Senin, 23 Januari 2012

POLITISASI KAMPUS (Hasil Penelitian di Kampus UNILA)

BAB I   Pendahuluan
1.1       Latar Belakang
Ketika mendengar dan membaca tentang kiprah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), pasti di dalam benak kita tersirat begitu fenomenalnya partai ini. Pada kiprah pertamanya di pemilu 1999 PKS yang awalnya bernama PK mampu meraih 1.436.565 suara atau sekitar 1,36% dan menempatkan 7 wakilnya di parlemen.
Dan ketika banyak pengamat dalam pemilu 2004 yang lalu masih meragukan kemampuan PKS, partai ini mampu membuktikan eksistensi-nya dengan  meraih 7,34 % suara atau 8.325.020 suara. PKS pun berhasil menambah jumlah kursi di parlemen sebanyak 45 orang dan berhasil menjadikan Hidayat Nurwahid (Presiden PKS saat itu) sebagai ketua MPR menggantikan tokoh Islam lainnya, Amin Rais.

Di kancah politik lokal kader-kader PKS pun mampu meraih sukses, sukses kemenangan pilkada Jawa Barat dan Sumatrera Utara adalah salah satu contohnya. Selain itu PKS pun mampu menang di pilkada kota-kota strategis seperti Depok,Bekasi dan Tanggerang. Walaupun kalah di pilkada Jakarta, namun secara jumlah pemilih yang menjatuhkan pemilih nya pada kader PKS Adang-Dani lebih besar dari perolehan PKS dalam pemilu legislatif 2004 yang lalu.

PKS menjadi fenomena selain karena peraihan suara yang signifikan baik di nasional maupun lokal,  namun juga dikarenakan citra kader yang muda, bersih dan peduli. Di tengah bobrok nya moral anggota DPR akibat korupsi, dan berbagai skandal lainnya, PKS tercatat  sebagai partai yang tidak memiliki track record berhubungan dengan kasus korupsi dan skandal yang memalukan.

Kader-kader PKS juga dikenal sebagai kader yang militan dan sangat peduli terhadap bencana-bencana alam yang dihadapi bangsa ini. Militansi itu dapat dilihat dari seringnya kader PKS turun di kancah bencana baik tsunanmi Aceh, banjir Jakarta, maupun  gempa bumi di Papua.
Kader PKS lah pelopor kampanye dor to dor (direct selling) yang tidak pernah dilakukan oleh kader partai manapun dalam sejarah perpartaian di negeri ini. Anak-anak muda tersebut tanpa dibayar mendatangi rumah penduduk hanya untuk menawarkan perubahan melalui partai mereka.

Citra PKS yang militan dan Islami tidak terlepas dari mana mereka berasal. Umumnya kader PKS adalah berasal dari anak-anak muda mahasiswa dan lulusan kampus ”sekuler” yang tersebar di seluruh Indonesia.  Hubungan antara PKS dan kampus kemudian menimbulkan sorotan tentang bagaimana PKS  menjadikan kampus sebagai basis gerakannya.

PKS secara basis massa memang berangkat dari  Lembaga Dakwah Kampus (LDK) sebuah gerakan mahasiswa revivalisme Islam yang kemudian  menamakan diri mereka aktivis tarbiyah atau Jemaah Tarbiah. Fenomena Lembaga Dakwah Kampus (LDK)dan PKS adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Basis massa PKS adalah (LDK)  dan di sanalah PKS dilahirkan. Namun di sisi yang lain kehadiran PKS di kampus sering dipermasalahkan banyak orang, apakah ini adalah sebuah politisasi kampus? Padahal kampus adalah milik publik dibiayai oleh uang mahasiswa dan negara,  yang harus disterilkan dari kepentingan individu, kelompok dan partai politik tertentu. Menjadi menarik untuk diketahui adalah bagaimana aktivis-aktivis PKS di kampus dan dalam kasus ini adalah di Universitas Lampung memposisikan diri mereka dalam merekrut kader dan tentu saja mencitrakan PKS di publik kampus dengan cara-cara yang elegan agar tidak dicap sebagai sebuah bentuk politisasi kampus.

Selain permasalahan perekrutan kader, LDK pun disorot akan penguasaan mereka terhadap lembaga formal mahasiswa seperti student goverment yang lebih dikenal dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di seluruh kampus negeri di Indonesia termasuk UNILA sejak dekade akhir 90’an  . Sorotan itu muncul karena seringkali timbul analis-analis bahwa BEM seringkali dimanfaatkan PKS sebagai alat PKS dalam membentuk opini publik demi kepentingan politik praktis PKS, namun dalam bingkai opini akademis mahasiswa yang tulus dan ilmiah.

Bukti akan adanya politisasi BEM kencang terdengar ketika DPR termasuk di dalamnya ingin memakzulkan presiden Abdurahman Wahid. Benturan antar gerakan mahasiswa pun terjadi. BEM dituduh sebagai alat elite PKS untuk menjatuhkan Gus Dur dari luar palemen.

Pada pemilu 2004 yang lalu kencang terdengar isu intruksi DPP PKS agar gerakan-gerakan mahasiswa formal kampus seperti BEM mengadakan sebuah program untuk mencari pendukung dari pemilih-pemilih pemula melalui program voter education ke SMA-SMA di seluruh Indonesia. Dengan bingkai voter education  diselipkanlah ajakan untuk memilih PKS pada pemilih pemula tersebut. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran banyak pihak, termasuk para elemen mahasiswa, dosen dan tentu saja masyarakat non PKS. Bagaimana dengan pemilu 2009? Apakah modus tersebut terjadi lagi?

1.2       Perumusan Masalah
Pertanyaan yang pasti hadir di benak seorang aktivis gerakan mahasiswa dan mungkin mahasiswa umumnya yang tidak dikatagorikan aktivis adalah apakah ada hubungan antara PKS dan LDK. Sejauh mana PKS memengaruhi kebijakan LDK, BEM dan KAMMI dalam setiap isu gerakan yang mereka munculkan?

Keberadaan LDK dalam menyebarkan ideologi Islamisme dan revivalisme Islam dalam setting politik orde baru yang hegomonic party system sebelum mereka bermetamorfosis menjadi PK lalu PKS tentulah bukanlah masalah yang berarti. Namun hal ini tentu saja berbeda jika LDK berada dalam setting tarik manarik dengan kepentingan PKS partai yang dilahirkannya dalam sebuah kontestasi politik seperti pemilu.
Di dalam kondisi kepentingan politik meraih suara sebesar-besarnya dan tetap memperkuat basisnya di kampus, PKS dihadapkan pada permasalahan apakah lazim jika kampus dimanfaatkan untuk kepentingan politik? Untuk itu timbullah pertanyaan-pertanyaan penelitian:
1.         Bagaiamana model hubungan PKS dan LDK pasca orde baru saat ini, sebuah era di mana persaingan politik dilakukan secara fair dan menuntut sebuah keadilan dan menolak kecurangan dalam bentuk politisasi lembaga-lembaga publik seperti Universitas Lampung (UNILA)?

2.         Sejauh mana PKS memengaruhi kebijakan-kebijakan LDK dan BEM dalam setiap isu gerakan  dan program yang mereka munculkan?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.         Untuk menjelaskan model hubungan antara PKS dan lembaga Dakwah Kampus (LDK) dalam konteks politik pasca orde baru di mana dituntut sebuah kontestasi politik yang adil tanpa ada sebuah politisasi lembaga-lembaga negara milik publik seperti Universitas Lampung (UNILA). Termasuk dalam hal ini √°dalah usaha PKS untuk merekrut kader-kader  baru dalam usaha tetap mempertahankan kampus sebagai basis utamanya.

2.         Selanjutnya penelitian ini juga ingin menggali seberapa jauh LDK dan lembaga Formal Mahasiswa (BEM) dipengaruhi oleh PKS dalam kebijakan-kebajikannya.

3.         Dalam level kebijakan diharapkan penelitian ini dapat memberi rekomendasi kepada pemerintah dalam hal ini mendiknas dan tentu saja rektorat UNILA dalam rangka mencegah politisasi kampus.  Kampus diharapkan tetap netral terhadap semua partai politik, namun tetap kritis dalam bingkai akademis.

Bab II Tinjauan Pustaka
Untuk membingkai penelitian ini peneliti menggunakan beberapa konsep dan teori yaitu: proses Islamisasi (santri baru) , tujuan gerakan (revivalisme Islam), dan dinamika gerakan (Islamisme). Namun bab ini akan didahului dengan tinjauan tentang studi-studi tentang PKS sebelumnya.

2.1 Studi-studi Sebelumnya
Studi tentang PKS  setidaknya di bagi atas dua arus utama. Pertama, studi yang berasal dari kalangan internal partai seperti Furqon (2004) yang melihat ideologi dan ”kepemudaan” PKS,  Abu Ridlo (2003) yang memberi landasan syar’i tentang mengapa PKS berdakwah di politik formal, Agus (2005) yang mengaji bagaimana Jamaah Tarbiah harus berpolitik formal dalam setting otonomi daerah, Annis Matta (2002) yang melihat demokrasi bagi PKS hanyalah alat untuk mencapai ”tujuan”.

Sejauh ini, berbagai buku tentang PKS tersebut lebih banyak didominasi oleh buku-buku yang lebih bernuansa pujian dan pembelaan kalau tidak dikatakan kampanye. Namun studi yang secara khusus mengaji model hubungan antara PKS dan LDK serta BEM belum pernah ada.

Arus utama yang kedua adalah dari kalangan eksternal. Studi tentang PKS yang melihat dari kaca mata orang luar terutama dengan pisau analis orientalis yang terbaru adalah studi yang dilakukan oleh M.Imdadun Rahmat (2008). Imdadun memfokuskan pada bassis dan ideologi PKS yaitu Ikhwanul Muslimin yang menurutnya kontra produktif terhadap nation-state, demokrasi dan pluralisme. Imdadun mampu memasuki ranah ter-dalam ideologi PKS dan mencurigai PKS memiliki hidden agenda yaitu berupa penerapan syariah Islam yang sempit dan pembentukan negara Islam dan khilafah Islamiah yang sejalan dengan cita-cita gerakan revivalisme Islam yang lain seperti Hizbut Tahrir (HT).

Studi tentang PK (waktu sebelum menjadi PKS) sebagai metamorfosis gerakan sosial keagamaan yang berbasis di kampus yang kemudian ber-transformasi menjadi partai poltik pertama kali ditulis oleh Ali Said Demanik (2000)sebuah buku yang merupakan skripsi penulis di jurusan sosiologi Universitas Indonesia. Buku ini merupakan buku wajib bagi kader PKS untuk mengetahui perkembangan Jamaah Tarbiah dari sudut kajian akademis.

Selain itu PKS terutama Ideologi Ikhwanul Musliminnya dikritik pula oleh gerakan Islam yang lain dari sudut pandang manhaz salafiah (Al Atsary: 2004). Studi ini banyak merujuk ke pendapat-pendapat ulama di Timur Tengah tentang IM. Ikhwan pun dikatogorikan sebagai gerakan Islam yang menyimpang dari ajaran ahlus sunnah wal jama’ah.

2.2 Santri Baru
Studi pertama tentang LDK secara khusus pada masa orde baru pernah dilakukan oleh Abdul Gaffar Karim (2006) dalam tessinya ketika menyelesaikan program master di Flinders University yang melahirkan istilah ”santri baru” sebagai sebuah varian baru dari tessis terkenal masyrakat Jawa oleh Clifort Gertz ( 1952 ) Priyayi, Santi, Abangan.

Santri Baru adalah kelompok masyarakat muslim yang umumnya berangkat dari latar belakang keluarga non santri lalu mengalami islamisasi ketika mereka memasuki bangku perkuliahan. Islam yang mereka kenal berbeda dengan islam tradisional yang dikenal di kalangan Nahdhiyin dan juga islam  modernis yang umumnya dikenal di kalangan Muhammadiah. Berbeda dengan HMI yang merupakan gerakan mahasiswa muslim modernis dan PMII yang tradisionalis, para mahasiswa ini justru bersentuhan dengan ajaran-ajaran revivalisme Islam  Ihkwanul Muslimin (IM) yang didirikan oleh Hasan Al Banna dan dipopulerkan oleh Sayid Qutub.

Ideologi IM dalam perjalanannya masuk ke Indonesia melalui sarjana-sarjana lulusan timur tengah. Ideologi IM ini kemudian di-transfer ke LDK-LDK di seluruh Indonesia termasuk di Universitas Lampung. Selanjutnya IM menjadi ideologi LDK,BEM, KAMMI dan selanjutnya PKS (Imdadun:2008). Bahkan ulama terkenal timur tengah dan sekaligus tokoh IM terkemuka Yusuf al Qordhowi (2001) mengatakan bahwa PKS adalah perpanjangan tangan dari IM. Ideolgi trans-nasional IM ini mengingatkan kita pada kiprah PKI sebagai sebuah partai perpanjangan tangan komintern atau partai komunis internasional.  PKS pun sering  tidak sering menjadi korban black campaign pesaing politiknya dengan disamakan dengan PKI dikarenakan pola gerakan sistem sel dan pola ideologi trans-nasional mereka yang sama.

Karim dalam studi ini lebih memfokuskan pada islamisasi dalam tubuh aktivis Jamaah Salahudin sebuah prototype LDK yang berada pada kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Setting tentang studi ini adalah era orde baru ketika dimana PKS belum lahir. Dan penelitian ini diharapkan dapat menjawab setting LDK pasca orde baru di mana PKS telah hadir sebagai kekuatan partai politik yang berbasis pada kampus.

2.3 Revivalisme Islam
Selain dari Islamisasi fenomena PKS dan LDK juga dapat  dilihat dengan perspektif tujuan dari gerakan Islam tersebut yang dikenal dengan term revivalisme Islam. R. Hrair Dekmejen (2001) dan Jhon L. Esposito (1987) menggunakan term revivalisme Islam untuk menunjuk fenomena munculnya gerakan keagamaan Islam kontemforer di Timur Tengah yang mencita-citakan kebangkitan Islam kembali seperti kejayaannya di masa lalu.

PKS sering dikatagorikan sebagai salah satu gerakan revivalisme (kebangkitan) Islam selain HT, Salafy dan lain sebagainya. Konsep revivalisme Islam dinilai tepat untuk mengkerangkai penelitian ini dikarenakan PKS merupakan bagian dari gelombang gerakan kebangkitan Islam yang muncul di awal abad 20 setelah runtuhnya supremasi politik Islam sedunia, khilafah Islamiah.

Gerakan revivalisme bercita-cita untuk membuat Islam kembali bangkit seperti masa kejayaannya dari keterpurukan yang melanda saat ini. Kolonialisme disinyalir merupakan sebab terpecah-pecahnya umat Islam ke dalam berbagai sekat-sekat negara-bangsa bentukan penjajah.

Gerakan revivalisme Islam tidaklah monolitik. Di dalam praktisnya mereka berbeda-beda dalam jalan perjuangan dan prioritas gerakan. Ikhwanul Muslimin (IM) yang dianggap se-ideologi dengan PKS, misalnya mencoba untuk berdialog dengan konsep modernisasi politik seperti parlemen, partai politik, pemilu dan sebagainya. IM beranggapan strategi dakwah politik di parlemen adalah salah satu cara dalam menegakkan syariat Islam, daulah Islamiah dan tujuan akhirnya adalah khilafah Islamiah tanpa meninggalkan sisi dakwah atau perbaikan secara kultural.

Hizbut Tahrir melihat bahwa masuk ke parlemen adalah perbuatan yang sia-sia. Yang dibutuhkan saat ini adalah pendidikan umat Islam (tarbiah) yang intensif secara kultural tentang pentingnya penegakan khilafah Islamiah. Sikap  penolakan terhadap konsep-konsep demokrasi modern seperti pemilu, parpol demokrasi dan lain sebagainya adalah bagian penting bagi mereka karena konsep demokrasi tidak sesuai dengan Islam dan berangkat dari sistem yang kufur.

Jamaah Tabligh agak berbeda. Gerakan yang  berangkat dari gerakan sufi di India ini melihat permasalahan umat saat ini adalah pada lemahnya amal ibadah dan merajalela-nya kemaksiatan. Sehingga mereka beranggapan bahwa kebangkitan Islam dilakukan dengan cara peningkatan amal ibadah dan perbaikan akhlak setiap individu muslim.

Salafy adalah kelanjutan dari gerakan wahabi di tanah Hijaz, Saudi Arabia. Salafy merujuk dari kata salaf yang berarti pendahulu khusus tiga generasi awal Islam. Salafy pada lebih dikatakan sebagai manhaz atau metodologi memahami Islam sesuai dengan pemahaman sahabat, ulama-ulama salaf dari kalangan tiga generasi awal Islam. Selanjutnya salafy berubah menjadi gerakan dakwah dengan sokongan dana yang besar dari pemerintah kerajaan Saudi Arabia.  Gerakan ini memandang bahwa lemahnya tauhid dan merajalela-nya syirik serta jauhnya umat dari sunnah dan merebak-nya bid’ah adalah permasalahan utama umat dewasa ini. Islam akan bangkit bukan dengan masuk ke dalam sistem politik atau pun memprioritaskan pendirian khilafah namun dengan cara mendidik umat dalam perbaikan akidah dan ibadah agar sesuai dengan pemahaman Islam generasi awal.

2.4  Islamisme
Teori berikutnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang Islamisme dan Neo-Fundamentalisme. Berbeda dengan revivalisme Islam, term Islamisme merujuk pada cita-cita penegakan syariat Islam dengan jalan-jalan politik formal. Sedangkan, Neo-fundamentalisme adalah term untuk menjelaskan pergeseran ideologi dalam gerakan revivalisme Islam.

Oliver Roy (1994) dalam AE Priyono (2003), menggunakan tema Islamisme untuk merujuk gerakan Islam yang bercita-cita dalam menegakkan syariat Islam. Roy juga menjelaskan bahwa gerakan Islam yang kemudian menjadikan politik praktis sebagai bagian dari strategi disebut dengan neo-fundamentalisme.
Roy menjelaskan bahwa Neo-Fundamentalisme terjadi ketika kelompok revivalisme Islam ini masuk ke rana politik praktis. Selanjutnya kelompok ini meninggalkan karakter awalnya sebagai gerakan revolusioner dan bergeser ke arah yang lebih moderat untuk mencari jumlah massa yang banyak dalam usaha memenangkan pemilu. Dalam studi empiris nya Roy menyebutkan gerakan Ikhwanul Muslimin, Jama’ati Islami di Pakistan, Islamic Salvation Front (FIS) di Alzajahir sebagai proto type Islamisme dan Neo-Fundamentalisme  ini.


Bab III. Metode Penelitian
3.1 Lokasi  dan Fokus Penelitian
Penelitian ini direncanakan hanya berlokasi di kampus Universitas Lampung di mana tersebar Lembaga Dakwah Kampus baik tingkat Universitas (Birohmah) dan fakultas (FOSSI di FT dan FH, FSPI di FISIP, FPPI di FKIP, ROIS di FMIPA dan FE, FOSI di FP serta FSI di FK). Selain LDK di UNILA pun terdapat lembaga formal kampus seperti BEM KBM yang dikuasai oleh aktivis-aktivis LDK.

Alasan pragmatis memilih UNILA dikarenakan permasalahan ini adalah fenomena di sekitar peneliti dan kebetulan kedua peneliti memiliki latar belakang hubungan dengan gerakan mahasiswa di Universitas Lampung yang intensif. Walaupun hanya di lokal UNILA, penelitian ini bisa juga digunakan dalam melihat model dan pola hubungan yang sama antara PKS dan Lembaga Formal lain di kampus lain di seluruh Indonesia. Hal ini terjadi karena fenomena ini adalah fenomena nasional terutama di kampus-kampus PTN “sekuler” non IAIN.

3.2 Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif walaupun penelitian ini juga akan menggunakan data-data kuantitatif namun hanya sebatas penyajian data. Peneliti memilih metode kualitatif dikarenakan penelitan tipe ini lebih membuat kita lebih eleboratif serta eksploratif dan tidak terkungkung dalam kungkungan teori deduktif seperti dalam penelitian kuantitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif dirasa cocok untuk studi tentang gerakan Islam  yang sifatnya agak tertutup karena pola langkah-langkah penelitian yang induktif dan  teknik pengumpulan data nya yang efektif (Lawrence Neuman: 2003).

3.3 Data Penelitian
Data dari penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, focus group discusion.Selain itu data-data primer juga berupa hasil dokumentasi organisasi seperti program kerja, publikasi, majalah internal, majalah dinding dan sebagainya. Sedangkan data-data pendukung  diperoleh dari laporan media massa, jurnal,browsing internet dan literatur-literatur lain yang relevan dengan penelitian ini.

3.4 Teknik Memperoleh data
Wawancara dibangun dengan dalam sebuah deep inteview dan tidak ter struktur untuk lebih memberikan responden kesempatan lebih bebas memaparkan pengalaman dan opini nya ketika mereka terlibat aktif di objek penelitian (Denzin:1994). Untuk mencegah anggapan peneliti sebagai ”orang luar” dan memiliki ”agenda tersembunyi ”, maka peneliti merasa perlu untuk menjadi bagian dari objek penelitian dengan ikut dalam pengajian-pengajian dan acara-acara yang dilakukan LDK dan BEM. Selain itu latar belakang peneliti yang merupakan mantan aktivis LDK dan BEM dirasa sangat membantu penelitian ini agar tidak timbul kecurigaan-kecurigaan tersebut.

Dalam memilih responden maka peneliti memilih dua kategori yaitu elite dan mantan elite organisasi. Peneliti juga perlu menggunakan teknik wawancara triangulasi untuk mendapat perspektif yang berbeda karena dalam beberapa kasus terkadang elite yang masih berkuasa terkesan menutupi tema-tema penelitian yang mengkritik organisasi mereka. Untuk kasus seperti inilah dirasa perlu untuk memperoleh pendapat dari mantan elite yang pernah terlibat di LDK dan BEM namun paska kampus tidak bergabung dalam PKS atau keluar dari Jamaah Tarbiah.

3.5 Teknik Analisa Data
Sementara untuk menganalisis  data-data primer berupa dokumentasi organisasi seperti, ceramah, program kerja, publikasi organisasi, majalah internal, majalah dinding dan sebagainya, peneliti menggunakan teknik analisis wacana, (discource analysis).  Teknik ini digunakan karena selama ini penelitian tentang teks terutama di UNILA lebih didominasi oleh analisis isi (content analysis) yang berangkat pada paradigma positivisme. Padahal teknik analisis isi sering dikritik karena tidak mendalam dalam melihat teks sedangkan analisis wacana lebih mendalam dalam membongkar arkeologi pengetahuan dan ideologi sang penyampai teks (Erianto: 2008).

Bab IV
Gambaran Umum Gerakan Islam Revivalis di Kampus UNILA
Universitas Lampung adalah salah satu Universitas yang sangat disemerakkan dengan gerakan-gerakan kemahasiswaan Islam revivalis. Selain gerakan Dakwah Jamaah Tarbiah yang merupakan perpanjanagn tangan Ikhwanul Muslimin, juga terdapat gerakan dakwah salafy, Jamaah Islamiah, Hizbut Tahrir dan Jamaah Tabligh.

Seperti umumnya kampus-kampus negeri di Jawa, di UNILA pun kita dapat dengan mudah pergeseran-pergeseran antar gerakan dakwah kampus tersebut. Isu-isu per-rebutan kader dakwah antar gerakan dakwah, tujuan dan metode gerakan sering menjadi sumber konflik yang sekarang menjadi wacana perdebatan di kalangan aktivis mahasiswa Islam tersebut.

Gerakan dakwah Islam yang paling awal muncul di Lampung khususnya UNILA adalah gerakan dakwah Jamaah Tarbiah dan Jamaah Tabligh (yang di Lampung sering  dikenal dengan jaulah). Kedua gerakan ini adalah perintis awal gerakan puritanisme kampus pasca melemahnya HMI sebagai akibat NKK/BKK mendikbud Daud Yusuf. Kemudian disusul oleh JI/kelompok Pengajian Onta, HT dan Salafy. Selain gerakan Islam revivalis di atas, UNILA pun mulai disemarakkan dengan masuknya aliran syiah yang sering menamakan diri dengan Mazhab Ahlul Bait sebagai pengaruh revolusi Iran dan terjemahan buku-buku ulama syiah Iran terbitan kelompok Mizan.
.
4.1 Jamaah Tabligh
Di UNILA JT dapat dikenal dengan mudah dengan ciri-ciri fisik mereka. Berkopiah, jubah/gamis dan jenggot adalah ciri-ciri fisik mereka yang mudah dikenali. Setiap malam Jum’at kelompok ini mengadakan pengajian akbar di Islamic Center di depan kampus UNILA. Umumnya mereka hidup sederhana dan bersehaja dan berbahasa lembut, namun ketika kelompok Islam menyerang dogma mereka bisa jadi resistensi terjadi secara lebih keras. Khuruznya (bepergian) mereka hingga berbulan-bulan keliling daerah meninggalkan kuliah dan keluarga sering menjadi kontroversial di kalangan masyarakat umum termasuk di kalangan mahasiswa.

Secara dogmatis JT adalah gerakan dakwah yang sangat dekat dengan sufisme. Salah satu kitab mereka yang sering dibaca sehabis sholat adalah fadilah Amal karya pendiri JT asal India Syekh Yusuf Al Kandhawi. Kitab ini sering digunakan sebagai pegangan utama dalam kegiatan khuruz mereka.
Agak susah melacak ke mana kader-kader Jamaah Tabligh berlabuh paska kampus. Gerkan dakwah yang menekankan pada perbaikan akhlak dan bergiat dalam amal dengan metode khuruj (keluar daerah untuk berdakwah) cenderung menjauhi politik. Doktrin menghindari konflik membuat mereka agak susah ditemukan dalam sektor publik baik sebagai politikus maupun birokrat.

4.2 Jamaah Islamiah/ Kelompok Onta
Selain Gerakan Dakwah Tarbiah dan JT, kampus UNILA pun disemarakan dengan gerakan dakwah yang berafiliasi dengan gerakan Jamaah Islamiah pimpinan Abu-Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar di Solo. Di kampus, gerakan ini dikenal dengan sebutan NII walaupun istilah ini tidak tepat dan hanya digunakan oleh gerakan dakwah lain agar mahasiswa baru takut dan menghindar dari ekstrimisme mereka. Di Unila salah satu tokoh yang dikenal adalah seorang dosen pertanian yang dikenal sering ceramah  Jum’at di Masjid Al Wasiie dengan nada ”keras” dan pernah jihad di Ambon. Gerakan JI di Lampung dan UNILA mempunyai sejarah yang panjang termasuk keterlibatan mereka pada peristiwa Warsidi pada masa orde baru. Pengajian kelompok ini sering dikenal dengan ”kelompok Onta”, yang dihubungkan dengan sebuah masjid yang ada di Jalan Onta di sekitar pasar Koga, Bandar Lampung.

Secara ideologis gerakan ini dipengaruhi oleh aliran Wahabi, namun mereka masih memandang perjuangan mendirikan negara Islam dan syariat Islam sebagai tujuan utama Negara Islam dan syariat Islam adalah dengung yang kencang dalam setiap pembahasan tentang tujuan dakwah di kalangan  aktivis dakwah. Di kalangan aktivis perempuan (akhwat) gerakan dakwah ini di kenal karena tafsir mereka yang berbeda dalam sholat Jum’at. Mereka umumnya menganjurkan kaum wanita untuk sholat Jum’at dan kita dapat menemukan aktivis akhwat mereka sholat Jum’at di Islamic Center di depan UNILA. Tafsir fiqh ini tak urung menjadi senjata gerakan dakwah lain untuk menjauhi para mahasiswi untuk menjelaskan perbedaan mereka dengan Islam pada umumnya.

Pasca Bom Bali gerakan dakwah ini diperkirakan melemah, apalagi JI secara umum telah mengalami perpecahan setelah keluarnya Abu Bakar Baasyir dari Majlis Mujahidin dan membentuk Jama’ah Al Anshor. Gerakan ini semakin diskreditkan dengan tertangkap nya para pelaku teror bom di Indonesia yang dianggap berhubungan dengan mereka.

4.3 Hizbut Tahrir
Gerakan Islam keempat yang hidup di UNILA adalah gerakan Hizbut Tahrir.  HT  masuk ke UNILA diperkirakan pada dekade 90’an dan mulai semarak di awal tahun 2000. Masuknya gerakan ini tidak dapat dipisahkan dari masuknya dosen-dosen UNILA yang pernah belajar di IPB dan bersentuhan dengan ideolgi HT di bogor. IPB adalah kampus yang dikenal sebagai basis terbesar gerakan ini di Indonesia. masuknya alumni-alumni SMA di Jabotabek yang aktif di HT selama SMA  ke UNILA diperkirakan sebagai faktor lain masuknya gerakan dakwah kampus ke UNILA.

Organisasi dakwah HT di UNILA tersusun secara rapi. Salah satu dosen pertanian UNILA menjadi penanggung Jawab dakwah HT di UNILA. Seorang mahasiswa diangkat sebagai pengangung jawab dakwah HT di kalangan mahasiswa. Mereka pun setiap jum’at rajin membagikan secara gratis buletin Al Islam yang berisi pandangan-pandangan mereka terhadap fenomena politik nasional yang sedang hangat diberitakan. Buletin Al Islam sangat mudah kita temukan setiap Jum’at di Masjid Al Wasi’i dan masjid-masjid di sekitar UNILA. Di kalangan mahasiswa HT membentuk organisasi bernama Gerakan Mahasiswa Gema Pembebasan yang baru-baru ini mengadakan kongres mahasiswa Islam (baca :HT) di Bogor.

HT sebenarnya adalah pecahan dari gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin (IM) sehingga dalam metode gerakannya mereka hampir mirip. Gerakan dakwah yang didirikan Taqiyudin An Nabani ini menjadikan tegaknya kembali khilafah Islamiah dan syariat Islam sebagai tujuan utama gerakan mereka. Sebuah tujuan yang sama dengan Ikhwanul Muslimin namun berbeda dalam cara mencapai nya. Bedanya, IM dalam konteks PKS tidak berani terang-terangan menyatakan syariat Islam dan khilaf ah Islamiah sebagai tujuan gerakan dakwah mereka.

HT cenderung menolak demokrasi karena menganggap sistem Demokrasi adalah sistem kufur dan bukan dari Islam. HT juga memandang partai politik, pemilu dan parlemen adalah sistem yang kufur dan bertentangan dengan Islam. Namun, Jamaah Tarbiah/IM/ PKS memandang demokrasi bisa didialogkan dengan Islam dan menjadikan demokrasi sebagai salah satu cara berdakwah dengan cara mendirikan partai politik, ikut pemilu dan parlemen. Masalah pokok tentang demokrasi dan masuk atau tidaknya di parlemen ini lah yang menjadi isu penyebab konflik antara kader Tarbiah dan HT di kampus termasuk di UNILA.

4.4       Salafy
Di Indonesia gerakan dakwah ini dimulai dengan pulangnya para alumni Timur Tengah terutama Saudi Arabia ke Indonesia dengan membawa ajaran wahabi yang ”murni”. Salafy dapat diartikan sebagai gerakan dakwah yang ingin membawa umat Islam ke pemahaman otnetik Islam yaitu para pemahaman generasi awal Islam (salaf). Tokoh senior gerakan dakwah ini tersebar di kota-kota besar di Indonesia. .

Pada awalnya gerakan dakwah ini bersatu, namun perkembangan berikutnya seiring dengan konfik perang Irak-Kuwait gerakan dakwah ini terpecah-pecah.  Di negeri asalnya Arab Saudi gerakan ini pecah menjadi dua yaitu Salafy yang pro ulama-ulama senior Saudi seperti bin Baz, Al Albani dan Utsaimin yang mendukung peran serta Amerika dalam konflik Irak-Kuwait, serta Salafy yang pro ulama Kuwait Ibnu Surur yang menentang intervensi Amerika di Perang Irak Kuwait. Kelompok terkahir ini di-istilahkan dengan kelompok  Sururi.

Pengaruh konflik di Timur Tengah pun membawa pengaruh  ke Indonesia. Salafy terpecah menjadi salafy pro Ja’far Umar Tholib dan Pro Ustadz Abu Nida. Konflik di Indonesia disebabkan oleh penolakan Ja’far terhadap pesantren Jamilur Rahman di Jogja asuhan Abu Nida yang menerima dana bantuan dakwah dari Yayasan Ihyatut Turot yang dicurigai berafilisi pada kelompok sururi.

Konflik dua kelompok salafy ini semakin diperparah dengan konflik Ambon. Kelompok Ja’far menganggap jihad di Ambon adalah wajib bagi seluruh muslim di Indonesia, sedangkan kelompok Abu Nida berpendapat sebaliknya. Jafar Umar Tholib.  Dengan berpegangan dengan fatwa Ulama Saudi asal Yaman, Syekh Muqbil, Ja’far akhirnya mendirikan Laskar Jihad sebagai organisasi para militer yang menghimpun kaum muslimin yang ingin berjihad ke Ambon.

Belakangan Ja’far dikucilkan dari kelompoknya sendiri karena dianggap melakukan manipulasi fakta di Ambon sehingga para Ulama Timur Tengah merasa tertipu dan salah dalam fatwanya. Ja’far dianggap memanfaatkan Laskar Jihad untuk kepentingan pribadinya. Di kalangan dunia kampus salafy yang mengucilkan Ja’far kemudian dikenal dengan istilah salafy XL, sebuah akronim yang di-inspirasi dari provider komunikasi yang beararti “Eks Laskar”. Ada juga yang menyebut kelompok ini dengan istilah Salafy Yamani dikarenakan umumnya ustadz-ustadz mereka berguru di Yaman bersama Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadii. Ulama salafy asal Yaman ini dikenal sangat keras dalam doktrin agamanya.

Salafy adalah gerakan dakwah ter-muda yang masuk di UNILA. Gerakan dakwah ini adalah gerakan dakwah yang diperkirakan masuk di sekitar awal tahun 2000an paska konflik Ambon. Belum ada data yang pasti kelompok salafy yang mana masuk ke Lampung. Masuknya alumni-alumni majelis-majelis pengajian dan pesantren salafy murid Jafar Umar Tholib dan Umar As Sewed dari di Jawa ke Lampung diperkirakan sebagai pembawa gerakan dakwah ini ke UNILA. Sedangkan kelompok Abu Nida tampaknya masuk belakangan. Sering datangnya Ustad Yazid dari Bogor dan Ustadz Abdul Hakim Abdat dari Jakarta ke Lampung menunjukkan eksistensi kelompok Abu Nida di UNILA.

Salafy adalah kelompok yang dikenal sebagai kelompok yang keras permusuhan-nya dengan PKS  dan kelompok dakwah yang lain di UNILA. Pengajian kelompok ini pernah diusir di Masjid Al Wasi’i oleh BPH karena dianggap meresahkan dengan tuduhan bid’ahnya terhadap kelompok yang lain. Kelompok ini pun dikenal sebagai pelabuhan terakhir dari pencarian kebenaran dari mahasiswa-mahasiswa UNILA yang haus akan Islam setelah mereka keluar masuk gerakan dakwah yang lain.

4.5       Jamaah Tarbiah/ Ikhwanul Muslimin/ PKS
Geneologi PKS sebenarnya tidak lepas dari gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang hadir sebagai usaha mendirikan negara Islam di Indonesia. Tokoh Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminudin (HA) adalah perintis awal dakwah  yang pernah ditangkap oleh pemerintah orde baru dan dipenjarakan selama tiga tahun. Ia mulai bersentuhan dengan ideologi IM ketika ia keluar dari penjara dan kemudian belajar di Saudi. Di Saudi, HA bertemu dan belajar dengan Muhammad Qutub, adik sayyid Qutub, ideolog terkemuka IM. HA juga belajar dengan Musyid Amn IM (pemimpin) Said Hawa,

Pada tahun 1979 HA pulang dari Saudi dan mulai merekrut kader baru, dua diantaranya adalah KH Rahmat Abdullah (dijuluki Syaikhut Tarbiah) yang merupakan perintis dakwah tarbiah di Jakarta  dan Abu Ridho. Pada tahun ini pula HA diangkat sebagai amir jamaah Ikhwanul Muslimin Asia Tenggara. Sebuah posisi yang setara dengan Amir  Jamaah Islamiah (JI) Abdullah Sungkar yang selanjutnya diteruskan Abu Bakar Baasyir.

Sebagai organisasi yang dilarang di Mesir, IM adalah ancaman serius orde baru yang sangat alergi dengan Islam Politik. Inilah yang membuat struktur IM dirahasiakan (sirriyatu Tanzhim), termasuk di kampus. Di kalangan aktivis dakwah hanya sedikit orang yang punya akses ke para orang ”di balik layar” ini, tidak banyak yang tahu bahwa Jamaah Tarbiah sebenarnya dipimpin oleh Ustad Hilmi Aminudin, seorang yang tepat disebut dengan ”The God Father”, Amir Jamaah Ikhwanul Muslimin di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Nama Hilmi pun tidak terdapat dalam piagam pendirian PK, ini menunjukkan bagaimana begitu tertutup-nya PKS pada saat itu.

Hilmi, Abu Ridho dan Rahmad Abdullah ternyata berhasil merekrut kader awal dakwah ”made in Indonesia”. Mereka adalah  Mutammimul ‘Ula, Anis Matta, Untung Wahono, Yusuf Supeni, dan lain-lain. Kader dakwah ini kemudian semakin kuat setelah berpulang-nya alumni Timur Tengah generasi kedua seperti Hidayat Nur Wahid, Ahzami Samiun Jazuli, Salim Sagaf Al Jufri dan lain sebagainya.

Sebelum PKS berdiri Jamaah Tarbiah sebenarnya sempat mendirikan KAMMI (maret 1998)  sebagai alat perjuangan menumbangkan rezim orde baru. Saat PKS (saat itu bernama PK) berdiri pada tahun 1998 PKS hanya dijadikan sebagai wasilah (wadah dakwah) saja. Sedangkan Jamaah Tarbiah (amir dan struktur organisasinya tetap rahasia) tetap menjadi induk gerakan yang mengkoordinir gerakan dakwah baik di kampus, profesi, ekonomi, pendidikan dan seluruh lapisan kehidupan masyarakat.

Sebelum  pemilu 2004 PK pun berubah menjadi PKS, Hilmi Aminudin pun muncul ke permukaan sebagai ketua Dewan Syuro PKS. Ini menunjukan PKS telah lebih terbuka sehingga ada istilah ”dakwah ya partai, partai ya dakwah”. PKS telah bermetamorfosis menjadi pemegang langsung koordinasi dakwah yang selama ini dipegang oleh organisasi rahasia  tersebut. Priode ini lah berarti PKS telah berubah ke persiapan tahapan fase Dauliy dengan berkolisi dengan SBY/JK usai pemilu 2004 hingga sekarang.

PKS dibawah kepemimpinan Hilmi dan Anis Matta mulai membelokan PKS ke arah yang lebih moderat. Sikap PKS yang moderat pasca pemilu 2004 ini menjadi kontroversial apalagi dengan ditolerirnya hidup mewah, mobil bagus dan beristri kedua yang cantik di kalangan PKS. Kader-kader kritis PKS melihat sinyal adanya upaya intervensi PKS oleh intelijen apalagi dengan  masuknya  Soeripto seorang  yang dicurigai intelijen orde baru ke dalam PKS. Tujuan intervensi ini adalah adanya kekhawatitan militer akan besarnya dakwah PKS. Alasan masuknya intelijen ke PKS juga diperkuat dengan sejarah Hilmi yang pernah dihukum dan dibebaskan secara ”mudah” oleh orde baru. Dalam wawancara dengan salah seorang wartawan tempo mantan aktivis BEM KM UGM, Hilmi dicurigai sebagai orang kepercayaan Ali Moertopo dan ditugasi untuk membuat gerakan Islam baru dalam rangka meredam Islam politik pada masa orde baru.

4.6 Genologi Jamaah Tarbiah/PKS di UNILA
Perkembangan  dakwah dalam ala Jamaah Tarbiah yang diinspirasi oleh Ikhwanul Muslimin kedalam 4 fase yaitu: Mihwar Tanzhimi, yakni membangn fondasi awal dakwah dengan membangun organisasi yang kuat dan menjadi kekuatan pokok dalam  dakwah, menghasilkan kader dakwah yang militan. Pembinaan dan kaderisasi adalah kunci penting dalam fase ini dan dilakukan dengan fase yang  sangat panjang.

Fase kedua adalah fase dimana dakwah mulai membangun basis kemasyarakatan dalam rangka mendukung dakwah. Fase ini diistilahkan dengan mihwar Sya’biy. Fase ketiga adalah fase dimana  dakwah mulai membangun berbagai lembaga untuk mewadahi berbagai kerja perjuangan di sektor-sektor kehidupan masyarakat. Fase ini diistilahkan dengan mihwar mu’assasi.

Fase keempat adalah dimana dakwah sudah memasuki ranah kenegaraan. Dakwah sudah mampu mendapatkan intitusi kekuasaan (baca:negara) untuk menjalankan kewajiban dan syariat agama bagi seluruh masyarakat. Fase ini dikenal dengan istilah mihwar Dauliy.

Mihwar Tanzimi di Unila dimulai ketika  berdatangannya alaumni LIPIA (univeristas  Islam Ibnu Suud cabang Jakarta) yang beraliran wahabi dan dipengaruhi oleh ideologi gerakan Ikhwanul Muslimin. Mereka masuk ke Lampung  pada dekade 80’an. Masuknya alumni LIPIA ini lah yang menjadi perintis masuknya ideologi Ikhawanul Muslimin/ Tarbiah ke kampus. Mahasiwa-mahasiwa UNILA adalah salah satu sasaran dakwah mereka. Mulailah para pelopor dakwah ini mendidik mahasiwa UNILA agar menjadi militan dalam berdakwah.

Sekarang alumni LIPIA ini ditampung di sebuah pesantren yang berada di sekitar kampus UNILA yaitu Darul Fatah (DF) dan Darul Hikmah (DH). Salah satu tokoh alumni LIPIA yang sangat dikenal di kalangan dakwah di Kampus adalah Ustadz Ari Wibowo,LC yang merupakan mantan ketua DPW PKS dan sekarang di dewan syuro DPW PKS Lampung. Ustadz Ari Wibowo dapat dikatakan sebagai perintis awal dakwah. Di LIPIA, beliau merupakan teman seangkatan  tokoh gerakan salafy di Indonesia, Jafar Umar Tholib.
Kader-kader awal dakwah kampus (mihwar Tanzimi) dapat kita lacak dengan mudah karena mereka sekarang telah menjadi tokoh publik terkenal di Lampung. Tokoh partai keadilan seperti Akhmadi Sumaryanto (calon wakil Guberbur dari PKS dalam pilgub 2008) dan Ustad Abdul Hakim (anggota DPR dari fraksi PKS 2004-2014) adalah kader awal dan perintis dakwah  Tarbiah (baca: ikhwanul Muslimin) di Universitas Lampung. Selanjutnya kader-kader awal  gerakan dakwah Tarbiah di UNILA tersebar di berbagai profesi baik sebagai anggota DPRD maupun dalam bidang bisnis. Mereka pada  umumnya berapiliasi dengan Partai Keadilan Sejahtera baik sebagai pengurus maupun hanya sekedar sebagai simpatisan.

Saat ini dalam konteks UNILA dapat dikatakan Jamaah Tarbiah telah memasuki fase Dakwah Mihwar Dauliy dikarenakan kemampuan mereka merebut lemabga formal Kampus seperi BEM dari penguasaan yang cukup lama dari HMI. Penguasaan PKS terhadap BEM pada tingkat Universitas di UNILA dimulai disekitar tahun 1999 pasca reformasi hingga sekarang. Mantan presiden Mahasiswa UNILA umumnya aktif di PKS pasca kampus. Nama seperti Iwan Kurniawan, Presiden Mahasiswa 2003-2004, mahasiwa teknik angkatan 1999, adalah staf ahli Fraksi PKS 2004-2009 dan asisten pribadi anggota DPR Fraksi PKS dari Lampung KH Abdul Hakim. Vitorio Dwison presiden Mahasiswa UNILA 2003-2004, mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 1998 adalah  caleg PKS untuk DPRD Provinsi Lampung dari Lampung Tengah dan ketua pemenangan pemilu 2009 DPW PKS Lampung.. Ihsan Taufik adalah Presiden Mahasiwa 2004-2005, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2000 ini adalah caleg PKS untuk DPRD provinsi Lampung namun mengundurkan diri karena menjadi PNS di Pesawaran. Begitupula dengan Aep mahasiswa MIPA angkatan 2001 yang juga menjadi caleg DPRD Provinsi namun gagal dan sekarang aktif di DPW PKS.

BAB V
Jejaring PKS di UNILA
Gambaran umum pada bab sebelumnya menunjukkan begitu semaraknya gerakan dakwah Islam di Lampung dan UNILA khususnya, namun diantara gerakan dakwah tersebut gerakan Tarbiah yang kemudian bermetamorfosis menjadi PKS lah yang dirasa paling dominan dikarenakan penguasaan mereka terhadap lembaga-lembaga formal kampus seperti LDK dan BEM baik di tingkat Universitas hingga fakultas  bahkan jurusan.

Bab 5 ini akan membahas bagaimana model hubungan antara PKS dengan LDK dan BEM serta bagaimana pengaruh PKS terhadap kebijakan atau program mereka dalam rangka kepentingan politik praktis PKS serta cara PKS mempertahankan kampus sebagai basis utamanya.

5.1 Tim Dakwah Kampus
Sangat sulit untuk melacak jejaring PKS dan model hubungannya di kampus. Hal ini dikarenakan tertutup-nya organisasi ini sehingga peneliti perlu kedekatan secara personal terhadap responden.  Responden harus dikondisikan merasa peneliti adalah bagian dari dakwah mereka (ikhwah).

Dalam dua wawancara dengan dua orang mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya terdapat model hubungan yang rahasia dan rapi antara PKS dan lembaga formal kampus. Data responden adalah dua-duanya mahasiswa fisip dan aktif sebagai petinggi  di FSPI FISIP, KAMMI dan liqo (pengajian kecil bagi kader tarbiah).

Model hubungannya dapat ditunjukkan  dalam diagram di bawah ini:
DPW PKS Bidang Dakwah Tulabi
(Kemahasiswaan)
Tim Dakwah Kampus UNILA



Badan Kelembagaan                     Dewan Pembinaan                               Badan Akademik
Universitas (BKU)                          Universitas (DPU)                         Universitas (BAU)
Badan Kelembagaan                    Dewan Pembinaan                               Badan Akademik
Fakultas (BKF)                            Fakultas (DPF)                                    Fakultas (BAF)
Tim Dakwah Jurusan (TDJ)
Sumber : Hasil wawancara dengan IW dan AI tanggal 12 dan 13 November 2009

Dari diagram berikut dapat dijelaskan bahwa dakwah kampus terbagi kedalam tiga area dakwah yaitu:  politik kelembagaan kampus (BKU,BKF, TDJ), Dakwah atau pembinaan kampus  (DPU,DPF) ndan Dakwah Akademik. (BAU,BAF). Ketiga arena dakwah ini merupakan pembagian berdasarkan karakter mahasiswa yang terbagi ke dalam 3 minat orientasi aktivitas mahasiswa selama kuliah yaitu politik kampus, religius keislaman, dan minat akademik, penelitian dan penalaran. Ini sesuai dengan doktrin dakwah mihwar Muassasi.
.
Ketiga arena dakwah ini dikoordinir oleh seorang mas’ul (pemimpin) kampus yaitu seorang koordinator Tim Dakwah Kampus UNILA yang berinisial S dan merupakan seorang dosen.
Model ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di UGM, UI, ITB, IPB dan kampus besar lainnya di Jawa. Yang berbeda di UGM istilah BKU, DPU, BAU diganti dengan istilah dakwah Kampus A (BKU), Dakwah Kampus B(DPU) dan Dakwah Kampus C (BAU).. Khusus untuk IPB, dan ITB koordinator Tim Dakwah Kampus di bawah  DPD PKS  masing-masing kampus bukan DPW Jawa Barat dikarenakan kondisi geografis Jawa Barat yang luas.

5.2  Arena Dakwah Politik Kampus (BEM)
Di arena kelembagaan atau politik Kampus, ketua BEM  Universitas  bertanggung jawab terhadap koordinator BKU yang biasanya diisi mantan presiden mahasiswa yang bertanggung jawab kepada koordinator/ mas’ul kampus TDK. Begitu pula dengan fakultas yang bertanggung jawab terhadap BKF dan seterusnya hingga ketua HMJ yang bertanggung jawab terhadap TDJ.

Kebijakan BEM universitas umumnya dibahas di tingkat syuro/musyawarah BKU dan di sinilah terkadang pesanan-pesanan kebijakan PKS dibahas. Salah satu contoh pengaruh PKS terhadap BEM U adalah demonstrasi APBD provinsi Lampung yang serat dengan kepentingan PKS..Bahkan cair nya dana ratusan juta APBD Provinsi Lampung untuk proposal program BEM U disinyalir hasil lobi Fraksi PKS di DPRD Lampung dengan konsekuensi 50 % dari uang yang cair harus disumbangkan ke DPW PKS(hasil wawancara dengan IN mahasiswa MIPA angkatan 2006 mantan staf BEM U pada tanggal 10 Desember 2009).

Dalam isu politik nasional, BEM pun disinyalir menjadi alat kepentingan PKS dalam menghadapi pemilu 2004 dan 2009. Pada pemilu 2004 BEM seluruh Indonesia diarahkan ke vooter education dengan tujuan mengarahkan siswa SMA untuk memilih PKS (Wawancara dengan Maya Uspasari mahasiswa Pertanian Unila angkatan 1999 yang menjadi penggiat vooter Education, tanggal 1 Novemebr 2009) .
Pada pemilu 2004 saat peneliti aktif di BEM UGM, dalam sebuah pertemuan BEM se-Indonesia di UI, program vooter education adalah titipan DPP PKS dan dibahas secara rahasia dengan menghadirkan Mustapa Kamal, anggota DPR PKS dan penanggung Jawab Kepemudaan DPP PKS.
Begitu pula dengan pemilu 2009, program pendataan pemilih yang dilakukan oleh BEM seluruh Indonesia adalah program PKS agar pemilih potensial nya (mahasiswa) dapat menggunakan hak pilihnya. ( Wawancara dengan IN 10 Desember 2009).

Dalam pemilihan presiden Mahasiswa, calon presiden dipilih dari syuro/ musyawarah khusus yang mengundang anggota-anggota BKF dan BKU seluruh UNILA. Syuro ini rahasia dan tidak semua mahasiswa mendapat akses informasi di syuro ini. Pada tahun 2009 dunia kampus UNILA menjadi lebih dinamis dikarenakan adanya dua calon dari basis masa yang sama yaitu dari KAMMI dan dari hasil syuro BKU. Konflik dari dua organisasi sejenis ini menjadi menarik dengan penolakan KAMMI atas calon yang diajukan BKU  yang dianggap pragmatis, tidak memiliki kompetensi dan dicalon dari musyawarah yang oligarki. Perpecahan ini tak urung membuat DPW PKS turun tangan dan memerintahkan melalui para murroobi (pembina liqo) kampus (umumnya mahasiswa senior dan dosen) untuk setiap kader dakwah kampus UNILA memilih calon yang dihasilkan oleh syuro BKU bukan KAMMI.. (wawancara dengan IW dan AI pada tanggal 12 dan 13 November 2009 serta IS peringgi KAMDA Lampung sesat setelah pemilihan presiden mahasiswa).

Intervensi PKS juga dapat dilihat dari syarat ketua BEM yang mensyaratkan seseorang yang secara jenjang pengkaderan di PKS adalah kader muda. Lebih lengkap jenjang pengkaderan PKS dapat dilihat di tabel berikut:
Jenis Keanggotaan
Pengertian
Anggota Pemula
Mereka yang mengajukan permohonan untuk menjadi anggota partai, dan terdaftar dalam keanggotaan partai yang dicatat oleh Dewan Pimpinan Cabang setelah lulus mengikuti Training Orientasi Partai I (satu).
Anggota Muda
Mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan telah lulus pelatihan kepartaian tingkat dasar satu.
Anggota Madya
Mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan telah lulus pelatihan kepartaian tingkat dasar dua.
Anggota Dewasa
Mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Wilayah dan telah lulus pelatihan kepartaian tingkat lanjut.
Anggota Ahli
Mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan telah lulus pelatihan kepartaian tingkat tinggi.
Anggota Purna
Mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan telah lulus pelatihan kepartaian tingkat ahli.
Anggota Kehormatan
Mereka yang berjasa dalam perjuangan partai dan dikukuhkan oleh Majelis Pertimbangan Partai
Sumber:kaderisasi DPP PKS

Syarat kader dakwah tidaklah mutlak seperti tabel di atas. Dalam konteks kampus kader muda adalah kader dakwah yang sudah lulus training LKM ( Latihan kepemimpinan Mahasiswa)  tingkat Lanjut yang diselenggarakan oleh TDU. LKM tingkat lanjut ini bersifat rahasia, bahkan undangan nya pun harus dibakar setelah diterima kader bersangkutan. (wawancara dengan IW tanggal 12 November 2009)
Jenjang kaderisasi sebelum LKM Tindak lanjut adalah LKM tingkat dasar bagi kader dan LKM tingkat menegah untuk pemula. Dua  LKM ini tidaklah dilakukan tertutup, umumnya include  di dalam kaderisasi LDK formal baik tingkat fakultas maupun universitas.

5.3  Arena Dakwah  Pembinaan Keislaman (LDK)
Arena dakwah ini dimulai sejak tahun 1980’an pada fase mihwar Tanzimi. Seorang ketua Birrohmah bertanggung Jawab terhadap seniornya di DPU (dewan pembinaan Universitas).  Seorang ketua LDK fakultas bertanggung jawab pada koordinator DPF fakultas. (sumber wawancara dengan I W tanggal 12 November 2009).

Kebijakan dakwah dan strategi pembinaan biasanya dibahas di syuro DPU dan DPF. Salah satu program yang strategis bagi perekrutan kader dakwah adalah ajang Bimbingan Belajar Qur’an (BBQ sebuah kuliah wajib tambahan mata kuliah agama Islam yang dikelola LDK. Model rekrutmen  ala BBQ  juga terdapat di kampus yang lain dengan nama yang berbeda, misalnya di. UGM bernama Asistensi Agama Islam.

Model BBQ sangat mirip dengan sel-sel pembinaan (Holaqoh) yang kemudian di-istilahkan dengan liqo di gerakan Ihkwanul Muslimin. Isi dari pembinaan ini biasanya pengetahuan dasar keagamaan dan belum menyinggung politik praktis. Materi BBQ biasanya berisi materi dasar seperti Mengenal Allah, Mengenal Rasul, Makna Syahadat dan tajwid-tajwid Qur’an. Referensi yang digunakan biasanya adalah buku-buku Said Hawwa (Al Islam, Ar Rasul), Sayyid Qutub ( Mualim fi Thorik, Fi Zhilalil Qur’an), Hasan Al Banna, Yusuf AL Qordhowi dan lain sebagainya.  Materi BBQ ini mirip dengan materi holaqoh atau liqo yang biasanya berbentuk panah-panah ini dahulu adalah materi yang rahasia namun sekarang sudah terbuka dana dapat diakses dengan mudah di internet.

Tujuan dari BBQ selain mahasiswa baru bisa membaca qur’an dan memahami Islam sebagai Islam kaffah adalah mengajak mereka dengan gerakan dakwah secara halus  ke fase rekrutmen berikutnya yaitu follow up BBQ. Bila pada BBQ biasa dipegang oleh senior yang tidak mesti dari kader Tarbiah ( bisa Salafy, HT dan lain-lain),  pada ajang follow up yang menjadi pembina  atau murrobi adalah mahasiswa senior, alumni atau dosen yang sudah menjadi kader tarbiah atau PKS. Diajang  follow up inilah peserta mulai dikenal dengan PKS, ideologi Ikhwanul Muslimin dan politik adalah bagian dari dakwah.

Selain BBQ program pengajian LDK sering diisi oleh kader-kader dakwah PKS. Salah satunya adalah acara Birrohmah pada tangga 22 November 2009 yang mengundang seluruh aktivis dakwah kampus. Acara ini  bertajuk kongres pemuda : ”silaturrahmi aktivis dakwah Kampus Lampung” dengan pembicara  Hermawan ( penanggung jawab Dakwah Tulabi DPP PKS) dan Vittorio Dwison (pengurus DPW PKS Lampung) yang menggantikan Ustadz Akhmad Jazuli ( Ketua DPW PKS Lampung dan anggota DPD RI 2009-2014).

Selain liqo atau forum holaqoh yang merupakan bentuk follow up BBQ, LDK,  di UNILA seperti umumnya LDK di kampus lain,  juga mengadakan kegiatan pembinaan dalam berbagai variasi. Kegiatan pembinaan itu seperti mabit (bermalam di Masjid) dauroh (pelatihan/Training), rihlah, kegiatan alam (Mukhoyam), seminar dan bedah buku yang melibatkan kader-kader PKS sebagai pengisi acara.  Umumnya menjelang berakhirnya BBQ LDK se-UNILA mengadakan acara mabit untuk menyentuh sisi psycologis mahasiswa baru dengan  sholat Tahajud bersama dan renungan yang dipimpin seorang Ustadz  yang mebuat peserta menangisi akan dosa yang diperbuat. Training seperti ini juga dilakukan di HMI di LK(Latihan Kader) 1 mereka.

LDK sebagai basis penting dalam mendidik kader dakwah  dan supply bagi kepemimpinan di PKS pun  diperkuat pernyataan M Hermawan. Mantan Ketua KAMMI pusat, pengurus DPP PKS bidang kemahasiswaan, dan caleg PKS DPR RI dari dapil Sumatera Selatan ini melihat kampus adalah basis penting sebagai bassis kader dan kepemimpinan di PKS setelah paska kampus,  seperti dikutip di bawah ini
Sudah teruji sebenarnya bahwa aktivis dakwah kampus ini merupakan supply terbesar bagi gerakan dakwah yang besar seperti aktif di LSM gerakan dakwah, bahkan partai politik (PKS), pemimpin-pemimpinnya sangat banyak didominasi mantan aktivis dakwah kampus. (sumber: ceramah tanggal 22 November 2009)

5.4 Arena dakwah Akademik
Arena dakwah ini adalah yang relatif baru. Dakwah di bidang akademik di dikoordinir oleh lembaga yang disebut Badan Akademik Universitas (BAU) yang  dibentuk untuk merekrut calon kader dakwah yang mempunyai minat dalam bidang akademik, penelitian dan penalaran. Lapangan dakwah ini adalah kelembagaan dakwah kampus yang relatif muda .Di tingkat fakultas dakwah akademik dikoordinir oleh  seorang mahasiswa yang punya kemampuan yang baik di bidang akademik dan penelitian. Mahasiswa yang mengikuti lomba-lomba penelitian, penalaran dan IPK tinggi adalah rana dakwah BAU ini. BAU juga menggarap lembaga-lembaga formal kampus yang bergerak pada ranah penelitian dan penalaran mahasiswa.

5.5  Tim Dakwah Akademik
Selain Tim Dakwah Kampus, jaringan PKS UNILA juga  juga diisi oleh dosen-dosen yang merupakan kader dakwah namun tidak bisa ditampung di Partai karena status mereka sebagai PNS. Mereka tergabung dalam yang disebut dengan Tim Dakwah Akademik (TDA). TDA  dalam kampus diarahkan untuk masuk struktur birokrasi penting di kampus, baik sebagai kepala Lab, ketua Jurusan, hingga memengaruhi forum-forum penting pengambilan kebijakan dari level jurusan hingga senat. Para dosen ini juga bersinergi dalam mentarbiah para mahasiswa baru  dengan menjadi tutor agama (murrobi) baik di BBQ maupun follow up nya, sehingga diharapkan dengan turun tangannya dosen maka mahasiswa lebih mudah direkrut sebagai kader dakwah. Rekrutmen antar sesama dosen pun dilakukan sebagai bagian dari dakwah profesi, sehingga  tidak jarang banyak dosen-dosen UNILA yang mulai bersentuhan dengan ideologi Tarbiah setelah mereka menjadi dosen, bukan pada saat di kampus. (sumber : FGD dengan N, dan W tanggal 7 Desmeber 2009).

Kampus UNILA memiliki ciri  khas dalam tim dakwah akademik dibanding kampus-kampus lain. Ciri khas itu adalah cukup berpengaruhnya dosen dalam dakwah kampus. Hal ini dikarenakan banyaknya dosen-dosen UNILA yang sudah ditarbiah sebelumnya ketika mereka masih kuliah S1. Hal ini tidak terjadi di UGM dan kampus lainnya di Jawa karena masih minimnya dosen-dosen yang ditarbiah. Kampus  IPB dan UI termasuk yang mirip dengan UNILA, kampus yang dominasi dakwah akademik di kalangan dosen cukup signifikan.

5.6 KAMMI dan posisinya di Kampus
Dalam wawancara dengan banyak keder KAMMI UNILA, posisi KAMMI di kampus sangat dilematik. KAMMI sejak 2004 berada di posisi luar dakwah kampus. Dalam struktur rahasia PKS KAMMI berada di ranah dakwah  politik, hukum dan keamanan, disejajarkan dengan lembaga-lembaga LSM bentukan PKS. KAMMI dicabut dari akarnya sebagai organisasi bentukan LDK pada 1998 menjadi organisasi yang berbeda ranah dakwahnya dengan LDK. (wawancara IW tanggal 12 November 2009).

Dinamika di KAMMI sangat tinggi di Pusat maupun di level daerah Lampung. Ketua KAMMI Pusat pada masa Rahmantoha Budianto (biasa dipanggil Amang) mencoba menjaga jarak dan independen dari PKS dengan membangun hubungan baik dengan partai-partai  Nasionalis. Sikap KAMMI Pusat yang ”memberontak” dengan PKS ini tidak disenangi elite PKS terutama menjelang pilpres 2009. KAMMI secara terang-terangan tidak mendukung SBY, calon presiden dukungan PKS, dengan menggunakan istilah ”menolak calon presiden yang berpaham Neo-Liberalisme” Sikap Amang (Ketua KAMMI pusat saat itu) yang membuatnya diturunkan secara paksa dan digantikan Rijalul Imam, anak IAIN Jogja yang dapat ”dipegang PKS” dalam mengamankan agenda koalisi.

Sikap KAMMI pusat yang nakal ini terbawa ke KAMDA Lampung, khususnya UNILA. Konflik pemilihan Presiden Mahasiswa antara yang dicalonkan BKU yaitu Antomi Saregar dan calon Presiden yang dicalonkan KAMMI, Tito Amazon pun tidak terhindari. Perpecahan antar aktivis dakwah kampus ini membuat DPW Lampung perlu turun tangan untuk mengamankan UNILA dengan mengeluarkan ilanat (perintah) agar seluruh kader KAMMI memilih Antomi Saregar sebagai presiden UNILA.

Konflik ini berimbas pada konflik pada tataran kultural. Istilah ”murtad” pun keluar untuk kader dakwah yang tidak mengikuti hasil syuro. Imbas yang lain adalah adanya sekelompok pemberontak di KAMMI yang menginginkan KAMMI kembali ke kampus, dan merebut supremasi BKU. Konflik antara KAMMI dan Tim Dakwah Kampus tidak lepas dari oligarki syuro kampus yang tidak dapat mengayomi anak muda KAMMI dan tidak bisa menghasilkan calon presiden yang mempunyai kompetensi dalam perpolitikan kampus.


BAB VI
Kesimpulan dan Rekomendasi
6.1 Kesimpulan
•     PKS adalah partai  yang merupakan perpanjangan ideologi Trans-Nasional revivalisme Islam Ikhwanul Muslimin (IM). IM  di Indonesia diberi nama Jamaah tarbiah yang memiliki basis massa di kampus. Pada masa orde baru posisi Jamaah Tarbiah dalam karangka konstelasi politik tidak lah ”berma-salah” karena ia tidak berbentuk partai yang bertujuan merebut kekuasaan.

•     Paska orde baru dan PK(S) berdiri, model hubungan PKS di kampus pun masih terjalin erat. Kampus UNILA  berada di bawah koordinasi Tim Dakwah Kampus (TDK), sebuah lembaga rahasia (syirriah Tanzimi) yang bertanggung jawab pada bidang dakwah Tulabi DPW PKS.

•     TDK membawahi tiga lembaga  yang mengkoordinir tiga arena dakwah yaitu Badan Kelembagaan Universitas (BKU) yang mengurus dakwah politik kampus seperti BEM dan DPM Universitas. Pada level fakultas ada Badan Kelembagaan Fakultas  (BKF) yang mengkoordinir  BEM dan DPM Fakultas hingga HMJ.

•     TDK membawahi Dewan Pembinaan Universitas (DPU) yang mengkoordinir Birrohmah di Arena dakwah keislaman,   dan di fakultas disebut dengan DPF yang mengkoordinir LDK tingkat fakultas. Ketua Birohmah bertanggung jawab kepada DPU dan LDK fakultas bertanggung jawab pada DPF

•     Dakwah di bidang akademik dan penelitian di tingkat Universitas dikoordinir oleh Badan Akademik Universitas (BAU) dan di tingkat fakultas di bawah koordinasi Badan Akademik Fakultas (BAF)

•     Selain Tim Dakwah Kampus, UNILA juga memiliki Tim Dakwah Akademik (TDA)  yang berisi dosen-dosen yang berideologi Tarbiah di UNILA. TDA  ini berperan sebagai wadah dakwah profesi yang aktivitasnya berusaha memengaruhi kebijakan kampus, baik sebagai pejabat dan birokrat maupun sebagai pembina holaqoh tarbiah yang ada di kampus.

•     Posisi KAMMI di UNILA tidaklah begitu signifikan dikarenakan KAMMI tidaklah diletakkan di ranah dakwah kampus (tulabi) melainkan dakwah bidang politik, Hukum dan Keamanan.

•     Peran PKS dalam memengaruhi kebijkan BEM dapat dilihat dari program kerja BEM UNILA yang merupakan “pesanan” PKS seperti vooter education pada pemilu 2004 dan pendataan pemilih pada pemilu 2009. Fraksi PKS DPRD Lampung juga berperan dalam mensukseskan pencairan APBD Prov. Lampung  untuk program BEM. Dalam kaderisasinya, ustadz-usatdz PKS sangat memengaruhi  program-program LDK seperti BBQ dalam setiap model kaderisasi dan pelatihan yang dilakukan.

•     Latar belakang mahasiswa UNILA yang non-santri adalah lahan subur bagi berkembangnya gerakan revivalisme Islam dan menjadikan mereka santri baru yang eksklusif . Ini adalah penjelas mengapa PKS tumbuh subur di kampus-kampus “sekuler” seperti UNILA.

5.2 Rekomendasi
•     Keberadaan PKS di kampus adalah sebuah realitas yang tidak dapat di-pungkiri sebagai konsekuensi dari  era liberalisasi politik saat ini. Yang perlu dilakukan oleh civitas academica di UNILA mengawasi lembaga-lembaga formal mahasiswa yang didanai “uang rakyat” dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga formal kampus bukan untuk kepentingan rakyat tetapi kepentingan sekelompok elite politik baik di tingkat nasional maupun daerah atas nama dakwah.

•     Perlunya merevisi program Bimbingan Belajar Qur’an  (BBQ) yang dikelola LDK karena terbukti untuk merekrut kader secara efektif. Rektorat juga perlu tidak memformalkannya sebagai kuliah tambahan karena masalah belajar agama adalah bukan tanggung jawab Universitas dan ini masalah privasi yang tidak layak dibawa ke arena publik. Hal ini juga dapat membuat kecemburuan gerakan dakwah  di luar Tarbiah dan juga partai-partai politik lain.

Daftar Pustaka
Agus PR,SE,Ak. Dakwah Parlemen di Era Otonomi Daerah, Tangerng: LP3M, 2005
Damanik,Ali Said. Fenomena Partai Keadilan, Bandung: Teraju, 2000
Denzin, Norman K/Lincoln, Yvonna S (editors), Handbook of Qualitatif Research, SAGE Publications, 1994
Dekmeijen, R. Hrair, Kebangkitan Islam : katalisator,katagori dan konsekuensi, dalam Hunter,Shiren T. (edd), Politik Kebangkitan Islam(terj), Jogjakarta:Tiara Wacana, 2001
Eriyanto, Analisis Wacana (Pengantar Analisa Teks Media), LKIS, Yogyakarta, 2008
Esposito, John L. Islam and State, New York : Syacuse University Prss. 1987
Furqon,Aay Muhammad, Partai Keadilan Sejahtera : Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, Jakarta: Terajau, 2004
Karim, A.Gaffar, Jamaah Salahudin: Islamic Student Organitation in Indonesia’s New Order,Flinders Journal of History and Politics. Vol 23, Adelide, 2006
Matta, Anis. Menikmati Demokrasi: Strategi Dakwah Meraih Kemenangan. Jakarta: Penerbit Pustaka Saksi.2002
Newman, W. Lawrence, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Allyn & Bacon, Boston, 2003
Priyono,AE. Fenomea Terorisme Agama dan Kebangkitan Neo-Fundamentalisme Islam di Indonesia Orde Baru, Jurnal Demokrasi &HAM, Vol. 3, Jakarta,2003
Rahmat,M.Imdaun. Ideologi Politik PKS , Jogjakarta,LKIS,2008
Ridho,Abu. Saat Dakwah Memasuki Wilayah Politik, Bandung : Syamil, 2003

Physics Education ‘09
Address :
BPH Masjid Al-Wasi’i Kampus Universitas Lampung
Lantai Dasar Masjid Al-Wasi’i Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
        0897.6126.033
Ph : (0721) 783044
Twitter : @mustofaabihamid
              abi.unila@yahoo.co.id
              m.abihamid@students.unila.ac.id


thumbnail
Judul: POLITISASI KAMPUS (Hasil Penelitian di Kampus UNILA)
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Politik, Umum :

12 comments:

  1. super sekali sahabat, lengkap mantap. ini pnelitian sampean sendiri atau apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Ras Eko : ini penelitian dosen dan mahasiswa (dari beberapa peneliti dan narasumber). Semoga bermanfaat :)

      Hapus
    2. ada kesalahan fatal yang luput.. disebutkan bahwa mentor BBQ bisa dari luar kader tarbiyah....
      pengalaman dan pengamatan ...faktanya mahasiswa yang sebelum jadi mentor sudah difilter bahwa afiliasi mentor adalah kader tarbiyah...


      Hapus
  2. BERSAMA SAHABAT, YAKIN USAHA SAMPAI, HANCURKAN PSK, eittsss.. PKS MAKSUD SAYA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tetap jaga indepedensi dalam kampus,yakusa

      Hapus
  3. Balasan
    1. Diperjelas lagi pertanyaan Abel, saya ndak paham. :)

      Hapus
  4. saya kok jadi deg deg ser gitu bacanya yah. salam blogger pak. :)

    BalasHapus
  5. Cakep penelitiannya... Memang begitu adanya kondisi di kampus2 negeri...

    BalasHapus

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz