fase bulan dan beberapa aspek kehidupan. Ada banyak hal hubungan yang menarik, tidak hanya kelahiran anak, tetapi juga saat merencanakannya. Mungkin itulah nilai sosial atau sentimental dari bulan. Kita coba melupakan pengaruh bulan dalam kehidupan karena ada cahaya listrik, tetapi banyak sejarah menyebutkan kita menyesuaikan perilaku kita dengan fase bulan.

Pada akhirnya, bulan memainkan peran yang penting munculnya ilmu pengetahuan, dan pada pengetahuan tentang tempat kita di alam semesta ini. Kita melihat pengulangan fenomena fase-fase bulan, kita mempelajari gerhana bulan dan matahari. Hal ini memunculkan tantangan besar untuk pengetahuan tentang alam. Dan beberapa astronom mati karena tidak dapat memprakirakan terjadinya gerhana. Sebuah tantangan untuk memprakirakan pergerakan bulan dan matahari yang lebih akurat.

Mempelajari bulan membantu kita menentukan jarak di tata surya dan ukuran benda-benda langit.. Dengan mempelajari fase bulan, sebagai contoh orang dapat menentukan jarak bulan terhadap bumi, ukuran bumi dan jarak bumi terhadap matahari. Baru-baru ini, bulan merupakan tempat dimana “lomba ruang angkasa” dilakukan antara 2 sistem politik, menjadikannya sebagai pencapaian yang luar biasa dari ilmu pengetahuan. Bulan telah menginspirasikan manusa untuk berkelana ke ruang angkasa, dan mencari kehidupan selain di bumi.

Mustofa Abi Hamid, Physics Education '09, Lampung University

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Neraca Ohaus

Contoh Proposal PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)

Stopwatch dan Ticker Timer