Kamis, 06 Mei 2010

INDAHNYA HIDUP DENGAN BERSEDEKAH

Di dalam surat At-Thuur ayat 27-28. yang dikaitkan dengan Ar-Rahiim, sebagian ulama menyatakan bahwa kedermawanan Allah itu karena sayangnya kepada hamba-Nya, bukan karena ingin sesuatu dari hamba-Nya.
Kalau kita bersikap dermawan, belum tentu dermawan karena sayang. Kita bersikap dermawan, atau bersedekah, paling buruk, mungkin karena takut dianggap pelit. Ada juga yang bersedekah supaya tidak diganggu atau direpotkan oleh peminta-minta. Sesungguhnya, memberi karena takut dianggap pelit, atau malas diganggu, lalu memberi, ini semua belum termasuk kategori dermawan. Ada yang sedekah dengan harapan imbalan. Ada orang yang dermawan karena berharap. Ada yang juga dermawan karena ingin dianggap dermawan. Dia suka sekali dianggap dermawan.

Yang baik itu adalah dermawan karena Allah. Ini adalah tingkatan yang tinggi. Sebagian kita kalau bersedekah itu ada harapan-harapan terselubung, misalnya :saya mau bersedekah nih….supaya terhindar dari musibah atau bala. Saya mau bepergian dengan pesawat, supaya pesawatnya tidak jatuh, maka saya bersedekah.

Dermawan atau bersedekah untuk suatu keinginan tertentu sebenarnya boleh-boleh saja, karena ada keterangan-keterangan tentang keutamaan atau fadilah bersedekah. Tidak salah kalau bersedekah karena ingin dilindungi Allah., karena itu memang janji Allah, dan itu juga jadi ibadah. Ada juga yang dermawan karena ingin dimampukan Allah membayar hutang, saya punya hutang sepuluh juta. Saya harus cari uang satu juta untuk saya sedekahkan. Kenapa? Karena janji Allah sepuluh kali lipat. Apakah boleh? Yah, boleh saja, karena janji Allah memang begitu. Hanya dalam hal ini ikhlas pedagang, melakukan amal dengan cara hitung-hitungan, berharap imbalan dari Allah.

Memang, seseorang beramal macam-macam niatnya. Ada yang ingin duniawi. Ada yang ingin pahala. Kenapa saudara ke Masjid? Karena pahalanya 27 kali lipat, luar biasa. Kenapa saudara shaum? Karena pahalanya tidak terukur. Kenapa saudara rajin shalat di Masjidil haram? Karena pahalanya setara dengan 100.000 kali shalat di tempat lain. Ada tipe orang yang hitung-hitungan terus jumlah pahalanya. Ini tidak apa-apa.

Ada orang yang levelnya lebih tinggi lagi. Dia tidak melulu memikirkan pahala. Tidak akan salah Allah menghitung, tidak usah ruwet mikirin pahala. Yang penting apa yang Allah suka, pasti baik untuk saya. Tidak banyak orang yang mikir tentang syurga. Tapi banyak juga yang…ah apalah artinya syurga, yang penting saya jumpa dengan Allah. Karena tidak ada kebahagiaan terbesar di akhirat kecuali bisa menatap Allah.

Kalau orang pikirannya sudah Allah. Hanya orientasinya Allah. Sudah, didunia saja sudah merasakan syurga. Orang yang hatinya selalu tertuju kepada Allah, didunia ini tidak begitu berarti baginya. Kecuali dunia ini, baru mendengar adzan saja, dia bisa dunia ini hilang. Rezeki terbesar memang ketika orang sudah Allah saja di hatinya.

Yang namanya tawadhu’, yang namanya syukur, yang namanya ikhlas, yang namanya zuhud, yang namanya wara’. Semua puncak amal itu pasti Cuma satu kekuatannya. Cukuplah Allah, hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’mal nashiir.

Nah, rekan-rekan sekalian. Kita ini termasuk kategori dermawan yang mana? Kalau kita belum mampu bersedekah harta, setidaknya mulai belajar dari hal-hal yang kecil, misalkan dermawan yang ringan dulu. Dermawan senyum. Dermawan dengan kata-kata yang memotivasi. Dermawan dengan do’a. kita agendakan do’a di dalam shalat kita. Kita ketemu pedagang Koran, do’akan, ya Allah mudah-mudahan tukang koran ini laku, berkah. Kalau melihat polisi di jalan atau perempatan jalan, do’akan agar Allah merahmatinya, memberkahi, rezekinya yang halal, dikaruniai kesehatan, dan lain sebagainya. Do’a, do’a, dan do’a. Dermawanlah dengan do’a. dermawanlah dengan perhatian. Dermawanlah dengan ilmu.

Saudaraku sekalian, saya sangat berharap setiap kita, kalau mencari uang untuk diri kita sendiri. Apa yang aneh? Kalau kita sibuk mencari nafkah untuk diri kita, keluarga kita. Apa yang aneh? Justru nilai manusia kita, kalau kita mencari bukan hanya untuk kepentingan kita, itu baru bagus. Kerja keras, makanan kita dimakan tetangga, dimakan sanak saudara, dimakan orang lain, itu baru manusia yang manfaat.

Siapa saja yang menyimak ceramah ini, jadilah pendakwah di kantor masing-masing, dikeluarga masing-masing, mulai dari hal yang sederhana. Bila masuk waktu shalat, segera langsung ke Mushalla, ajak teman shalat berjamaah. Kita tahajju, kita bangunkan keluarga kita, anak, istri, mau ke Masjid, ajak anak. Jangan shaleh tunggal. Mudah-mudahan lebih berarti dan itulah kedermawanan kita.

Mustofa Abi Hamid;
LAZIS Baitul Ummah Masjid Al-Wasi'i Universitas Lampung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar