Rabu, 26 Oktober 2011

Memaknai Musibah sebagai Sarana Muhasabah


Setiap musibah sudah digariskan dan ditentukan oleh sang Pencipta yaitu Allah SWT. Manusia tidak akan pernah tahu kapan ajal akan menjemput karena itu merupakan sebuah ketetapan dari Allah yang tiada mengetahui kecuali Allah semata. Adakalanya musibah merupakan sebuah ujian dari Allah SWT dan adakalanya pula musibah tersebut merupakan teguran atau bahkan laknat/adzab dari Allah SWT. Kala musibah sebagai ujian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya maka setiap ujian ini akan disesuaikan dengan tingkat ketakwaan seorang hamba tersebut. Sudah barang tentu manusia yang paling bertakwa akan diuji dengan ujian yang semakin berat sesuai dengan tingkatan dan kadar iman serta takwanya kepada sang Kholiq Robbul ‘Izzati. Seperti halnya seorang yang masih dalam bangku sekolah setiap level atau jenjang pendidikan memiliki instrumen ujian yang berbeda berdasarkan tingkatan jenjang pendidikan tersebut. Ujian siswa anak Sekolah Dasar (SD) akan berbeda tingkat kesukarannya dengan ujian siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), demikian halnya dengan ujian dalam kehidupan ini pasti ada tingkatan atau level. Selain sebagai sebuah ujian, terkadang musibah merupakan suatu teguran dari Allah SWT atas perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang cenderung melakukan hal-hal yang menjurus pada sebuah kemaksiatan atau kemungkaran. Bahkan yang lebih mengerikan lagi apabila musibah tersebut merupakan suatu adzab yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang tentunya adalah hamba yang ingkar, kufur, dan melanggar perintah agama. Naudzubillahi min dzalik.

            Terkait dengan hal tersebut wajib percaya bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu, menurut apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Tuhan Allah, sejak sebelumnya (zaman azali). Jadi segala sesuatu itu (nasib baik dan buruk) sudah diatur dengan rencana-rencana tertulis atau batasan-batasan yang tertentu. Tetapi kita tidak dapat mengetahuinya sebelum terjadi. Rencana sebelumnya itu Qadar atau Takdir, artinya hinggaan.

            Hal ini mengingatkan saya (penulis) pada sebuah peristiwa atau kejadian yang membuat saya kembali memperbanyak syukur dan mengingat Allah SWT. Suatu musibah yang menimpa diri saya pada saat jiwa ini terasa kosong dan hati pun terasa gamang. Kejadian itu terjadi pada hari Sabtu malam Minggu tanggal 22 Oktober 2011 ba’da shalat Maghrib, dimana saat itu ada firasat buruk dalam diri ini. Dimulai dari rasa kesal saat mencari kunci motor yang tak kunjung ketemu, dan perlu diketahui rasa kesal itu bertambah dengan rasa kekesalan yang teramat sangat kesal karena pada awalnya sepeda motor saya dipinjam oleh teman saya dan yang membuat saya kesal adalah saat teman saya tidak bertanggung jawab atas hilangnya kunci motor saya. Setelah pencarian yang lumayan lama akhirnya kunci tersebut ketemu juga dan saya pun langsung pergi dengan perasaan yang masih kosong dan tergesa-gesa karena pada saat malam itu saya harus mencari mobil mikrolet (angkot) untuk mengangkut barang-barang keesokan harinya. Di sebuah lampu lalu lintas tepatnya di lampu merah Unila sebuah insiden kecelakaan pun tak dapat terelakkan. Saya yang notabene mematuhi rambu lalu lintas namun ada pengendara mobil yang ceroboh dan menerobos lampu lalu lintas dengan kelajuan mobil yang dikendarainya sangat kencang sehingga saya pun terserempet oleh mobil tersebut. Saya pun jatuh dan lebih malang lagi saat saya sudah terjatuh, motor saya pun masih terlindas oleh sebuah mobil kijang yang juga melaju dengan kecepatan tinggi. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang saya alami. Dari kejadian itu saya kembali tersadarkan bahwa saya harus banyak bersyukur dan mengingat Allah SWT. Bisa jadi itu merupakan peringatan yang diberikan Allah SWT kepada diri saya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

مَاأَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى اَنْفُسِكُمْ اِلاَّ فِى كِتَبٍ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَبْرَأَهَا

“Tiadalah sesuatu bencana yang menimpa bumi dan pada dirimu sekalian, melainkan sudah tersurat dalam kitab (Lauh Mahfudh) dahulu sebelum kejadiannya.” (Al-Hadid: 22)

وَكُلُّ شَىْءٍ عِنْدَهُ بِمَقْدَارٍ

“Dan segala sesuatu, bagi Tuhan telah ada hinggaannya (jangkanya).” (Ar-Rad; 8).

قُلْ لَنْ يُصِيْبَنَا اِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا

“Katakanlah (Muhammad): Tiada sekali-kali akan ada bencana mengenai kami, melainkan hanya apa yang ditentukan oleh Allah bagi kami.” (Al-Baraah; 51)

وَالَّذِى قَدَّرَ فَهَدَى

“Dan (Tuhanmu) yang telah menentukan, kemudian menunjukkan.” (Al-A’la; 3)
Dari petikan ayat d atas serta paparan pengalaman saya tadi dapat diambil hikmahnya, yakni :
  1. Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
Apabila mendapat keberuntungan, maka akan menjadikannya  bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka akan bersabar, karena hal tersebut merupakan sebuah ujian dari Allah kepada hamba-Nya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an yang artinya sebagai berikut :
Artinya:”dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ”( QS. An-Nahl ayat 53).
  1. Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.
Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS.Yusuf ayat 87)
Sabda Rasulullah: yang artinya” Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya ada sebiji sawi dari sifat kesombongan.”( HR. Muslim)
3.Memupuk sifat optimis dan giat bekerja
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu.
Firaman Allah:
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al- Qashas ayat 77)
4.Menenangkan jiwa
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi.
Artinya : Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam sorga-Ku.( QS. Al-Fajr ayat 27-30)

Wallahu a'lam bisshowab..
Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
University of Lampung (Unila)

HP : 0856.6666.090
e-mail  :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar