Sabtu, 31 Desember 2011

Aksi Mahasiswa, Dua Polisi Terbakar

BANDARLAMPUNG – Aksi menuntut tindakan represif anggota Polri di Mesuji, Lampung, dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, serta Bima, Nusa Tenggara Barat, berlanjut. Kemarin, ratusan elemen mahasiswa Lampung nglurug ke Mapolda Lampung.


Mereka terdiri dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Bandarlampung, AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) Lampung, dan LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) Lampung. Aksi ketiga elemen tersebut menuntut pihak kepolisian untuk menaati peraturan HAM (hak asasi manusia), berantas mafia kepolisian, menghentikan tindakan represivitas kepolisian, dan menurunkan Timur Pradopo dari jabatannya sebagai Kapolri.

Ketua Umum HMI Bandarlampung Fitra Alfarisi mengatakan, kedatangannya bersama puluhan anggota HMI dari berbagai komisariat ke mapolda untuk mengaspirasikan kasus yang menimpa rakyat di Papua, Mesuji, dan Bima.
’’Peristiwa ini merupakan fenomena pelanggaran HAM di Indonesia yang dilakukan oleh pihak kepolisian, yang seharusnya sebagai pelayan rakyat, justru menjadi pelayan perusahaan sehingga menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat terhadap institusi kepolisian,’’ tegasnya.

Salah satu bentuk aksi solidaritas HMI terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan polisi, Fitra memberikan sebuah karangan bunga yang diterima oleh Kapolresta Bandarlampung AKBP M. Nurochman.
Hal serupa diungkapkan Ketua Umum LMND Lampung Isnan Subhki. Dirinya mengecam aksi yang dilakukan aparat kepolisian, yang diduga telah menembak anggota LMND di Bima.
’’Kami meminta Kapolri turun dari jabatannya karena tidak bisa memberikan solusi terhadap pelanggaran HAM di Indonesia,’’ tandas dia.
Sementara aksi brutal terjadi saat Antoniyus Cahyalana selaku koordinator lapangan dari AMM menyampaikan orasinya, yang menuntut Kapolri Timur Pradopo dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun dari jabatannya.

Sebagai bentuk solidaritas, AMM dalam aksinya membawa sebuah keranda kematian berwarna putih yang ditaruh di depan gerbang Mapolda Lampung. Keranda yang terbuat dari bambu, kayu, dan kain tersebut dibakar karena menurutnya, kepemimpinan yang dipegang baik oleh Presiden SBY-Boediono maupun Kapolri Timur Pradopo tidak bisa menuntaskan masalah HAM.

’’Kami sudah diintimidasi oleh perusahaan asing, baik Freeport maupun Silva Inhutani. Saat ini rakyat Lampung khususnya telah ditindas dalam peristiwa di Mesuji. Sedangkan aparat kepolisian bukannya membela rakyat Lampung, malah diduga telah membekingi pihak perusahaan,’’ pekiknya dalam orasi di depan mapolda.

Saat akan membakar keranda tersebut, salah satu anggota AMM menyiraminya dengan bensin yang disimpan di dalam botol. Aksi tersebut sempat dihalangi aparat. Tetapi, AMM dengan cepat menaburi keranda itu dengan bensin dan akhirnya terbakar saat salah satu anggota AMM melempar api ke arah keranda.
Pembakaran keranda itu membuat dua anggota polisi, yaitu AKP Tantowi Darsyah selaku komandan Kompi Pengendalian Massa (Danki Dalmas) Polresta Bandarlampung dan Brigpol Sunandar selaku anggota Intelkam Polresta Bandarlampung, mengalami luka bakar.

Sumber dari kepolisian menyebutkan, Tantowi mengalami luka bakar ringan di bagian kiri tubuhnya dari tangan, badan, kaki, bahkan sampai celana sebelah kiri di bagian dengkul robek akibat terbakar. Sedangkan Sunandar yang saat itu menggunakan pakaian preman mengalami luka ringan di bagian wajah hingga matanya perih terkena asap dan semburan api yang berasal dari keranda.
Melihat kedua anggota terkena api, aparat lainnya membubarkan aksi tersebut, hingga Kapolresta Bandarlampung pun turun tangan. Namun, pembubaran tidak menggunakan kekerasan dikarenakan AKBP M. Nurochman melarang anggotanya untuk melakukan kekerasan.

Nurochman mengatakan akan menindak tegas pelaku pembakaran keranda hingga menyebabkan dua anggotanya mengalami luka bakar. ’’Kami akan proses hal ini. Semua barang buktinya sudah kami simpan. Kami akan memanggil orang-orang yang telah mengikuti aksi tersebut. Jika sudah ada yang terluka, artinya ini sudah masuk ke dalam tindakan yang kriminal dan kami akan menangkap orangnya,’’ tegas dia.

Sehari sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Lampung Utara menggelar aksi di Bundaran Tugu Payan Mas. ’’Kami mengutuk tindakan kekerasan aparat keamanan terhadap rakyat Mesuji dan Bima,’’ ujar seorang pendemo dalam pernyataan sikapnya.
Sementara itu, Pemkab dan DPRD Mesuji angkat bicara terkait isu pembantaian warga yang digulirkan Lembaga Adat Megou Pak dan Ketua Tim Advokasi Warga Mesuji Mayjen (pur.) Saurip Kadi.

Penjabat (Pj.) Bupati Mesuji Albar Hasan Tanjung mengatakan, pembantaian tidak pernah ada di kabupaten yang baru mekar pada 26 November 2008 tersebut. ’’Jumlah korban juga telah dimanipulasi. Mana ada warga yang dibantai sebanyak 30 orang. Ini tidak benar,’’ tegasnya kemarin.

Menurut alumnus Akmil 1984 ini, tragedi Mesuji, Lampung, hanya ada di dua lokasi, yakni penertiban perambah di kawasan hutan Register 45 Sungai Buaya dan sengketa lahan plasma yang melibatkan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) dengan warga Sritanjung; Keagungandalam; dan Nipahkuning. ’’Kalau soal Register 45 melibatkan PT Silva Inhutani Lampung. Dan permasalahannya ditangani tim terpadu perlindungan hutan Provinsi Lampung,’’ paparnya.
Meski begitu, lanjut Albar, jumlah korban di dua lokasi kejadian perkara itu tidak sebanyak 30 orang. ’’Hanya dua warga yang terkena tembakan aparat. Satu di Register 45 dan satunya di PT BSMI,’’ beber mantan Kasatpol PP Lampung ini.
Albar meminta pihak-pihak yang menyebutkan pembantaian di Mesuji, Lampung, segera memperbaiki nama baik kabupaten yang berada di ujung selatan Sai Bumi Ruwa Jurai ini. ’’Sebenarnya ada sisi positif dan negatifnya dengan pemuatan berita pembantaian itu. Tetapi yang paling banyak sisi negatif. Misalnya investor jadi takut menanamkan investasinya di Mesuji. Sedangkan positifnya, Mesuji dikenal pemerintah pusat dan dunia internasional,’’ kelakarnya.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Mesuji Eddi Anwar menyatakan, sejumlah pihak telah mencoreng nama Mesuji sebagai kabupaten baru yang dicap mengerikan bagi para pengusaha. ’’Jangan dicoreng nama baik Mesuji. Sebab, rakyat Mesuji baik-baik saja sampai saat ini,’’ katanya.

Masyarakat Mesuji, sambung Eddi, setiap harinya kondusif dalam melaksanakan aktivitasnya sebagai petani. Ia menyesalkan pemberitaan media nasional yang menyebutkan Mesuji menjadi lokasi pembantaian dengan jumlah korban sebanyak 30 orang. ’’Ini harus diluruskan, karena menyangkut masa depan kabupaten ini di kemudian hari. Kita tentunya tidak ingin investor trauma menanamkan investasinya karena isu pemberitaan tidak proporsional tersebut,’’ tegas kader Demokrat ini.
Karenanya, tambah Eddi, Fraksi Demokrat DPRD Mesuji mendesak pemkab setempat dan pemerintah pusat meluruskan pemberitaan yang beredar selama ini. ’’Pihak-pihak yang menggulirkan isu ini juga harus bertanggung jawab. Mereka jangan menebar isu tanpa bisa membuktikannya,’’ pungkas dia.


Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
University of Lampung (Unila)
Address :
BPH Masjid Al-Wasi’i Kampus Universitas Lampung
Lantai Dasar Masjid Al-Wasi’i Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
0857.6837.3366
0897.6126.033
Ph : (0721) 783044
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
m.abihamid@students.unila.ac.id

www.mustofaabihamid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar