Senin, 25 April 2011

Di Tumijajar, Dua Tewas Terkapar!

"TAK masuk akal di Tumijajar yang warganya ramah, dua warga luar kabupaten tewas terkapar oleh peluru senjata api!" entak Umar. "Tumijajar itu persimpangan strategis di Kabupaten Tulangbawang Barat dengan pompa bensin (SPBU)-nya, pertemuan jalan dari Gunungbatin (Lampung Tengah) dengan Dayamurni (tembus ke Kotabumi Lampung Utara), dan Panaragan (arah Menggala, Tulangbawang)."

"Memang tak masuk akal jika konteks masalahnya Tumijajar!" timpal Amir. "Pada kejadian yang menggemparkan itu, Tumijajar hanya sebagai tempat bentrok warga Gunungbatin, Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah, dengan aparat Polsek Tulangbawang Udik! Itu terkait tewasnya Sahab, warga Gunungbatin, oleh peluru anggota Polsek tersebut, juga tempat polisi menghadang warga Gunungbatin yang menuju Mapolsekta, menewaskan kerabat Sahab, Anton!"

"Itu dia! Berarti, baik terkait kedua korban tewas maupun pokok masalah konfliknya, sama sekali tak ada sangkut paut dengan warga Tumijajar!" tegas Umar. "Namun demikian tetap saja warga Tumijajar dirugikan nama baiknya karena jadi terkenal dengan peristiwa menggemparkan yang negatif itu, selain warganya juga trauma dijadikan arena bentrok yang menelan korban jiwa!"

"Disimak dari awal kasusnya, kerugian moril dan materiil yang diderita warga Tumijajar tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab pihak kepolisian!" timpal Amir. "Karena itu, selain tindakan formal yang telah diambil pimpinan kepolisian daerah Lampung terhadap jajarannya, rehabilitasi moriil bagi warga Tumijajar juga perlu dilakukan oleh pimpinan polisi daerah!"


"Lantas kepada warga Gunungbatin?" sela Umar.

"Harus lebih serius, apalagi jika fakta sementara benar, anggota polisi menembak tewas Sahab hanya karena kurang senang melihat gaya Sahab menggoda biduan organ tunggal!" jawab Amir. "Artinya, hanya dengan alasan sepele itu seorang anggota polisi mengeksekusi mati Sahab tanpa putusan sidang pengadilan!"


"Tapi kayaknya tak ada pendekatan basa-basi yang sebanding bagi warga atas kehilangan nyawa Sahab yang sedemikian itu!" timpal Umar.

"Tapi pendekatan hablun minannas harus tetap ditempuh agar silaturahmi sesama komponen bangsa tetap terpelihara, terutama dalam posisi polisi sebagai pengayom masyarakat!" tegas Amir. "Memang, polisi tak bisa berharap ketulusan yang penuh dari warga, namun maaf formal diperlukan karena kepolisian tak bisa menjamin putusan pengadilan atas kematian Sahab dan Anton akan memuaskan warga Gunungbatin!"

Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
University of Lampung (Unila)
Address :
BPH Al-Wasi’i
Lantai Dasar Masjid Al-Wasi’i Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
0857.6837.3366
0897.6126.033
Ph : (0721) 783044
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
m.abihamid@students.unila.ac.id

www.mustofaabihamid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar