Minggu, 22 Januari 2012

Di Balik Kesuksesan Rumah Tangga Muhammad dan Khadijah

Orang yang sukses memimpin umat atau bangsa diawali dengan kesuksesannya memimpin keluarganya. Logikanya bagaimana bisa sukses memimpin umat bila memimpin keluarganya saja tidak mampu. Rasulullah berhasil memimpin keluarganya meski umurnya terpaut jauh lebih tua usia Khadijah. Muhammad tetap menjadi kepala keluarga (qawwam) yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Padahal jika kita melihat pada kasus-kasus tertentu, bagi kebanyakan orang saat ini, perbedaan status dan usia seringkali membuat perempuan mengambil alih kepemimpinan keluarga, yang seharusnya kepala keluarga adalah suaminya meski umur terpaut jauh.


Perkenalan dengan Khadijah
Khadijah mempunyai nama lengkap Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay bin Kilab. Beliau merupakan keturunan Quraisy yang terkemuka dan kaya raya. Beliau merupakan perempuan pengusaha sukses dalam bisnisnya.
Muhammad sudah sejak lama terkenal sebagai Al Amin karena kejujurannya. Kepiawaiannya berdagang sudah masyhur di seantero Mekah. Wajar saja, Muhammad belajar bisnis sejak kecil bersama Abu Thalib, pamannya. Hal ini ditambah dengan sifat jujur dan amanahnya. Sehingga berita tersebut membuat Khadijah meminta Muhammad menjadi pegawainya.

Awal perkenalan Muhammad dengan Khadijah adalah tatkala Muhammad membawa barang dagangannya ke Syam. Dalam hal ini, Khadijah menjadi shahibul mal (pemilik modal), sedangkan Muhammad sebagai mudharib (pengelola bisnis).
Khadijah sangat tertarik dengan kepribadian yang dimiliki Muhammad. Tutur katanya yang lembut, sifatnya yang jujur, dan keteguhannya dalam memegang janji, menjadikan Khadijah memberanikan diri melamar Muhammad, meski terpaut usia yang cukup jauh antara keduanya. Usia Muhammad pada waktu itu adalah 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah 40 tahun.

Sebelum menjadi janda, Khadijah telah menikah sebanyak dua kali. Suami Khadijah yang pertama bernama Atik bin A’id al Makhzumi. Dari pernikahan pertama ini lahir seorang anak perempuan. Setelah ditinggal wafat suami pertamanya, Khadijah menikah kembali dengan Abu Halah bin Nibasy at-Tamimi. Dari Abu Halah, lahir seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Khadijah kembali ditinggal wafat oleh suami keduanya ini.

Khadijah melamar Muhammad
Khadijah mengutus Maesaroh, seorang budak laki-laki untuk melamar Muhammad. Muhammad belum menikah dengan siapapun sebelumnya, karena itu Khadijah adalah istri pertama beliau. Lalu Khadijah menikahi Muhammad dengan wali Amr bin As’ad, paman Khadijah.

Pelajaran (ibrah) dari peristiwa ini adalah perempuan sebenarnya boleh menyampaikan keinginannya melamar laki-laki, tentunya tetap dengan cara-cara yang baik. Hal ini diperkuat dengan suatu riwayat ketika istri Anas bin Malik mendengar seorang perempuan yang ingin melamar seorang laki-laki. Istrinya tidak sengaja mengatakan bahwa seharusnya perempuan tersebut bisa menahan diri. Namun suaminya Anas bin Malik justru mengatakan tindakan perempuan tersebut adalah terpuji, sebab ingin melakukan suatu kebaikan.

Pernikahan bahagia
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah berlangsung 25 tahun. Karena pada umur sekitar 65 tahun, Khadijah wafat. Khadijah merupakan istri yang paling disayang oleh Rasulullah. Bahkan setelah di Madinah, Rasulullah selalu teringat dengan Khadijah, sehingga Aisyah seringkali cemburu. Selama menjalani pernikahan dengan Khadijah, Muhammad tidak pernah menikah lagi dengan perempuan mana pun sampai Khadijah meninggal dunia.

Khadijah adalah lambang ketulusan dan tempat Muhammad menemukan ketentraman dan kedamaian dari segala kegelisahan yang dihadapinya. Khadijahlah yang menentramkan hati Muhammad ketika beliau dilanda kekhawatiran yang sangat besar saat bertemu pertama kali dengan malaikat Jibril di gua Hira.
Anak-anak Rasulullah dari Khadijah

Menurut kesepakatan ulama ahli sejarah, rumah tangga Muhammad dan Khadijah dikaruniai dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Anak pertama beliau adalah Qasim. Hal ini karena Rasulullah sering dipanggil Abal Qasim atau ayahnya Qasim. Qasim sendiri wafat pada usia 2 tahun.
Anak berikutnya adalah Zainab. Zainab sempat menikah dengan pria musyrik Quraish ketika Muhammad berusia 35 tahun, atau lima tahun sebelum kenabian.
Anak berikutnya adalah Ruqayyah. Ruqayyah menikah dengan Utsman bin Affan. Pada tahun kedelapan Hijriyah, Ruqayyah wafat. Utsman kemudian dinikahkan dengan putri Rasulullah berikutnya yaitu Ummu Kulsum. Ini sebabnya Utsman bin Affan mendapat gelar Dzunnurain atau pemilik dua cahaya. Hal ini karena Utsman menikahi dua putri Rasulullah.

Perlu dicatat dalam syariat Islam, menikahi dua perempuan bersaudara secara bersamaan hukumnya haram. Hanya saja Utsman menikah dengan Ummu Kultsum setelah Ruqayyah (kakak Ummu Kultsum) wafat. Jadi pernikahannya tidak dalam satu waktu. Putri Rasulullah yang terakhir adalah Fatimah. Fatimah ini menikah dengan anak paman Rasulullah, yaitu Ali bin Abi Thalib.
Sedangkan anak terakhir dari Khadijah bernama Abdullah yang berjuluk At-Thahir yang berarti yang suci. Nama ini disematkan karena dia dilahirkan pada masa Islam. Umur Abdullah tidak lebih lama dari Qasim, hanya sekitar 1 tahun 10 bulan atau kurang.

Selain dari Khadijah, Rasulullah pun memiliki anak dari Mariah Qibtiyah yang bernama Ibrahim. Namun umurnya pun tidak lama, hanya dua tahun.
Ada hikmah dibalik kematian seluruh putra Rasulullah. Apabila kita melihat sejarah para nabi, kebanyakan putra para nabi menjadi nabi juga, seperti nabi Daud dengan putranya nabi Sulaiman, nabi Ibrahim dengan putranya nabi Ismail dan nabi Ishaq, dan nabi Zakaria dengan putranya nabi Yahya. Kematian putra-putra Rasulullah menutup kemungkinan kaum muslimin mengangkat putra-putra Rasulullah menjadi nabi, karena Muhammad sendiri adalahkhatamman nabiyyin atau penutup para nabi.

Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
University of Lampung (Unila)
Address :
BPH Masjid Al-Wasi’i Kampus Universitas Lampung
Lantai Dasar Masjid Al-Wasi’i Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
0897.6126.033
Ph : (0721) 783044
Twitter : @mustofaabihamid
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
m.abihamid@students.unila.ac.id

www.mustofaabihamid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar