Kamis, 26 Desember 2013

Ujian Mid Semester Mata Kuliah Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK)

Bagi mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK), berikut ini soal ujian mid semester / Ujian Tengah Semester (UTS) semoga bisa menjadi bahan referensi untuk belajar.

Mata Kuliah  : Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK).
Seksi             : 44899
Kode             : PTK07
Dosen           : 1. Dr. Agamuddin, M.Ed.
                          2. Prof. Elisna, M.Ed.
Program         : Magister (S2) Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Pascasarjana Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang.


1. Kurikulum untuk pendidikan teknik dan kejuruan berbeda dengan pendidikan kurikulum umum. Kurikulum pendidikan teknik dan kejuruan berorientasi pada proses dan produk (hasil). Jelaskan apa maksudnya dengan contoh-contoh?

Jawab:
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 15, disebutkan bahwa pendidikan kejuruan didefinisikan sebagai pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Kurikulum pendidikan teknik dan kejuruan berorientasi pada proses dan produk (hasil), karena tujuan pendidikan teknik dan kejuruan adalah menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian (soft skill dan hard skill) yang siap kerja sesuai dengan kualifikasi keahlian yang dimilikinya, selain itu peserta didik pada pendidikan teknik dan kejuruan harus mampu menghasilkan produk yang merupakan hasil dari proses produksi yang dipraktekkan secara nyata sehingga produk (hasil) tersebut dapat dipasarkan/dijual layaknya produsen pada dunia industri, sehingga lulusan pendidikan teknik dan kejuruan memiliki kecakapan dan keahlian yang siap bekerja di dunia industri maupun menciptakan produk sendiri yang bernilai jual (sebagai wirausaha). Kurikulum pendidikan teknik dan kejuruan yang berorientasi pada proses dan produk maka dalam pembelajarannya pun terdiri dari teori, praktek di labor, latihan-latihan, prakter kerja industri dengan terjun langsung pada dunia kerja/dunia industri yang sebenarnya (nyata) serta ditekankan mampu menciptakan produk yang dihasilkan dari keahlian yang dimiliki dan produk tersebut bernilai jual sehingga mampu menciptakan lapangan kerja atau berwirausaha secara mandiri. Contoh: Siswa SMK jurusan teknik elektro ditekankan untuk memahami materi serta praktek (proses) tentang materi rangkaian listrik, kemudian membuat produk berupa power bank, energy saver, dll.

Siswa SMK jurusan tata boga selain dituntut untuk memahami proses pembuatan kue, juga ditekankan untuk memproduksi kue serta menjualnya, sehingga selain keterampilan proses (membuat kue) juga terampil dalam hal produksi hingga pemasaran dan penjualannya.
Dalam kurikulum tersebut juga dikembangkan strategi pembelajaran Learning by doing (belajar melalui aktivitas/kegiatan nyata, yang memberikan pengalaman belajar bermakna), dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis produksi. Serta Individualized learning (pembelajaran dengan memperhatikan keunikan setiap individu) dilaksanakan dengan sistem modular.

2. Menurut anda bagaimana penerapannya dalam kurikulum jika keputusan kebijakan menyatakan:
  • Tamatan SMK harus bekerja, tidak boleh melanjutkan ke Perguruan Tinggi
  • Tamatan SMK boleh bekerja dan juga boleh melanjutkan ke Perguruan Tinggi

Jawab:
Jika keputusan kebijakan kurikulum menetapkan tamatan SMK tidak boleh melanjutkan ke Perguruan Tinggi maka dalam menerapkan kurikulum tersebut dalam pendidikan kejuruan adalah fokus pada pengembangan pengetahuan tentang bidang tertentu dan secara simultan mempersiapkan peserta didik yang produktif untuk siap bekerja di dunia industri maupun menghasilkan produk sendiri dengan berwirausaha. Program-program dalam kurikulum tersebut diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja, didasarkan atas kebutuhan dunia kerja. Selain itu ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Program yang ditawarkan harus responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi dan lebih ditekankan pada “learning by doing” dengan memberikan fasilitas yang mutakhir untuk praktek sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri. Sehingga, jika pendidikan kejuruan (SMK) terfokus pada kebutuhan dunia kerja (market demand), maka kompetensi lulusan juga akan terfokus pada keahlian dan pemenuhan tenaga kerja.

Jika keputusan kebijakan kurikulum menetapkan tamatan SMK boleh bekerja dan juga boleh melanjutkan ke Perguruan Tinggi, maka dalam implementasinya dalam dunia pendidikan kejuruan adalah dengan menerapkan program pendidikan yang berorientasi pada proses dan produk yang menghasilkan lulusan dengan kompetensi dan keahlian bidang tertentu yang siap bekerja di dunia industri. Dengan adanya kurikulum pendidikan kejuruan ini siswa dituntut untuk memiliki pengetahuan secara komprehensif mengenai materi pembelajaran serta terampil dan kompeten sesuai dengan keahliannya sehingga pada saat lulus mampu bersaing secara global dan siap bekerja di dunia industri/dunia kerja serta mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual sehingga lulusan mampu berwirausaha dan menciptakan pekerjaan sendiri. Namun, bila ingin melanjutkan ke perguruan tinggi maka dapat meningkatkan kompetensi keahlian hard skill dan soft skill dengan memilih jenjang pendidikan D1, D2, D3, D4 ataupun S1. Namun yang perlu diketahui bahwa untuk program keahlian lebih tepat memasuki jenjang diploma. Untuk saat ini pemerintah juga telah mengeluarkan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) yang telah ditetapkan menjadi perpres. KKNI adalah suatu kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. KKNI terdiri atas 9 (sembilan) jenjang kualifikasi, dimulai dari jenjang 1 (satu) sebagai jenjang terendah sampai dengan jenjang 9 (sembilan) sebagai jenjang tertinggi.
KKNI terdiri dari 9 jenjang atau 9 level, dalam implementasinya dalam pendidikan kejuruan yaitu bahwa seorang lulusan SMK dengan pengalaman kerja bertahun-tahun dapat disetarakan dengan lulusan S1 yang belum memiliki pengalaman kerja. Untuk menyamakan atau menyetarakan ini ada lembaga BSNP (Badan Standardisasi Nasional Pendidikan) dan BNSP (Badan Nasioanal Sertifikasi Profesi) yang akan mengeluarkan sertifikat pengalaman kerja yang dapat disetarakan dengan jalur pendidikan akademik sesuai dengan jenjang atau levelnya yang sesuai kriteria.


3. Mengapa angka putus sekolah (Drop Out)  serta alasannya penting diketahui dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan kurikulum?

Jawab:
Angka putus sekolah dan alasannya perlu diketahui dan dianalisis oleh perencana kurikulum untuk mengantisipasi dan meminimalisir sesuatu hal yang dapat merugikan pihak sekolah, pemerintah, maupun siswa. Sehingga, perlu mengumpulkan data angka putus sekolah, penyebabnya dan alasan-alasannya. Jika banyak siswa yang mengundurkan diri (Drop Out/putus sekolah), maka perancang kurikulum harus menganalisis penyebabnya kemudian mencari solusi dan mengimplementasikan pada kurikulum yang dikembangkan dan program-program yang ditawarkan. Kemudian memperbaiki proses seleksi yang baik guna mendapatkan input siswa yang benar-benar berminat dan berbakat memasuki jurusan yang dipilih. Memperbaiki progrm yang ditawarkan sehingga perancang mengembangkan kurikulum dengan program-program dan isi program yang lebih baik serta sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Program yang ditawarkan harus lebih menarik dan tentunya berhubungan dengan tujuan karir yang diminati siswa. Selain itu juga perlu meningkatkan kompetensi guru untuk menunjang proses pembelajaran dan pelaksanaan program, serta guru tersebut disukai oleh siswa. Jika angka putus sekolah tinggi, menyebabkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan untuk siswa dan program tersebut menjadi sia-sia. Mengalami keugian dana, tenaga dan pikiran.

4. Tujuan utama pendidikan kejuruan adalah untuk mempersiapkan lulusannya untuk pekerjaan tertentu yang memang ada dan berkemungkinan ada di masa depan. Jika anda ditugaskan untuk mengembangkan kurikulum untuk suatu program kejuruan, apa yang anda lakukan untuk mendapatkan gambaran tentang tuntutan tenaga kerja di masa depan?

Jawab:
Mengumpulkan data yang diperoleh dari komunitas atau masyarakat (community related data) pada suatu wilayah/daerah dimana sekolah tersebut berada, berupa gambaran yang lengkap dari komunitas/masyarakat tersebut untuk membantu perancang kurikulum mengembangkan program pendidikan yang realistik sehingga lulusan dapat memenuhi kriteria dan permintaan pasar kerja. Perencana kurikulum perlu mendapatkan data arah dan proyeksi bidang/sumber ketenagakerjaan serta kecenderungan pekerjaan di masa mendatang. Data ini untuk mengidentifikasi sumber-sumber pekerjaan yang ada dan bidang-bidang pekerjaan yang akan muncul nantinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Data identifikasi sumber terkini dari pekerjaan ini didapat dari Kementerian Tenaga Kerja, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Bappenas/Bappeda, dll. Perencana kurikulum perlu mengumpulkan data mengenai permintaan tenaga kerja saat ini dan masa depan serta menganalisis tenaga kerja yang akan dihasilkan, sesuai dengan permintaan tenaga kerja. Perencana kurikulum harus memperhitungkan masa depan sehubungan dengan tren pekerjaan. Mengidentifikasi kemunculan area pekerjaan dan harus waspada terhadap area yang cenderung mengalami penurunan dalam pekerjaan. Perencana kurikulum perlu melihat data hasil perhitungan persediaan tenaga kerja saat ini dan prediksi kebutuhan tenaga kerja yang akan datang, sehingga program yang dirancang dapat sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan akan datang.



Selamat belajar,
Salam bahagia dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar