Selasa, 14 Januari 2014

Esensi dan Makna Maulid Nabi

Oleh: Mustofa Abi Hamid, S.Pd.*
Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Kaum muslimin khususnya di Indonesia memiliki tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, seperti halnya tradisi umat Islam di banyak negara lain, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu? Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan masyru’ (disyariatkan), tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.

            Sudah banyak tulisan dan pembahasan mengenai dalil-dalil tentang maulid nabi, seperti tulisan “Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Makna Bid’ah” ini. Terkadang umat muslim terkungkung pada perdebatan bid’ah dan dalil yang membolehkan atau melarangnya sehingga kehilangan esensi dan makna dari maulid nabi itu sendiri.

            Dalam tulisan ini saya akan berbagi mengenai esensi dan makna dari maulid nabi yang setiap tahunnya kita peringati di seantero nusantara ini. Terutama di kalangan Nahdliyyin dan pondok pesantren ini sudah menjadi tradisi rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya. Berbagai majelis taklim dan pengajian pun ramai melakukan peringatan maulid ini, bahkan di Jawa ada tradisi khusus keraton, yaitu grebeg mulud sebagai akulturasi budaya jawa dengan Islam, yang mana kebudayaan yang melekat di masyarakat kemudian dimasukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Seperti kita ketahui bahwa Islam masuk ke nusantara terutama di Jawa melalui akulturasi budaya sedemikian lembutnya Islam yang disebarkan oleh Wali Songo hingga diterima secara luas hingga saat ini menjadikan Indonesia sebagai penduduk terbesar beragama Islam.

Dalam kajian di pondok pesantren yang saya dapatkan, meskipun saya belum pernah “mondok” selama bertahun-tahun sekalipun, setidaknya saya pernah belajar ilmu alat gramatikal bahasa Arab yang dikaji di pondok pesantren (Nahwu Shorof), bahwa kata Maulid, dalam bahasa Arab, merupakan isim zaman/makan (kata yang menunjukkan arti waktu/tempat) dari tashrif/kata walada-yulidu. Jika walada berarti lahir, maka maulid berarti waktu kelahiran / tempat kelahiran. Dengan demikian, yang dimaksud dengan istilah maulid nabi adalah hari saat nabi Muhammad saw. dilahirkan, dan oleh karenanya, memperingati maulid nabi dapat langsung diartikan memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw.

Sedikit mengingat catatan sejarah bahwa peringatan Maulid Nabi awalnya dilakukan pada zaman dinasti Fatimiyyah tahun 300-an Hijriyah. Lalu pernah digunakan untuk memompa semangat tentara Islam pada zaman perang salib. Momen ini digunakan oleh Salahuddin Al-Ayyubi komandan Perang Salib untuk membakar semangat kaum muslimin untuk kembali mengingat perjuangan Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya di segala bidang demi tegaknya Islam di muka bumi. Melalui metode yaitu mengenang perjuangan beliau dan para sahabatnya membangkitkan kembali semangat tentara Islam dalam perang salib hingga berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.

Yang menjadi prinsip kita disini adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan. Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya’ (H.R.Muslim). Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya– adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW.

Hikmah Maulid Nabi.

            Setiap jejak laku manusia tak akan berguna jika tidak dapat mengambil hikmah dari apa yang telah dilakukan. Dari peringatan maulid nabi ini, kita dapat mengambil hikmah dan makna maulid nabi, diantaranya:


1.  Meneladani akhlak Rasulullah SAW

Makna substantif yang pertama yang perlu dikaji dari peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad saw. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad saw: “innama buistu liutammima makarimal akhlaq”, yang artinya: “saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Nabi adalah teladan sempurna dalam berteologis, berritual, berakhlak dalam kehidupan dan juga  dalam relasinya dengan semua umat manusia, hablum minallah, habblum minan-nas, dan habblum minal alam telah dicontohkan oleh beliau. Bahkan seringkali Rasulullah disebut sebagai Al-Qur’an berjalan, dimana esensi ajaran Al-Qur’an tercermin pada diri Rasulullah.

Maka sudah seharusnya setiap jejak langkah hidup kita di dunia ini meniru dan mengikuti akhlaq yang telah diajarkan oleh Rasulullah mulai dari hal kecil dalam kehidupan ini baik yang menyngkut masalah ubudiyyah, muamalah, dll. Untuk itu, marilah kita kembali meneladani akhlaq Rasulullah karena sungguh dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik. Sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Ahzab: 21

Q.S. Al-Ahzab: 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)”

2.  Meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah
Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan kecintaan kita kepada Rasulullah, diantaranya dengan meneladani akhlaqnya, mengikuti ajarannya, menjalankan sunnah-sunnahnya dan bersholawat kepadanya. Tentunya dibalik semua ibadah-ibadah diatas ada keberkahan dan anugerah yang akan diterima jika memang menjalankannya tulus karena mengharap pahala dari Allah. Hadits berikut memberi penjelasan mengenai keutamaan membaca shalawat, sebagaimana riwayat sahabat Ibnu Mas’ud Radliyallahu Anhu,
إِنَّ أَوْلَى اَلنَّاسِ بِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
Orang yang paling utama berada denganku kelak di hari kiamat adalah mereka yang banyak membaca shalawat kepadaku.

Sungguh keberkahan tiada tara bagi siapa saja umat muslim diantara mereka yang senantiasa memperbanyak membaca shalawat kecuali balasan pahala dari Allah dengan menempatkannya bersama Nabi Muhammad. Maka di bulan rabi’ul awal ini kita senantiasa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan banyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dengan maksud dan tujuan mendapat keberkahan dan rahmat serta pertolongan dari Allah SWT.

3.  Sebagai Syi’ar Islam dan Sarana Ibadah

Dalam Maulid Nabi tentu banyak sekala rangkaian ibadah di dalamnya, ini tentu menjadi salah satu syi’ar Islam dan ibadah guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.  Peringatan maulid Nabi yang setiap tahunnya diadakan tidak sekedar seremonial belaka, tapi juga di-ilmiahi agar bernilai ibadah, dalam rangka mensyukuri rahmat Allah SWT dan menunjukkan kecintaan kita terhadap Rasulullah. Di dalamnya sungguh padat dengan ibadah, seperti membaca al-Qur’an, shalawat, istighotsah, dzikir bersama, doa bersama dan ceramah agama. Tentu ini menjadi ladang pahala dan syiar Islam.

4.   Melanjutkan Misi Perjuangan Rasulullah

Rasulullah sesaat sebelum wafat telah berwasiat kepada sahabat dan umat yang sangat dicintainya, Rasul bersabda:
تَرَكْت فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم – رواه مالك
“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).

Rasul juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para ulama’ dari masa ke masa. Mereka, para ulama’ adalah pewaris para Nabi. Rasulullah SAW. bersabda :
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ أَوْفَرَ – رواه أبو داود والترمذي وابن حبان
”Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Hibban).

Untuk itu, mari kita memperjuangankan agama Islam ini dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan berpedoman pada Al-Qur’an, Hadist, serta Ijma’ dan Qiyas yang merupakan ijtihad para ulama.

Apabila kita semua umat muslim di Indonesia dapat menemukan makna dan esensi Maulid Nabi ini, serta menjalankan agama Islam sesuai dengan tuntunannya, maka sudah barang tentu Indonesia akan menjadi negara yang “baldatun toyyibatun wa Rabbun ghofur”. Indonesia yang sejahtera, adil, aman, makmur, sentosa, serta dilimpahkan oleh Allah berupa barokah kepada negeri tersebut.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awwal 1435 H. Allahumma sholli ala sayyidinaa wa habibinaa wa syafi’inaa wa  qurrota a’yuninaa wa maulanaa Muhammad wa ala alihi wa shohbihii wa sallim.
Wallahu a’lam bish-showab.

*penulis adalah Sekretaris Umum Pengurus Cabang PMII Kota Bandarlampung; Wakil Ketua Umum Pimpinan Cabang IPNU Kota Bandarlampung; dan saat ini tercatat sebagai Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

Padang, 14 Januari 2014 / 12 Robiul Awwal 1435 H
Regards,


3 komentar:

  1. memperingati maulid nabi dapat langsung diartikan memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw
    ---
    berarti sama dengan merayakan ulangtahun ya Pak? :)

    BalasHapus
  2. ya, kurang lebih seperti itu mas Ari :)

    BalasHapus
  3. Mas.. Salam
    Tulisan Mantab, Berkunjung Ke blogg ku ya..hehehe
    http://catatanbocahperiang.blogspot.com/

    BalasHapus