Sertifikasi dan Profesionalisme Guru

Guru memegang peranan penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia.

Moralitas dan Kualitas Guru

Aspek moralitas merupakan bagian integral yang harus dimiliki oleh guru. Aspek ini tercakup dalam dua kompetensi guru, yaitu kompetensi sosial dan kepribadian.

Memutus Mata Rantai Korupsi

Banyak upaya strategis yang dapat dilakukan untuk memutus mata rantai perilaku koruptif pejabat. Lembaga KPK yang menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia.

Esensi dan Makna Maulid Nabi

Setiap jejak laku manusia tak akan berguna jika tidak dapat mengambil hikmah dari apa yang telah dilakukan.

#PrayForSinabung Pengungsi Rindu SBY

Sudah tiga bulan lebih Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, meletus, namun SBY tak kunjung datang, seakan lebih mementingkan partainya ketimbang memikirkan nasib rakyat Karo.

Senin, 28 Juni 2010

Listrik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Listrik adalah bentuk energi sekunder yang paling praktis penggunaanya oleh manusia, dimana listrik dihasilkan dari proses konversi energi sumber primer seperti batubara, minyak bumi, gas, panas bumi, potensial air dan energi angin.
Kebutuhan listrik di masyarakat semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pemanfaatan tenaga listrik pada peralatan-peralatan rumah tangga, kantor dan sebagainya, sehingga pasokan listrik harus ditambah yakni dengan pembangunan pembangkit listrik baru.
Selain tersedianya pembangkitan yang cukup, hal lain yang juga harus ditentukan adalah apakah kondisi transient jika terjadi gangguan akan mengganggu operasi normal sistem atau tidak. Hal ini akan berhubungan dengan kualitas listrik yang sampai ke konsumen berupa kestabilan frekuensi dan tegangan.

Minggu, 27 Juni 2010

Keutamaan Bulan Rajab

Rajab terdiri dari tiga huruf: ra, jim dan ba. Setiap huruf memiliki
arti sendiri-sendiri. Ra berarti rahmatun atau rahmat Allah; jim berarti
juudun, kedermawanan Allah dan ba, berarti birrun, kebaikan Allah.

Bulan Rajab termasuk bulan mulia yang layak dimulaikan dengan memperbanyak
ibadah. Rasullullah bersabda: "Sesungguhnya bulan Rajab itu bulan milik Allah
yang agung. Tak satu bulanpun yang mendekati kemuliaan dan keutamaannya.
Pembunuhan dan peperangan dengan orang kafir pada saat itu diharamkan. Ingat,
sesungguhnya bulan Rajab itu adalah bulan Allah. Sya'ban adalah bulanku.
Sementara Ramadhan adalah bulan milik umatku. Ingatlah, barang siapa berpuasa
sehari saja pada bulan Rajab, maka dia layak mendapatkan ridha Allah dan
dijauhkan dari kemurkaan Allah. Baginya tertutup pintu-pintu neraka".

Hukum Kepler Gerak Planet

Dalam astronomi, hukum Kepler perkiraan memberikan gambaran tentang gerakan dari planet-planet di sekitar Matahari. Kepler's laws are: Hukum Kepler adalah:
1. The orbit dari setiap planet adalah elips dengan Matahari di sebuah fokus.
2. Sebuah garis bergabung dengan sebuah planet dan Matahari sama menyapu keluar daerah selama interval waktu yang sama.
3. The persegi dari periode orbit sebuah planet secara langsung proporsional dengan kubus dari setengah sumbu utama dari orbitnya.

Jumat, 25 Juni 2010

Al Qowiyyu

Allah yang Maha Kuasa, yang benar-benar total sepenuhnya berkuasa atas segala hal, dan tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Allah Maha Adil, jadi apapun yang ditimpakan kepada kita pasti sempurna dan kita tidak layak kecewa. Kecewa dapat saja kita rasakan jika kita salah dalam menyikapinya. Yakinkanlah bahwa perhitungan Allah tidak semata-mata di dunia tetapi adalah persiapan menuju surga. Tetap optimis dan selalu bersikap husnudzon kepada Allah akan membuat hidup kita nyaman. Hidup ini terlalu singkat jika harus disikapi dengan kecewa terhadap perbuatan Allah. Mudah-mudahan kita bisa memposisikan diri kita dengan tepat terhadap makna Al-Qowiyyu terhadap kita.

Kamis, 24 Juni 2010

Bintang

Bintang tampak berkerlip ketika diamati dengan mata. Namun dengan teleskop, efek yang sama juga akan terjadi, bintang juga berkerlip. Fenomena apakah ini? Cahaya yang datang dari bintang yang sangat jauh membuat ia hanya tampak sebagai titik cahaya. Ketika menerobos atmosfer Bumi, cahaya bintang diganggu oleh debu yang banyak beterbangan di atmosfer. Satu debu yang lewat di lintasan cahaya bintang akan membuat cahaya bintang menjadi terhalang. Peristiwa pengahalangan cahaya bintang oleh debu ini terjadi sangat cepat sehingga hasilnya adalah bintang akan tampak berkerlip.

Fotometri Bintang

A. Magnitudo Bolometrik

Magnitude bolometric adalah sistem magnitudo bintang yang diukur dalam seluruh panjang gelombang. Walaupun berbagai magnitudo tersebut dapat menggambarkan sebaran energi pada spektrum bintang sehingga dapat memberikan petunjuk mengenai temperaturnya, namun belum dapat memberikan informasi mengenai sebaran energi pada seluruh panjang gelombang yang dipancarkan oleh suatu bintang. Magnitudo mutlak bolometrik bintang sangat penting karena dapat digunakan untuk mengetahui luminositas dari sebuah bintang (energi total yang dipancarkan permukaan bintang per detik) dengan membandingkannya dengan magnitudo mutlak bolometrik Matahari.

Rabu, 23 Juni 2010

DENGARLAH JERITANNYA

(DIMANAKAH GERANGAN BARISAN PARA SINGA???)

Risalah ini kami tulis untuk menyikapi fenomena ancaman dan intimidasi terhadap beberapa aktivis muslimah yang terjadi belakangan ini, meski tak bisa dipungkiri dimasa sekarang ini sangat jarang terdengar jeritan muslimah sejati yang seandainya membentur gunung pastilah dindingnya akan tergetar, namun yang sering terdengar hanyalah jeritan histeris para wanita ketika melihat aksi idolanya diatas panggung hiburan dan membentangkan poster cinta pada sang idola. Lalu kepada barisan singa dari rimba ( baca : kelompok) mana saja berasal, dimanakah kini keperkasaan dan kecemburuan diri kalian hingga bila terdengar jeritan muslimah teraniaya di belantara kita sendiri, kita hanya menyembunyikan dan mengurung diri dalam keremangan dan kegelapan goa, tanpa ada terdengar auman menggelegar.

Komponen Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Komponen sistem informasi manajemen adalah seluruh elemen yang membentuk suatu sistem informasi. Komponen sistem informasi terbagi menjadi dua yaitu komponen Sistem informasi manajemen secara fungsional dan sistem informasi manajemen secara fisik :

Cara mengamati Aktivitas Matahari dan Pengaruhnya pada Bumi

Seiring dengan perkembangan teknologi elektronika, serta kaitannya dengan iklim, studi tentang aktivitas matahari menjadi perhatian yang semakin perlu dikaji. Bisakah kita memprediksi ‘badai matahari’? Dinamika siklusnya? Dinamika cuaca antariksa yang di dorong dinamika matahari? Pengamatan matahari saat ini telah menggunakan teknologi satelit dalam menentukan bilamanakah terjadi aktivitas yang tiba-tiba dari matahari.

Model Pembelajaran

1. Cooperative Learning

Dalam pembelajaran dibutuhkan suatu metode yang tepat untuk membantu siswa meningkatkan aktivitas dan hasil belajar di kelas. Metode pembelajaran merupakan gabungan antara tujuan dan strategi pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran adalah model pembelajaran Cooperative Learning. Model ini menunjukkan efektivitas untuk berpikir secara kritis, adanya komunikasi antar pribadi dan pemecahan suatu masalah dalam pembelajaran. Metode yang paling dominan dalam Cooperative Learning adalah metode diskusi. Dengan metode ini akan menimbulkan ketarampilan intelektual, melatih komunikasi antar siswa dan keterampilan bekerjasama. Banyak ahli pendidikan mengemukakan secara lugas pengertian pembelajaran kooperatif. Pengertian menurut para ahli tersebut diantaranya adalah: Menurut Karli (2002:70)

Gerhana

Gerhana Matahari
Gerhana matahari terjadi pada waktu bulan berkonjungsi. Gerhana matahari terjadi ketika umbra dan penumbra bulan menutupi matahari.

Bulan

Bulan memiliki diameter 3.476 km dengan massa jenis 3340 kg/m3. Kekuatan gaya tarik bulan hanya 1/6 gaya tarik bumi. Akibatnya, bulan tidak mampu menahan molekul-molekul udara tetap berada di sekelilingnya untuk membentuk atmosfer.
Bentuk permukaan bulan

Tidak ada atmosfer dibulan mengakibatkan terjadinya hal- hal sebagai berikut ;
1. Di bulan tidak ada kehidupan.
2. Permukaan di bulan sangat kasar ( berlubang )
dikarenakan benda-benda yang jatuh tidak ada yang menahan.
3. Bunyi tidak dapat merambat di bulan, hal ini karena
udara atau gas merupakan medium tempat perambatan suara.
4. Suhu di permukaan bulan dapat berubah sangat cepat, antara -173 C sampai 100 C.
5. Di Bulan tidak ada siklus air
Langit bulan tampak hitam legam. Atmosfer bumi berwarna biru karena cahaya matahari yang mengenai molekul-molekul udara menghamburkan cahaya warna biru.

Orbit Bulan
Bidang orbit bulan membentuk sudut 5 derajat terhadap eliptika bumi. Periode rotasi bulan sama dengan periode revolusi nya yaitu 27 1/3 hari. Orbit bulan berbentuk elips. Perigee (titik terdekat) merupakan kedudukan bulan terdekat dari bumi. Dan Apogee ( titik terjauh ) merupakan kedudukan terjauh terhapa bumi. Periode bulan di bagi menjadi 2 yaitu, periode siderik dan periode sinodik.
Fase-ase bulan
Fase bulan adalah perubahan bentuk bulan di lihat dari bumi.

Berikut adalah fase-fase bulan :
1. Fase Bulan Baru
2. Kuatrir Pertama 7 3/8 hari
3. Bulan Purnama 14 3/4 hari
4. Kuartir Ketiga 22 1/8 hari
5. Kuartir ke empat 28 1/2 hari

---------------------------------------------------------------------
MUSTOFA ABI HAMID
EXCEL GROUP
BPH Masjid Al-Wasi’i Unila
Jl.Sumantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng PostCode:35145
Bandar Lampung - Indonesia
Phone: (0721) 783044.
HP. : 0857.6837.3366
e-mail: abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
website: www.mustofaabihamid.blogspot.com

Selasa, 22 Juni 2010

Ledakan Matahari Pemicu Anomali Dinamika Atmosfer Bumi


Matahari merupakan sumber utama energi, menjadi penggerak dan sebagai sumber gangguan bagi atmosfer bumi. Kondisi matahari selalu mengalami perubahan dalam skala waktu pendek (detik, menit, dan 27 hari-an) dan skala panjang (misalnya siklus matahari 11 tahun). Perubahan dalam skala waktu pendek dari matahari yang mempengaruhi lingkungan antariksa dikatakan sebagai cuaca antariksa. Hubungan matahari-bumi merupakan pembahasan tentang fenomena aktivitas matahari sebagai sumber energi dan gangguan terhadap orbit satelit dan dinamika sampah antariksa, magnet antariksa dan magnet bumi regional, dinamika ionosfer dan propagasi gelombang radio, dan dinamika atmosfer tengah dan atas bumi, serta peran aktivitas matahari pada pemanasan dan perubahan iklim global. Parameter aktivitas matahari yang perlu ditinjau adalah bintik matahari (sunspot), solar flux (F10.7), flare optik (H alpha) dan flare X-ray, ultra violet (UV), semburan radio (radio bursts), lontaran massa korona (Coronal Mass Ejection/CME), angin surya (solar wind) dan solar proton.O

---------------------------------------------------------------------
MUSTOFA ABI HAMID
BPH Masjid Al-Wasi’i Unila
Jl.Sumantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng PostCode:35145
Bandar Lampung - Indonesia
Phone: (0721) 783044.
HP. : 0857.6837.3366
e-mail: abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
website: www.mustofaabihamid.blogspot.com

Sabtu, 19 Juni 2010

Sun

Mankind will not remain on Earth forever, but in its quest for light and space will at first timidly penetrate beyond the confines of the atmosphere, and later will conquer for itself all the space near the Sun. - Konstantin E. Tsiolkovsky
The Sun is the most prominent feature in our solar system. It is the largest object and contains approximately 98% of the total solar system mass. One hundred and nine Earths would be required to fit across the Sun's disk, and its interior could hold over 1.3 million Earths. The Sun's outer visible layer is called the photosphere and has a temperature of 6,000°C (11,000°F). This layer has a mottled appearance due to the turbulent eruptions of energy at the surface.

Solar energy is created deep within the core of the Sun. It is here that the temperature (15,000,000° C; 27,000,000° F) and pressure (340 billion times Earth's air pressure at sea level) is so intense that nuclear reactions take place. This reaction causes four protons or hydrogen nuclei to fuse together to form one alpha particle or helium nucleus. The alpha particle is about .7 percent less massive than the four protons. The difference in mass is expelled as energy and is carried to the surface of the Sun, through a process known as convection, where it is released as light and heat. Energy generated in the Sun's core takes a million years to reach its surface. Every second 700 million tons of hydrogen are converted into helium ashes. In the process 5 million tons of pure energy is released; therefore, as time goes on the Sun is becoming lighter.

The chromosphere is above the photosphere. Solar energy passes through this region on its way out from the center of the Sun. Faculae and flares arise in the chromosphere. Faculae are bright luminous hydrogen clouds which form above regions where sunspots are about to form. Flares are bright filaments of hot gas emerging from sunspot regions. Sunspots are dark depressions on the photosphere with a typical temperature of 4,000°C (7,000°F).

The corona is the outer part of the Sun's atmosphere. It is in this region that prominences appears. Prominences are immense clouds of glowing gas that erupt from the upper chromosphere. The outer region of the corona stretches far into space and consists of particles traveling slowly away from the Sun. The corona can only be seen during total solar eclipses.
The Sun appears to have been active for 4.6 billion years and has enough fuel to go on for another five billion years or so. At the end of its life, the Sun will start to fuse helium into heavier elements and begin to swell up, ultimately growing so large that it will swallow the Earth. After a billion years as a red giant, it will suddenly collapse into a white dwarf -- the final end product of a star like ours. It may take a trillion years to cool off completely.

Sun Statistics
Mass (kg) 1.989e+30
Mass (Earth = 1) 332,830
Equatorial radius (km) 695,000
Equatorial radius (Earth = 1) 108.97
Mean density (gm/cm^3) 1.410
Rotational period (days) 25-36*
Escape velocity (km/sec) 618.02
Luminosity (ergs/sec) 3.827e33
Magnitude (Vo) -26.8
Mean surface temperature 6,000°C
Age (billion years) 4.5


* The Sun's period of rotation at the surface varies from approximately 25 days at the equator to 36 days at the poles. Deep down, below the convective zone, everything appears to rotate with a period of 27 days.

Eclipse & Sun Movies
• Hinode Animations
• STEREO: Feb. 25, 2007 eclipse movie.
• SOHO - Halo Mass Ejection Event.
• SOHO - Halo Mass Ejection Event - Zoomed Out.
• SOHO - Explosive Coronal Mass Ejections from the Sun.
• SOHO-6 Comet at 2-6 solar radii from the Sun.
• Solar Magnetic Field Map
• Man's Fascination of the Sun.
• The Sun's interior, photosphere, and corona.
• Sun's magnetic field, prominences, solar wind, aurora.
• Corona Animation of Solar Prominences.
• 1993-1994 animation of the Sun as seen in soft x-rays.
• 1994 Eclipse.
• A QuickTime movie (15 Mbyte) of the above eclipse.
• A 3d movie of convection. (Courtesy of Andrea Malagoli)
• Views of the Sun
• Sun Prominence

This image was acquired from NASA's Skylab space station on December 19, 1973. It shows one of the most spectacular solar flares ever recorded, propelled by magnetic forces, lifting off from the Sun. It spans more than 588,000 km (365,000 miles) of the solar surface. In this photograph, the solar poles are distinguished by a relative absence of supergranulation network, and a much darker tone than the central portions of the disk. (Courtesy NASA)

Comet SOHO-6 and Solar Polar Plumes
This image of the solar corona was acquired on 23 December 1996 by the LASCO instrument on the SOHO spacecraft. It shows the inner streamer belt along the Sun's equator, where the low latitude solar wind originates and is accelerated. Over the polar regions, one sees the polar plumes all the way out to the edge of the field of view. The field of view of this coronagraph encompasses 8.4 million kilometers (5.25 million miles) of the inner heliosphere. The frame was selected to show Comet SOHO-6, one of seven sungrazers discovered so far by LASCO, as its head enters the equatorial solar wind region. It eventually plunged into the Sun. (Courtesy ESA/NASA)

Eclipse From STEREO Spacecraft
This is a frame from the Feb. 25, 2007 movie of the transit of the Moon across the face of the Sun. This sight was visible only from the STEREO-B spacecraft in its orbit about the sun, trailing behind the Earth. NASA's STEREO mission consists of two spacecraft launched in October, 2006 to study solar storms. The transit started at 1:56 am EST and continued for 12 hours until 1:57 pm EST. STEREO-B is currently about 1 million miles from the Earth, 4.4 times farther away from the Moon than we are on Earth. As the result, the Moon appeared 4.4 times smaller than what we are used to. This is still, however, much larger than, say, the planet Venus appeared when it transited the Sun as seen from Earth in 2004. (Courtesy NASA)

The Unquiet Sun
This sequence of images of the the Sun in ultraviolet light was taken by the Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) spacecraft on February 11, 1996 from its unique vantage point at the "L1" gravity neutral point 1 million miles sunward from the Earth. An "eruptive prominence" or blob of 60,000°C gas, over 80,000 miles long, was ejected at a speed of at least 15,000 miles per hour. The gaseous blob is shown to the left in each image. These eruptions occur when a significant amount of cool dense plasma or ionized gas escapes from the normally closed, confining, low-level magnetic fields of the Sun's atmosphere to streak out into the interplanetary medium, or heliosphere. Eruptions of this sort can produce major disruptions in the near Earth environment, affecting communications, navigation systems and even power grids. (Courtesy ESA/NASA)

A New Look at the Sun
This image of 1,500,000°C gas in the Sun's thin, outer atmosphere (corona) was taken March 13, 1996 by the Extreme Ultraviolet Imaging Telescope onboard the Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) spacecraft. Every feature in the image traces magnetic field structures. Because of the high quality instrument, more of the subtle and detail magnetic features can be seen than ever before. (Courtesy ESA/NASA)

X-Ray Image
This is an X-ray image of the Sun obtained on February 21, 1994. The brighter regions are sources of increased X-ray emissions. (Courtesy Calvin J. Hamilton, and Yohkoh)


Solar Disk in H-Alpha
This is an image of the Sun as seen in H-Alpha. H-Alpha is a narrow wavelength of red light that is emitted and absorbed by the element hydrogen. (Courtesy National Solar Observatory/Sacramento Peak)

Solar Flare in H-Alpha
This is an image of a solar flare as seen in H-Alpha. (Courtesy National Solar Observatory/Sacramento Peak)

Solar Magnetic Fields
This image was acquired February 26, 1993. The dark regions are locations of positive magnetic polarity and the light regions are negative magnetic polarity. (Courtesy GSFC NASA)

Sun Spots
This image shows the region around a sunspot. Notice the mottled appearance. This granulation is the result of turbulent eruptions of energy at the surface. (Courtesy National Solar Observatory/Sacramento Peak)

1991 Solar Eclipse
This image shows the total solar eclipse of July 11, 1991 as seen from Baja California. It is a digital mosaic derived from five individual photographs, each exposed correctly for a different radius in the solar corona. (Courtesy Steve Albers, Dennis DiCicco, and Gary Emerson)

1994 Solar Eclipse
This picture of the 1994 solar eclipse was taken November 3, 1994, as observed by the High Altitude Observatory White Light Coronal camera from Chile. (Courtesy HAO, NCAR)

Peranan Unsur Sosial Budaya dalam Pengajaran BIPA

1. Pengantar

Bahasa pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial, bahasa juga merupakan fenomena budaya. Sebagai fenomena sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua orang peserta. Oleh karena itu, berbagai faktor sosial yang berlaku dalam komunikasi, seperti hubungan peran di antara peserta komunikasi, tempat komunikasi berlangsung, tujuan komunikasi, situasi komunikasi, status sosial, pendidikan, usia, dan jenis kelamin peserta komunikasi, juga berpengaruh dalam penggunaan bahasa.
Sementara itu, sebagai fenomena budaya, bahasa selain merupakan salah satu unsur budaya, juga merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya. Atas dasar itu, pemahaman terhadap unsur-unsur budaya suatu masyarakat--di samping terhadap berbagai unsur sosial yang telah disebutkan di atas--merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari suatu bahasa. Hal yang sama berlaku pula bagi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, mempelajari bahasa Indonesia--lebih-lebih lagi bagi para penutur asing--berarti pula mempelajari dan menghayati perilaku dan tata nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat Indonesia.
Kenyataan tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pengajaran bahasa, sudah semestinya pengajar tidak terjebak pada pengutamaan materi yang berkenaan dengan aspek-aspek kebahasaan semata, tanpa melibatkan berbagai aspek sosial budaya yang melatari penggunaan bahasa. Dalam hal ini, jika pengajaran bahasa itu hanya dititikberatkan pada penguasaan aspek-aspek kebahasaan semata, hasilnya tentu hanya akan melahirkan siswa yang mampu menguasai materi, tetapi tidak mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Pengajaran bahasa yang demikian tentu tidak dapat dikatakan berhasil, lebih-lebih jika diukur dengan pendekatan komunikatif. Dengan perkataan lain, kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar itu mensyaratkan adanya penguasaan terhadap aspek-aspek kebahasaan dan juga pengetahuan terhadap aspek-aspek sosial budaya yang menjadi konteks penggunaan bahasa.
Sayangnya, sejauh ini belum diketahui secara pasti sejauh mana pengetahuan tentang aspek-aspek sosial budaya itu diterapkan di dalam buku-buku ajar BIPA. Kecuali itu, juga belum diketahui unsur-unsur sosial budaya apa yang perlu diajarkan pada peserta BIPA. Padahal, pengetahuan tentang berbagai aspek sosial budaya itu sangat penting bagi para pembelajar BIPA. Untuk melengkapi pengetahuan itulah, makalah ini akan memaparkan hasil penelitian terhadap sejumlah buku BIPA, baik yang digunakan di dalam maupun di luar negeri. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan tentang aspek-aspek sosial budaya itu diterapkan di dalam buku-buku ajar BIPA. Kecuali itu, akan dipaparkan pula aspek-aspek sosial budaya apa saja yang perlu diketahui oleh para pembelajar BIPA.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini didasari oleh konsep dasar teoretis yang memandang bahwa belajar berbahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Belajar berkomunikasi berarti belajar bagaimana cara menyampaikan pesan dari satu pihak kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa. Untuk itu, agar komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung secara efektif dan efisien, dalam arti baik dan benar, pembelajar bahasa selain perlu memiliki pengetahuan tentang kaidah bahasa, seperti tata bahasa, sistem bunyi, dan leksikon, juga perlu mengetahui berbagai aspek sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat yang bahasanya dipelajari. Dengan perkataan lain, kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar itu dapat dicapai jika pembelajar memiliki kompetensi komunikatif.
Berbagai pendapat, seperti yang dikemukakan oleh Hymes (1971), Canale dan Swain (1980), Saville-Troike (1982:25), Canale (1983), Bachman (1990), menyiratkan kesamaan pandangan bahwa kompetensi komunikatif tidak hanya mencakup pengetahuan tentang bahasa, tetapi juga mencakup kemampuan menggunakan bahasa itu sesuai dengan konteks sosial budayanya. Jadi, kompetensi komunikatif itu tidak hanya berisi pengetahuan tentang masalah kegramatikalan suatu ujaran, tetapi juga berisi pengetahuan tentang patut atau tidaknya suatu ujaran itu digunakan menurut status penutur dan pendengar, ruang dan waktu pembicaraan, derajat keformalan, medium yang digunakan, pokok pembicaraan, dan ranah yang melingkupi situasi pembicaraan itu.
Pandangan tersebut mengisyaratkan bahwa faktor-faktor sosial budaya yang menjadi konteks penggunaan bahasa merupakan hal yang perlu diketahui oleh para pembelajar bahasa agar mereka dapat berkomunikasi secara baik dan benar dalam situasi yang sebenarnya.

2. Aspek-Aspek Sosial Budaya
Sesuai dengan hasil kajian yang telah dilakukan, konsep mengenai aspek-aspek sosial budaya--meskipun batas-batasnya tidak tegas benar--dapat dibedakan ke dalam aspek-aspek sosial dan aspek-aspek budaya. Berkenaan dengan hal itu, konsep mengenai aspek-aspek sosial yang dimaksud, antara lain, sebagai berikut.

(1) Tempat komunikasi berlangsung
(2) Tujuan komunikasi
(3) Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial, pendidikan, usia, dan jenis kelaminnya
(4) Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi, termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban peserta komunikasi
(5) Topik pembicaraan
(6) Situasi komunikasi
(7) Waktu berlangsungnya komunikasi
(8) Domain atau ranah pembicaraan
(9) Sarana komunikasi yang digunakan
(10) Ragam bahasa atau variasi bahasa
(11) Penggunaan sistem sapaan
(12) Peristiwa tutur (misalnya kuliah, pesta ulang tahun, upacara perkawinan, dsb.)

Agak berbeda dengan itu, aspek-aspek budaya yang diharapkan ada di dalam buku-buku bahan ajar BIPA adalah sebagai berikut.

(1) Benda-benda budaya (artifact)
(2) Gerak-gerik anggota badan (kinesics)
(3) Jarak fisik ketika berkomunikasi (proxemics)
(4) Kontak pandangan mata ketika berkomunikasi
(5) Penyentuhan (kinesthesics)
(6) Adat-istiadat atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat
(7) Sistem nilai yang berlaku di masyarakat
(8) Sistem religi yang dianut masyarakat
(9) Mata pencarian penduduk
(10) Kesenian
(11) Pemanfaatan waktu
(12) Cara berdiri, cara duduk, dan cara menghormati orang lain
(13) Keramah-tamahan, tegur sapa, dan basa-basi
(14) Pujian
(15) Hal-hal yang tabu dan pantang
(16) Gotong royong dan tolong-menolong
(17) Sopan santun, termasuk penggunaan eufemisme

3. Penerapannya di dalam Buku BIPA
Sesuai dengan data yang diperoleh, dapat dikemukakan bahwa belum semua buku bahan ajar BIPA menyajikan materi atau informasi tentang aspek-aspek sosial budaya masyarakat Indonesia. Hal itu terbukti dari 43 judul buku BIPA yang diamati, ternyata yang menyajikan materi tentang aspek-aspek sosial budaya masyarakat Indonesia hanya 24 buah atau 56%. Sisanya, sebanyak 19 judul buku atau 44% tidak menyajikan materi tersebut.
Meskipun demikian, dari 19 judul buku BIPA yang tidak menyajikan materi sosial budaya itu, 8 judul di antaranya (42%), atau 19% dari jumlah seluruh buku, tetap menyajikan informasi tentang aspek-aspek sosial budaya itu. Hanya saja, penyajiannya itu terbatas pada teks-teks bacaan saja. Selebihnya, 11 judul buku yang lain (58%), atau 26% dari jumlah seluruh buku, sama sekali tidak menyinggung masalah sosial budaya yang berlaku di dalam masyarakat Indonesia.
Pencantuman materi tentang aspek-aspek sosial budaya masyarakat Indonesia di dalam buku-buku tersebut, kecuali dalam buku Spoken Indonesian: A Course in Indonesian National Language yang ditulis Edmund A. Anderson, hampir seluruhnya tidak diintegrasikan di dalam teks materi ajar. Pencantuman itu umumnya hanya dilakukan di dalam tajuk Catatan Budaya, sedangkan dalam beberapa buku yang lain pencantumannya di dalam tajuk Keterangan. Kenyataan itu menunjukkan bahwa materi tentang aspek-aspek sosial budaya--oleh para penulis buku BIPA--hanya dianggap sebagai pelengkap. Jadi, materi itu belum dipandang sebagai bagian yang penting di dalam pengajaran BIPA. Padahal, tanpa pengetahuan mengenai aspek-aspek sosial budaya itu mustahil pembelajar BIPA dapat berkomunikasi secara baik dan benar dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Kenyataan tersebut memang patut disayangkan. Meskipun demikian, hal itu masih lebih baik daripada tidak mencantumkan informasi tentang aspek-aspek sosial budaya sama sekali. Paling tidak, meskipun hanya dicantumkan di dalam tajuk Catatan Budaya atau pun Keterangan, hal itu dapat mengingatkan para pengajar BIPA bahwa materi tentang aspek-aspek sosial budaya itu perlu disampaikan kepada para pembelajar BIPA agar mereka mengenal masalah-masalah sosial budaya Indonesia. Dengan pengenalan itu, diharapkan mereka dapat berkomunikasi secara baik dan benar dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Berbeda dengan buku-buku BIPA yang lain, dalam buku Edmund Anderson yang berjudul Spoken Indonesian: A Course in Indonesian National Language (1996), aspek-aspek sosial budaya masyarakat Indonesia dicantumkan secara eksplisit sebagai materi ajar yang utama. Di dalam buku itu, informasi tentang aspek-aspek sosial budaya yang dicantumkan meliputi jarak sosial (saling kenal atau tidaknya para peserta komunikasi), jenis kelamin, usia, status sosial, dan hubungan kekeluargaan di antara para peserta komunikasi. Beberapa aspek sosial tersebut dianggap sebagai penentu yang penting dalam berkomunikasi dengan orang lain, terutama dalam memilih bentuk-bentuk ujaran yang sesuai dengan konteksnya, baik yang berupa konteks sosial maupun konteks budayanya.
Di samping hal tersebut, di dalam buku Anderson itu diberikan pula gambaran tentang situasi yang menentukan ragam bahasa, dan juga lokasi pembicaraan, seperti di kantor pos, di rumah, di restoran, dan di pasar. Informasi tersebut selain dicantumkan sebagai materi pelajaran, juga disertai pula dengan contoh-contoh penggunaannya. Bahkan, pembahasan mengenai hal itu dicantumkan di dalam bab tersendiri.

3.1 Aspek-Aspek Sosial di dalam Buku BIPA
Sebagaimana yang telah disebutkan pada Butir (2) di atas, aspek-aspek sosial yang mempengaruhi penggunaan bahasa ada dua belas jenis. Apakah seluruh aspek itu sudah dicantumkan sebagai materi ajar di dalam buku-buku BIPA? Untuk menjawab hal itu, uraian berikut ini didasarkan pada sejumlah data yang telah diperoleh dalam penelitian ini.

Dari 24 buku BIPA yang mencantumkan informasi tentang aspek-aspek sosial budaya, ternyata aspek-aspek sosial itu hanya tercantum di dalam 16 judul buku.
Dari ke-16 buku BIPA tersebut, aspek-aspek sosial dalam berkomunikasi yang dicantumkan ternyata sebagian besar hampir sama karena umumnya aspek-aspek itu berupa penggunaan bentuk-bentuk sapaan atau sistem sapaan beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara lebih eksplisit, dari 12 aspek sosial yang diharapkan ada, ternyata hanya 7 aspek yang terdapat di dalam buku-buku BIPA yang diteliti. Hal itu berarti, ada lima aspek lain yang belum tercantum di dalam buku-buku BIPA yang diteliti itu.
Ketujuh aspek sosial yang terdapat dalam buku-buku BIPA yang diteliti itu adalah sebagai berikut.
1. Tempat komunikasi berlangsung
2. Peserta komunikasi
3. Hubungan peran atau hubungan sosial di antara peserta komunikasi
4. Topik pembicaraan
5. Situasi komunikasi
6. Ragam bahasa atau variasi bahasa
7. Penggunaan sistem sapaan

Sementara itu, kelima aspek sosial yang belum tercantum di dalam buku-buku BIPA yang diteliti itu adalah sebagai berikut.
1. Tujuan komunikasi
2. Waktu berlangsungnya komunikasi
3. Ranah atau domain komunikasi
4. Sarana komunikasi yang digunakan
5. Peristiwa tutur

3.2 Aspek-Aspek Budaya di dalam Buku BIPA
Seperti yang telah dikemukakan pada Butir (2) di atas, aspek-aspek budaya yang diharapkan ada di dalam buku-buku BIPA berjumlah 17 jenis. Realisasinya, dari 43 judul buku BIPA yang diamati, ternyata yang menyajikan materi tentang aspek-aspek sosial budaya hanya 24 judul buku. Namun, apakah ke-24 buku itu juga seluruhnya menyajikan aspek-aspek budaya? Setelah dicermati, ternyata dari ke-24 buku itu, seluruhnya menyajikan materi tentang aspek-aspek budaya.
Dalam ke-24 buku BIPA tersebut, aspek-aspek budaya yang dicantumkan ternyata sebagian besar berupa benda-benda budaya, kesenian, dan adat-istiadat. Kecuali itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dari 17 aspek budaya yang diharapkan ada, ternyata hanya 12 aspek yang terdapat dalam buku-buku BIPA yang diteliti. Hal itu berarti, ada lima aspek lain yang tidak dicantumkan di dalam buku-buku BIPA yang diamati.
Kedua belas aspek budaya yang terdapat di dalam buku-buku BIPA yang diteliti adalah sebagai berikut.
(1) Benda-benda budaya (artifact)
(2) Gerak-gerik anggota badan (kinesics)
(3) adat-istiadat atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat
(4) Sistem nilai yang berlaku di masyarakat
(5) Sistem religi yang dianut masyarakat
(6) Mata pencarian penduduk
(7) Kesenian
(8) Pemanfaatan waktu
(9) Cara berdiri, cara duduk, dan cara menghormati orang lain
(10) Sopan santun, termasuk penggunaan eufemisme
(11) Gotong royong dan tolong-menolong
(12) Ramah tamah, tegur sapa, basa-basi

Sementara itu, kelima aspek budaya yang tidak tercantum di dalam buku-buku BIPA yang diteliti adalah sebagai berikut.
(1) Jarak fisik ketika berkomunikasi (proxemics)
(2) Kontak pandangan mata ketika berkomunikasi
(3) Penyentuhan (kinesthesics)
(4) Pujian
(5) Hal-hal yang tabu dan pantang

4. Peranannya dalam Pengajaran BIPA
Aspek-aspek sosial budaya mempunyai peranan yang amat penting dalam pengajaran BIPA. Peranannya itu terutama dapat menghindarkan pembelajar bahasa dari kemungkinan terjadinya benturan budaya (cultural shock) ketika berkomunikasi dengan penutur asli. Kecuali itu, dengan pemahaman terhadap aspek-aspek sosial budaya, pembelajar juga dapat mengetahui apakah unsur-unsur bahasa yang akan digunakannya itu dapat menyinggung perasaan orang lain atau mungkin bertentangan dengan norma-norma sosial budaya yang berlaku di masyarakat atau tidak. Dengan perkataan lain, pemahaman terhadap aspek-aspek sosial budaya itu dapat berperan dalam menanamkan tata krama (unggah-ungguh) pada diri si pembelajar dalam berkomunikasi dengan penutur asli.
Dengan mengetahui tata krama atau unggah-ungguh dalam berkomunikasi itu, pembelajar bahasa dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Di samping itu, pemahaman terhadap aspek-aspek sosial budaya tersebut secara umum juga dapat berperan menambah wawasan pengetahuan dan penghayatan para pembelajar BIPA terhadap berbagai aspek sosial budaya masyarakat Indonesia.

5. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, kemampuan berkomunikasi tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan terhadap unsur-unsur kebahasaan, tetapi juga oleh pemahaman terhadap aspek-aspek sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Aspek-aspek sosial budaya itu sangat berperan dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, agar dapat berkomunikasi secara baik dan benar, pembelajar bahasa diharapkan dapat memahami aspek-aspek sosial budaya masyarakat yang bahasanya dipelajari.
Kedua, aspek-aspek sosial budaya yang perlu dipahami itu dapat dipilah ke dalam aspek-aspek sosial dan aspek-aspek budaya. Di dalam buku-buku BIPA yang diteliti, aspek-aspek sosial budaya tersebut ternyata belum sepenuhnya dicantumkan sebagai materi ajar. Hal itu terbukti dari 43 buku yang diteliti, ternyata hanya 24 buku (56%) yang mencantumkan aspek-aspek tersebut. Sisanya, sebanyak 8 buku (19%) hanya mencantumkannya di dalam teks-teks bacaan. Di dalam 11 buku yang lain (26%) aspek-aspek sosial budaya itu sama sekali tidak dicantumkan.
Ketiga, pencantuman aspek-aspek sosial budaya di dalam ke-24 buku BIPA tersebut ternyata belum diintegrasikan ke dalam teks materi ajar. Hal itu terbukti dari pencantuman aspek-aspek tersebut yang hanya di dalam tajuk Catatan Budaya atau pun Keterangan sehingga mengesankan bahwa pencantuman itu hanya sebagai pelengkap. Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa aspek-aspek sosial budaya itu belum dianggap sebagai bagian yang penting di dalam pengajaran BIPA. Padahal, tanpa pemahaman terhadap aspek-aspek sosial budaya itu mustahil pembelajar bahasa dapat berkomunikasi secara baik dan benar.
Terakhir, pengetahuan tentang aspek-aspek sosial budaya itu mempunyai peranan yang amat penting dalam pengajaran BIPA. Dengan pengetahuan itu, pembelajar bahasa dapat memahami tata krama dalam berbahasa dan dapat menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya benturan budaya (cultural shock).



PUSTAKA ACUAN


Bachman, Lyle F. 1990. Fundamental Considerations in Language Testing. Oxford: Oxford University Press.
Canale, M. dan M. Swain. 1980. "Theoretical Bases of Communicative Approach to Second Language Teaching and Learning". Dalam Applied Linguistics. I.1.
Canale, M. 1983. "From communicative Competence to Communicative Language Pedagogy". Dalam J.C. Richards dan R.Schmidt (Ed.). Language and Communication. London: Longman.
Fishman, Joshua A. 1972. "The Sociology of Language". Dalam P.P. Giglioli (Ed.). Language and Social Context. Harmondworth, Middlesex: Penguin Books.

Fishman, Joshua A. 1976. Reading in the Sociology of Language. The Hague: Mouton.
Hymes, Dell. 1971. "On Communicative Competence". Dalam Pride, J.B. dan Janet Holmes (Ed.). Sociolinguistics. Middlesex: Penguin Books.
Hymes, Dell. 1972. "Models of the Interaction of Language and Social Life". Dalam J.J. Gumperz dan Dell Hymes (Ed.). Directions in the Sociolinguistics. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Hymes, Dell. 1974. Foundations in Sociolinguistics. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.
Koentjaraningrat. 1985. "Persepsi tentang Kebudayaan Nasional". Dalam Alfian (Ed.). Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Jakarta: PT Gramedia. Hlm. 99--141.
Sapir, Edward. 1964. Culture, Language, and Personality. Berkeley, Los Angeles: University of California Press.
Saville-troike, M. 1982. The ethnography of Communication. Oxford: Basil Blackwell.

---------------------------------------------------------------------
MUSTOFA ABI HAMID
BPH Masjid Al-Wasi’i Unila
Jl.Sumantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng PostCode:35145
Bandar Lampung - Indonesia
Phone: (0721) 783044.
HP. : 0857.6837.3366
e-mail: abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
website: www.mustofaabihamid.blogspot.com

PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK

Oleh :
Mustofa Abi Hamid
0913022055
PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Peran lingkungan dalam mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan pra kelahiran maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri khususnya lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Banyak hadis yang meriwayatkan pentingnya pengaruh keluarga dalam pendidikan anak dalam beberapa masalah seperti masalah aqidah, budaya, norma, emosional dan sebaginya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan berdasarkan fitrah, Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya dia yahudi atau nasrani atau majusi”.

Perlu ditekankan bahwa lingkungan tidak seratus persen mempengaruhi manusia, karena Allah menciptakan manusia disertai dengan adanya ikhtiar dan hak pilih. Dengan ikhtiarnya, manusia bisa mengubah nasibnya sendiri. Dalam tulisan ini penulis ingin mencoba mengkaji peran lingkungan keluarga dalam pembentukan pribadi seseorang. Lingkungan adalah sesuatu yang berada di luar batasan-batasan kemampuan dan potensi genetik seseorang dan ia berperan dalam menyiapkan fasilitas-fasilitas atau bahkan menghambat seseorang dari pertumbuhan.Lingkungan jika dihadapkan dengan genetik ia adalah faktor luar yang berpengaruh dalam pembentukan dan perubahan kepribadian seseorang baik itu faktor-faktor lingkungan pra kelahiran atau pasca kelahiran yang mencakup lingkungan alam, lingkungan ekonomi dan lingkungan sosial. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah lingkungan sosial yang di dalamnya terdapat lingkungan keluarga yang sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak dan faktor-faktor di dalamnya yang memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadian tersebut yang tentunya tidak terlepas dari peran keluarga.

B. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran lingkungan keluarga terhadap pembentukan kepribadian anak termasuk besarnya pengaruhnya terhadap anak tersebut dan faktor-faktor yang berpengaruh di dalamnya.

BAB II
ISI


Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tetang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. F.J. Brown dalam Syamsu (2000 ; 36) mengemukakan bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologi, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang berhubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga; b) dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak.
Kata kepribadian berasal dari bahasa Italia dan Inggris yang berarti persona atau personality yang berarti topeng. Akan tetapi sampai saat ini asal usul kata ini belum diketahui. Konteks asli dari kepribadian adalah gambaran eksternal dan sosial. hal ini diilustrasikan berdasarkan peran seseorang yang dimainkannya dalam masyarakat. Pada dasarnya manusialah yang menyerahkan sebuah kepribadian kepada masyarakatnya dan masyarakat akan menilainya sesuai degan kepribadian tersebut. Definisi kepribadian memiliki lebih dari lima puluh arti akan tetapi definisi kepribadian yang penulis maksud di sini adalah himpunan dan ciri-ciri jasmani dan rohani atau kejiwaan yang relatif tetap yang membedakan seseorang dengan orang lain pada sisi dan kondisi yang berbeda-beda yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat. Unsur-unsur yang ada dalam sebuah keluarga baik budaya, mazhab, ekonomi bahkan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak khususnya ayah dan ibu. Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang menyiapkan potensi pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak. Lebih jelasnya, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan tingkah laku kedua orang tua serta lingkungannya. Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan, norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga. Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada masa pra kelahiran yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan iqamat pada telinga bayi yang baru lahir, tahnik (meletakkan buah kurma pada langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi, aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh pada jiwa anak.

Perilaku-perilaku anak akan menjadikan penyempurna mata rantai interaksi anggota keluarga dan pada saat yang sama interaksi ini akan membentuk kepribadiannya secara bertahap dan memberikan arah serta menguatkan perilaku anak pada kondisi-kondisi yang sama dalam kehidupan.
Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibulah yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh.

Faktor-faktor (genetik dan lingkungan) secara terpisah atau dengan sendirinya tidak bisa menentukan pendidikan tanpa adanya yang lainnya, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam menentukan pendidikan dan kepribadian seseorang sehingga jika salah satunya tidak banyak dipergunakan maka yang lainnya harus dipertekankan lebih keras. Konteks kepribadian yang sudah didefinisikan pada pembahasan di atas tidak ada kaitannya dengan kepribadian baik atau buruk, akan tetapi dalam tulisan ini penulis berusaha mengkaji kepribadian yang baik dan positif dalam bingkai peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak. Kedua orang tua memiliki tugas di hadapan anaknya di mana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Anak pada awal masa kehidupannya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya. Dengan dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka maka orang tua akan menghasilkan anak yang riang dan gembira. Untuk mewujudkan kepribadian pada anak, konsekuensinya kedua orang tua harus memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, begitu juga kedua orang tua harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan masalah psikologi dan tahapan perubahan dan pertumbuhan manusia.

Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self actualization). Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga.Secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai :
(1) pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya,
(2) sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis,
(3) sumber kasih sayang dan penerimaan,
(4) model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang bak,
(5) pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat,
(6) pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan,
(7) pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri,
(8) stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat,
(9) pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan
(10) sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.
Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anaka yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak.

Dilihat dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga ini dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi-fungsi berikut:
1.Fungsi Biologis
Keluarga dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan legalitas, kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi (a) pangan, sandang, dan pangan, (b) hubungan seksual suami-istri, dan (c) reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan tempat “penyemaaian” bibit-bibit insani yang fitrah).
2. Fungsi Ekonomis
Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak). Maksudnya, kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara yang ma’ruf (baik). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberi nafkah), melainkan menurut kadar kesanggupannya.
3. Fungsi Pendidikan (Edukatif)
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4: “Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan”.
4 Fungsi Sosialisasi
Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan factor penentu (determinant factor) yang angat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerjasama dengan orang lain dan lain-lain.
5. Fungsi Perlindungan
Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidakyamanan para anggotanya.
6. Fungsi Rekreatif
Keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dan penuh semangat bagi anggotanya.
7. Fungsi Agama (Religius)
Keluarga berfungsi sebagai penanaman nilai-ilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Keluarga berkewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotanya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluaraga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai yang rusak. Sejalan dengan modernitas, sekolah memang berperan sebagai in loco parentis atau mengambil alih peran orang tua. Tetapi institusi sekolah tidak akan mampu mengambil alih seluruh peran orang tua dalam pendidikan anak.

Globalisasi, kalau ditinjau dari dampak cultural dan kemajuan teknologi, merupakan wahana ‘penjajahan’ oleh kultur yang dominan. Nilai-nilai budaya dominan ini yang sebagian besar tidak sesuai dengan timbangan moral Indonesia sudah menembus kamar-kamar dan sekeliling kita. Dalam konteks ini, keluarga bisa dimetafora sebagai sebuah benteng yang mampu menciptakan ‘imunisasi’ bukan ‘sterilisasi’. Pendekatan imunisasi bermakna bahwa anak tetap berperan aktif dalam lingkungan global tetapi pendidikan dalam keluarga memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Dengan kata lain, putra-putri kita diarahkan untuk secara optimal meraih manfaat dan nilai positif dari globalisasi. Idealnya, kita arahkan mereka untuk menjadi ‘pemain’, bukan ‘penonton’ apalagi ‘obyek’ globalisasi. Sedangkan ‘sterilisasi’ akan berdampak kurang baik bagi pertumbuhan anaka dan bisa menumbuhkan sikap eskapisme dan isolatif. Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan fitrah beragama anak. Menurut Hurlock dalam Syamsu (2001 ; 138) Keluarga merupakan “Training Centre” bagi penanaman nilai-nilai. Pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak, seyogianya bersamaan dengan perkembangan kepribadiannya, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari itu sejak dalam kandungan.

Pendidikan dalam lingkungan keluarga sebaiknya diberikan sedini mungkin St. Franciscus Xaverius mengatakan: “Give me the children until are seven and anyone may have them afterward”. Sedangkan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad (SAW), menganjurkan: Ajaklah anak pada usia sejak lahir sampai tujuh tahun bermain, ajarkan anak peraturanatau adab ketika meraka berusia tujuh sampai empat belas tahun, pada usia empat belas sampai dua puluh satu tahun, jadikanlah anak sebagai mitra orang tuanya.

Ketika anak masuk ke sekolah mengikuti pendidikan formal, dasar-dasar karakter anak ini sudah terbentuk. Anak yang sudah memiliki watak yang baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih tinggi karena perpaduan antara intelligence quotient, emotional quotient dan spiritual quotient sudah mulai terformat dengan baik. Disamping itu, hal tersebut bisa pula mengurangi beban sekolah dengan pemahaman bahwa sekolah bisa lebih berfokus pada aspek bagaimana memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengembangkan potensi konigtif, afektif dan motorik.

Pada perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada perkembangan awal anak, mereka telah menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang yang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik sosial maupun emosional. Kerjasama dan hubungan dengan teman berkembang sesuai dengan bagaimana pandangan anak terhadap lingkungan sekitarnya. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat di mana anak berada. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain:
1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Ketika anak-anak mendapatkan cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, maka pada saat mereka berada di luar rumah dan menghadapi masalah-masalah baru mereka akan bisa menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Sebaliknya jika kedua orang tua terlalu ikut campur dalam urusan mereka atau mereka memaksakan anak-anaknya untuk menaati mereka, maka perilaku kedua orang tua yang demikian ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan kepribadian mereka.
2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anak-anak yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak pilih.
3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak. Hormat di sini bukan berarti bersikap sopan secara lahir akan tetapi selain ketegasan kedua orang tua, mereka harus memperhatikan keinginan dan permintaan alami dan fitri anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka yang terkait dengan diri mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya.
4. Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa keberadaannya bermanfaat dan penting.
5. Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak). Dengan melihat keingintahuan fitrah dan kebutuhan jiwa anak, mereka selalu ingin tahu tentang dirinya sendiri. Tugas kedua orang tua adalah memberikan informasi tentang susunan badan dan perubahan serta pertumbuhan anak-anaknya terhadap mereka. Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-hukum fikih serta kehidupan manusia. Jika kedua orang tua bukan sebagai tempat rujukan yang baik dan cukup bagi anak-anaknya maka anak-anak akan mencari contoh lain; baik atau baik dan hal ini akan menyiapkan sarana penyelewengan anak.
Yang paling penting adalah bahwa ayah dan ibu adalah satu-satunya teladan yang pertama bagi anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian, begitu juga anak secara tidak sadar mereka akan terpengaruh, maka kedua orang tua di sini berperan sebagai teladan bagi mereka baik teladan pada tataran teoritis maupun praktis. Ayah dan ibu sebelum mereka mengajarkan nilai-nilai agama dan akhlak serta emosional kepada anak-anaknya, pertama mereka sendiri harus mengamalkannya


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan dapat terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya dan melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dan pembentukan karakter atau kepribadian anak yang bermula dari lingkungan pertama dan lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting. Orang tua adalah contoh atau model bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak ini dapat di lihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya, orang tua juga merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan memberikan kasih sayang secara mendalam, baik positif atau negatif.

B. Saran

Sebaiknya sebagai orang tua hendaknya selalu memperhatikan dan memberikan pengawasan serta bimbingan kepada anak-anaknya. Hal ini sangat diperlukan karena anak rentan terhadap pengaruh lingkungan. Orang tua harus memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya karena orang tua sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak.

DAFTAR PUSTAKA


Gunaryadi (2007, 3 Juni). Pendidikan Nasional, Globalisasi, dan Peranan Keluarga, pada: http://www.geocities.com/~eunike-net.
Idris, Z. dan L. Jamal, 1992. Pengantar Pendidikan: Jakarta. Grasindo.
Hamalik Oemar, 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar: Bandung. PT. Sinar Baru Algesindo
Hartono Agung dan Sunarto, 2002. Perkembangan Peserta Didik: Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Nana Syaodih, S. 2000. Landasan Psikologi: Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Soemiarti Patmonodewo, 2000. Pendidikan Anak Prasekolah: Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Syamsu Yusuf, 2006. Perkembangan Anak dan Remaja: Bandung. PT. Rineka Cipta.


---------------------------------------------------------------------
MUSTOFA ABI HAMID
BPH Masjid Al-Wasi’i Unila
Jl.Sumantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng PostCode:35145
Bandar Lampung - Indonesia
Phone: (0721) 783044.
HP. : 0857.6837.3366
e-mail: abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
website: www.mustofaabihamid.blogspot.com

Liquid Crystal Display ( LCD )

LCD proyektor merupakan sebuah perangkat yang mudah rusak, sehingga diperlukan perawatan dan penggunaan yang tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan, tetapi harus dengan prosedur yang telah direkomendasikan oleh produsen LCD Proyektor tersebut.
Sebelum muncul LCD Proyektor, ada OHP yaitu perangkat alat bantu yang digunakan untuk media presentasi dengan kelebihan mampu menampilkan gambar dengan ukuran besar. Seiring dengan perkembangan zaman,OHP berkembang menjadi LCD Proyektor sebagai perangkat presentasi digital dengan kelebihan mampu menampilkan kualitas gambar yang sangat baik dan bisa digunakan di berbagai media elektronik. Saat ini LCD Proyektor semakin berkembang dengan berbagai teknologi yang diselipkan didalamnya. Teknologi Image Engine diantaranya LCD,CRT,LDP dan LCOS, dengan kualitas image yang terbaik LCD. Sedangkan resolusi/ketajaman image diantaranya SVGA,XVGA,SXGA dan UXGA, dengan resolusi yang tinggi SVGA. Brightness (pencahayaan) dengan ukuran ANSI Lumens, semakin besar ANSI Lumens semakin baik. Untuk koneksi juga mempengaruhi kualitas gambar diantaranya koneksi VGA, RGB,RCA,S-Video,DVI. Semakin lengkap jenis koneksi, semakin tinggi kualitas image. Dari segi bentuk, bentuk LCD Proyektor juga semakin menarik, efisien dan praktis.

Pengertian LCD Proyektor

Liquid Crystal Display (LCD) Proyektor adalah perangkat alat bantu yang sering digunakan untuk media presentasi, karena mampu menampilkan gambar atau bahan presentasi dengan ukuran besar sehingga lebih mudah dilihat.


LCD Proyektor dapat bekerja dengan silengkapi peralatan tambahan, yaitu :
1. Kabel data.
Digunakan untuk menghubungkan antara LCD Proyektor dengan komputer. Dua jenis kabel data yang sering digunakan dalam LCD Proyektor yaitu : USB (Universal Serial Bus) atau Parallel.
2. Power Supply.
Berguna untuk menghubungkan LCD Proyektor dengan sumber listrik. Terdiri dari adaptor dan kabel penghubung tegangan ke LCD Proyektor.

Istilah teknis dalam LCD Proyektor :
1. ANSI Lumens
2. Resolutions
3. Digital Light Processing (DLP)
4. Liquid Crystal Display (LCD)
5. Liquid Crystal on Silicon (LCOS)
6. Aspect Ratio
7. Contrast Ratio
8. Lens shift
9. Keystone

Bagian-bagian LCD Proyektor
Bagian-bagian LCD Proyektor secara umum. Dalam hal ini memakai LCD proyektor BenQ 510MP
1. Power swich
2. Key pad
3. Security lock
4. Zoom ring
5. Focus ring
6. Computer and video conector.

• Bagian Belakang LCD proyektor BenQ 510MP, terdiri dari :
1. Rear Adjuster foot
2. AC power cord inlet
3. Kensongton anti-thet lock slot
4. IR romote sensor
5. RS232 control port
6. USB socket
7. RGB (PC) component video
8. RGB signal ouput socket
9. Video socket
10. Audio Socket.
11. Speaker.

• Kontrol Luar, terdiri dari :
1. Power On/Off
2. Blank mematikan display
3. Mode tombol cepat mengatur display
4. Source memilih input signal RGB, component video,S-Video
5. Auto, mengatur display terbaik yang ditampilkan proyektor
6. Lampu indikator light, menunjukkan lampu berfungsi baik atau tidak
7. Temperatur warning light, menunjuk kan suhu dalam proyektor
8. Power indokator light, menunjukkan proyektor sedang beroperasi
9. Kiri mengatur koreksi keystone.
10. Kanan mengatur koreksi keystone.
11. Menu menghidupkan OSD ( on screen display).
12. Exit keluar dari menu.
13. Focus ring mengatur focus.
14. Zoom ring mengatur zoom untuk memperbesar atau memperkecil gambar.

• Remote Kontrol, terdiri dari :
1. Power On/Off
2. Freeze, mematikan display pada gambar terakhir disimpan.
3. Up, Down,Left, Right.
4. Tombol pengatur pada saat setting menu.
5. Menu, menghidupkan OSD (On Screen Display).
6. Keystone, mengatur secara manual proporsi display.
7. Page up,down, melanjutkan ke halaman berikut atau kembali saat menggunakan untuk prensentasi.
8. Auto, untuk mengatur display terbaik yang bisa ditampilkan proyektor.
9. Source, untuk memilih input signal RGB,Component Video, S-Video.
10. Blank, mematikan display, sehingga muncul warna hitam di layar.
11. Mode, tombol operasi cepat untuk pengaturan display.

Kabel AC Adapter dan Kabel USB.
LCD dapat disambungkan dengan peralatan antara lain :
1. Kabel USB.
2. Nirkabel ( Wi -Fi).
3. Touch Screen.
Sistem DLP menggunakan semikonduktor bernama Digital Mirror Device (DMD), yang terdiri dari ribuan cermin mikro di dalamnya. Cermin-cermin ini akan menarik sumber gambar ke dalam piranti sistem. Di dalam peranti sistem, obyek tersebut dibuat ulang secara digital, baru kemudian diproyeksikan ke layar dan secara teknologi yang memungkinkan cahaya yang dihasilkan lebih efisien, dengan daya listrik yang sama, sorotan proyektor LCD lebih terang.

Koneksi LCD ke komputer
Petunjuk Pengoperasian LCD proyektor BenQ 510MP
1. Hubungkan proyektor dengan listrik mengunakan kabel power, apabila lampu indikator power menyala orange, berarti proyektor siap dipakai.
2. Buka tutup lensa.
3. Tekan tombol power sekitar 2 detik (di panel proyektor atau remote), tunggu sampai indikator berwarna hijau dan display tampil penuh selama 10 – 30 detik.
4. Nyalakan semua peralatan yang menjadi input (CPU, Notebook, video player dll).
5. Tekan source (input) untuk memilih input yang akan didisplaykan atau automatic source dalam kondisi “On”, silahkan menunggu 5 – 10 detik untuk pencarian input terdekat.
Port LCD dihubungkan ke PC atau notebook melalui kabel USB , begitu juga kabel VGA dan kabel audio
LCD Proyektor dapat dihubungkan dengan monitor komputer melalui VGA kabel Port Video dan audio dalam LCD dapat dihubungkan vga adapter kabel dan kabel audio ke komputer.


Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam mengkoneksikan LCD ke komputer
1. Jangan membuka chasing proyektor, karena di dalamnya ada komponen yang tidak boleh diservice selain service center resmi.
2. Sebelum menggunakan proyektor sebaiknya membaca buku petunjuk penggunaan terlebih dahulu.
3. Jangan melihat secara langsung lensa proyektor saat kondisi hidup, karena akan membahayakan bagi mata.
4. Jangan menganalisis dan menyimpulkan serta melakukan perbaikan sendiri.
5. Selalu membuka penutup lensa saat proyektor dalam kondisi hidup.
6. Sebaiknya menggunakan stabilizer atau UPS untuk menghindari kerusakan.
7. Jangan menggunakan lampu yang sudah lewat umur pakainya, karena akan mengakibatkan ledakan dan kerusakan bagian lain.
8. Jangan pernah melepas lampu dan semua komponen yang ada saat listrik masih terhubung dengan proyektor.
9. Jangan meletakkan proyektor di tempat yang tidak stabil, karena akan jatuh atau rusak.
10. Jangan menutup lubang ventilasi dengan peralatan yang akan menghalangi proses pendinginan.
11.Jangan menggunakan pengatur keystone bagian depan lebih dari 10 derajat dan bagian belakang lebih dari 15 derajat.
12. Jangan meletakkan proyektor dalam posisi vertikal (berdiri).
13. Jangan meletakkan peralatan lain diatas proyektor.
14. Jangan menutup lensa dengan bahan yang mudah terbakar saat proyektor hidup.
15. Jangan meletakkan cairan didekat proyektor maupun listrik.
16. Gunakan celling mount/bracket untuk instalasi diatas plafon.

Perawatan LCD proyektor
Agar proyektor tetap berfungsi dengan baik, lakukan perawatan sebagai berikut :
1. Bersihkan lensa dengan menggunakan lens cleaning paper.
2. Bersihkan bodi proyektor menggunakan kain lembut yang bersih, khusus untuk debu yang membandel gunakan cairan pembersih khusus pada kain lap.
3. Menyimpan proyektor sebaiknya pada tempat yang kering dan tidak terlalu lembab, lebih disarankan disimpan didalam tas aslinya.
4. Membawa proyektor lengkap dengan tasnya ketika dipindahkan ke tempat yang jauh.
5. Selalu memperhatikan informasi lampu di setting >information > lamp time hours untuk mempersiapkan penggantian lampu.

Yang harus diperhatikan untuk memilih LCD Proyektor :
1. Harga yang kompetitif (murah) dengan melihat pencahayaan dan reolusi.
2. Mutu gambar dan kontras yang tinggi.
3. Ukuran dan berat proyektor.
4. Format video yang mendukung semua proyektor.
5. Kedalaman ANSI Lumens berkisar 2000 – 25000.
6. Purna jual dan garansi proyektor.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memilih LCD Proyektor :
1. Teknologi Image Engine diantaranya LCD,CRT,LDP dan LCOS, pilihlah LCD.
2. Resolusi SVGA,XVGA,SXGA dan UXGA, pilih resolusi yang tinggi SVGA.
3. Brightness (pencahayaan) dengan ukuran ANSI Lumens, pilih dengan ANSI Lumens yang lebih besar.
4. Koneksi mempengaruhi kualitas gambar VGA, RGB,RCA,S-Video,DVI, pilih yang paling lengkap.
5. Ukuran (besar kecil) LCD proyektor, pilih ukuran yang kecil.

Perhatikan cerita berikut ini.
Abi adalah seorang marketing eksekutif sebuah perusahaan komunikasi swasta. Pada sebuah presentasi, ia membawa sebuah tas yang sangat kecil yang ternyata berisi sebuah proyektor. Dan dalam melakukan presentasinya ia tidak lagi membawa komputer. Melainkan hanya dengan sebuah PDA yang terhubung menggunakan USB, presentasi pun berjalan dengan lancar.

Lain Abi lain pula halnya dengan Fajar. Untuk dapat memuaskan salah satu hobinya menonton film, Fajar membangun home entertainment di rumahnya dengan menggunakan proyektor. Menurutnya memasang sebuah proyektor lebih memuaskan dari pada hanya menggunakan televisi biasa. Selain ukuran, dari segi biaya ternyata proyektor lebih murah (untuk ukuran yang sama).

Meskipun keduanya menggunakan alat yang sama yaitu proyektor, namun proyektor keduanya memiliki beberapa perbedaan. Salah satu yang sangat terlihat adalah ukuran. Proyektor Fajar lebih besar ketimbang proyektor Abi. Sedangkan untuk perbedaan lain yang tidak terlihat masih banyak lagi, Mulai dari resolusi, cahaya, sampai teknologinya pun juga berbeda.

Hal yang dapat menjadi catatan bahwa untuk membeli sebuah proyektor, maka tujuan akhir dari proyektor tersebutlah yang akan menentukan jenis/macam proyektor seperti apa yang akan dibeli. Tentu saja di samping budget yang dimiliki.
Berbicara tentang budget, sebenarnya apa saja yang menjadi parameter sebuah proyektor? Dan bagaimana memilih proyektor dengan tepat, sesuai kebutuhan.

Teknologi
Salah satu yang dapat menjadi bahan pertimbangan pertama adalah teknologi yang digunakan. Setiap proyektor memiliki karakteristik berbeda-beda bila ditinjau dari teknologinya. Teknologi yang dimaksud di sini adalah teknologi pada Image Engine atau disebut juga Light Engine. Ada beberapa sistem Light Engine, yang banyak dikenal saat ini adalah CRT, DLP, LCD, dan yang terbaru adalah LCOS.
Light Engine adalah bagian yang memproyeksikan gambar. Dalam memproyeksikan gambar, Light Engine mendapatkan bahan berupa sinyal analog dari perangkat video decoder pada sebuah proyektor.

Dan bagaimana sebuah proyektor menampilkan gambarnya tersebut sudah membagi proyektor dalam dua jenis yang berbeda. Yang pertama adalah Rear Projector lalu yang kedua adalah Front Projector. Jika Rear Projector, berarti proyektor berada di belakang gambar sedangkan pada Front Projector sebaliknya yaitu proyektor berada di depan gambar.

Untuk Front Projector, mungkin sudah tidak asing lagi. Bentuknya sudah sangat umum, lain halnya dengan Rear Projector yang berbentuk seperti TV. Rear Projector sangat umum digunakan untuk di rumah. Selain karena bentuk fisiknya yang besar dan berat, kemampuan proyektor ini dalam mengakomodasi banyaknya penyimak sangat terbatas. Sebab proyektor dan layar telah di satukan dengan ukuran yang tidak mungkin di-upgrade.

Beda halnya dengan Front Projector. Pada Front Projector, proyektor dan layar tidak menyatu. Sehingga dapat diatur baik letak dan posisinya dengan lebih mudah. Selain itu, dalam mengakomodasi ruang dan penyimak yang lebih banyak Front Projector lebih leluasa. Tidak hanya layar yang dapat diperbesar, tapi juga proyektornya dapat diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan.
Sistem yang dimiliki oleh Rear Projector dalam menampilkan gambar tidak berbeda jauh dengan Front Projector. Keduanya memiliki komponen dasar yang sama, yaitu Video Decode dan Light Engine. Namun dalam menampilkan gambarnya, Rear Projector menggunakan satu lensa tambahan yang berfungsi memantulkan sekaligus memperbesar gambar.

• LCD
LCD disebut juga teknologi transmisive, yakni meneruskan cahaya. Sebab cahaya yang masuk pada LCD setelah melalui proses penyaringan menggunakan cermin Dichroic akan diteruskan secara langsung ke layar proyektor.
Cermin Dichroic atau disebut juga Dichroic Mirror memisahkan warna menurut gelombangnya. Ada tiga warna dasar yang dihasilkan oleh cermin tersebut yaitu merah, biru, dan hijau. Ketiga warna ini dihasilkan dengan tiga cermin yang masing-masing menyaring warna berbeda.

Teknologi LCD sudah dianggap cukup stabil dan biaya panelnya pun cukup rendah, sehingga memungkinkan menggunakan tiga panel LCD (RGB) sekaligus dalam satu proyektor. Hal ini membuat gambar yang dihasilkan proyektor memiliki warna yang cukup bagus. Begitu pula halnya dengan cahaya yang sudah sangat baik. Sayangnya, sistem transmisive telah membuat timbulnya artefak pada gambar sehingga membuat gambar seperti terkotak-kotak. Dan dikarenakan pada proyektor LCD polarisasi gambar tidak terjadi 100%, maka contrast ratio LCD lebih rendah dari DLP. Di samping itu, daya tahan LCD terhadap panas juga tidak mampu terlalu lama. Berbeda dengan DLP yang dapat bertahan sangat lama.

Resolusi.
Parameter lain yang juga perlu diperhatikan adalah resolusi. Semakin baik resolusi memang akan menghasilkan gambar yang semakin baik juga. Namun berkaitan dengan resolusi, tidak semua aplikasi membutuhkan resolusi yang tinggi. Ada baiknya jika pemilihan resolusi disesuaikan dengan kebutuhan. Sebab biar bagaimanapun, semakin tinggi resolusi sebuah proyektor, harga proyektor tersebut pun akan semakin mahal.
Biasanya, resolusi pada proyektor diwakilkan dengan sebutan-sebutan seperti SVGA, XGA, SXGA, dan UXGA.
• SVGA
Yang dimaksud dengan SVGA adalah proyektor memiliki resolusi 800×600 pixel. Resolusi ini sangat cocok untuk digunakan keperluan presentasi sederhana. Yang dimaksud dengan presentasi sederhana adalah presentasi-presentasi yang tidak menampakkan gambargambar yang kompleks hanya seputar teks, grafik, dan diagram biasa saja.
• XGA
Nilai resolusi pada proyektor XGA adalah 1024×768 pixel. Gambar yang dihasilkan oleh proyektor XGA lebih jernih dibandingkan proyektor dengan resolusi SVGA, sehingga penggunaannya dapat lebih luas. Projector XGA dapat digunakan untuk melakukan presentasi yang lebih banyak menggunakan warna dibanding presentasi dengan SVGA.
• SXGA
Bila ada presentasi yang sangat kompleks, banyak menampilkan tidak hanya grafik dan diagram saja, melainkan gambar-gambar desain seperti gambar teknik atau iklan, maka sebaiknya presenter menggunakan proyektor dengan resolusi SXGA.
Proyektor dikatakan memiliki resolusi SXGA berarti proyektor tersebut memiliki resolusi sebesar 1280×1024 pixel. Proyektor dengan resolusi tinggi ini juga cocok untuk digunakan sebagai layar pada home entertainment Anda. Karena untuk menonton sebuah film memang dibutuhkan resolusi yang tinggi. Lagipula harga sebuah TV projector lebih murah dibandingkan TV biasa dengan ukuran yang sama. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya bila Anda menggunakan proyektor ini untuk di rumah sebagai pengganti TV.
• UXGA
Proyektor dengan resolusi UXGA sampai saat ini masih sangat mahal dan jarang. Proyektor beresolusi 1600×1200 pixel ini lebih cocok digunakan oleh para profesional yang bergerak di bidang imaging untuk melakukan presentasi. Atau bagi Anda yang memang memiliki dana berlebih untuk home entertaiment.
• QXGA
Sampai saat ini, proyektor yang memiliki resolusi QXGA masih sangat jarang. Salah satunya adalah proyektor yang diproduksi oleh JVC. Proyektor tersebut menggunakan sistem LCOS dengan sebuah chip yang dinamakan D-ILA. Yang dimaksud dengan resolusi QXGA adalah proyektor beresolusi 2048×1536 pixel. Hampir tujuh kali lebih besar dari SVGA.

Brightness.
Setelah resolusi, hal lain yang dapat ikut diperhitungkan adalah nilai brightness. Nilai brightness diwakilkan oleh satuan ANSI (American National Standar Institute), yaitu Lumens. Semakin besar nilai ANSI Lumens-nya, maka akan semakin terang proyektor tersebut. Dan semakin terang sebuah proyektor, maka nilainya juga akan semakin baik. Hanya saja nilai brightness juga akan mempengaruhi harga. Semakin terang, semakin mahal proyektor tersebut. Brightness ini akan sangat berguna bila ternyata presentasi dilakukan di tempat yang tidak terlalu gelap. Sebab pada tempat yang terang, tandanya Anda membutuhkan cahaya proyektor yang lebih terang lagi.
Jangan lupa juga untuk memeriksa daya tahan lampu. Lampu proyektor tergolong mahal, tidak ada salahnya jika Anda memperkirakannya juga.

Koneksi.
Aspek lain yang tidak boleh luput adalah koneksi pada proyektor yang Anda beli Ketersediaan koneksi harus disesuaikan dengan kebutuhan. Agar apa yang akan Anda lakukan dengan proyektor tersebut tercapai. Koneksi ini juga dapat mempengaruhi kualitas gambar yang Anda lihat. Berikut adalah koneksi yang dapat Anda periksa:
• VGA: ini adalah koneksi video yang akan menghubungkan proyektor dengan komputer, baik PC maupun notebook. Koneksi ini sangat wajib tersedia pada proyektor yang memang digunakan untuk presentasi melalui komputer.
• RGB Cable: Bentuknya menyerupai BNC, namun warna masing-masing jack adalah RGB dan putih. Koneksi RGB biasanya untuk dikoneksikan ke komputer yang idak menggunakan koneksi VGA. RGB kabel ada tiga macam. Yang pertama RGBHV yang memiliki lima jack, yaitu merah, hijau, biru, horizontal, dan vertikal.
• Ada juga RGBH/V dengan 4 jack, sinyal horizontalnya digabungkan dengan vertikal. Dan yang terakhir adalah 3 jack, RGB Sync on Green yang artinya sinyal sinkronusnya tidak terpisah secara horizontal/vertical melainkan digabungkan dan dibawa oleh jack yang hijau.
• RCA: Kabel RCA adalah kabel yang sudah sangat umum digunakan hampir pada semua perangkat home entertainment di rumah. Mulai dari CD/DVD player, VCR, camcorder, juga televisi. RCA ada tiga warna yang umumnya adalah merah, putih, dan kuning. Merah dan putih untuk audio dan kuning untuk video.
• BNC: Antara BNC dengan RCA hanya berbeda secara fisik, keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu membawa sinyal audio dan video dengan tiga macam sekaligus. BNC memiliki bentuk yang lebih aman. Bila Anda membeli proyektor dengan BNC, tetapi di rumah masih banyak yang menggunakan RCA, maka Anda dapat mencoloknya terlebih dahulu ke sebuah adapter.
• S-Video atau Y/C: Jika pada RCA atau BNC sinyal video hanya ditransmisikan dengan stau koneksi saja, maka dengan S-Video akan terbagi dua, yaitu luminance dan chrominance. Sinyal yang dihantarkan pun jadi lebih baik ketimbang RCA atau BNC. Biasanya koneksi ini ada pada produk-produk kelas atas.
• Component: koneksi ini selangkah lebih maju lagi dari S-Video. Karena dibandingkan hanya dua, Component membagi sinyal Video menjadi tiga yaitu Y, Cr, Cb atau Y, Pb, Pr. Namun untuk pemakai komputer, mungkin agak membingungkan sebab masing-masing kabel akan ditandai dengan warna-warna RGB (Merah, Hijau, Biru). Meskipun demikian, bila pada komputer bentuk jack-nya seperti BNC, sebaliknya Component bentuk jack-nya seperti RCA. Component biasanya tersedia pada DVD player High End atau pada tuner HDTV.
• DVI: Koneksi ini belum banyak tersedia di pasaran mengingat DVI belum memiliki standar yang umum. Sehingga setiap produsen memiliki standarnya sendiri-sendiri.

Ukuran.
Ukuran juga ikut mempengaruhi pilihan. Bila Anda termasuk seorang pebisnis yang banyak melakukan presentasi di mana-mana, maka ukuran yang mungil dapat menjadi pilihan. Meskipun harganya memang lebih mahal, ketimbang yang agak besar. Namun bagi Anda yang ingin memiliki Front Projector di rumah, Anda dapat mengenyampingkan ukuran sebab ukuran menjadi parameter yang kedua setelah resolusi.
Mana pilihan Anda? Tidak perlu memilih yang terbaik dari parameter yang ada, yang penting proyektor yang Anda beli sesuai dengan yang dibutuhkan. Lagi pula yang terbaik adalah yang tepat dengan kebutuhan Anda dan bukan yang termahal.

---------------------------------------------------------------------
MUSTOFA ABI HAMID
BPH Masjid Al-Wasi’i Unila
Jl.Sumantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng PostCode:35145
Bandar Lampung - Indonesia
Phone: (0721) 783044.
HP. : 0857.6837.3366
e-mail: abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
website: www.mustofaabihamid.blogspot.com

Penelitian

Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif

1. Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi dilakukannya penelitian, apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang (Wardi Bachtiar:1997) berisi:
a. Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari bidang keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
b. Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
c. Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian
d. Penjelasan bahwa masalah tersebut relevan, aktual dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman
e. Relevansinya dengna penelitian-penelitian sebelumnya
f. Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu

2. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah
a. Identifikasi Masalah
Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.
b. Pemilihan Masalah
1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji)
2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)
3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti
4). Menghubungkan dua variabel atau lebih (Nazir: 1988)
c. Sumber Masalah
Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain.
d. Perumusan Masalah
1). Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2). Jelas dan padat
3). Dapat menjadi dasar dalam merumusan hipotesa dan judul penelitian
Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, suatu masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut :
1) Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.
2) Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.
3) Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur (Ace Suryadi: 2000).
e. Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian
1) Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/ capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.
2) Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis (Arikunto:1992).
f. Telaah Pustaka
1) Manfaat Telaah Pustaka
2) Untuk memperdalam pengetahuan tentang masalah yang diteliti
3) Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran
4) Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa
5) Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian

g. Pembentukan Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk klasifikasi dan analisis data (Koentjaraningrat:1973). Kerangka teori dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti sendiri.
Teori yang dibahas atau teori yang dikupas harus mempunyai relevansi yang kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori tertentu. Khusus untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih maka dalam landasan teori harus dapat digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.
h. Perumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesa merupakan kristalisasi dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka. Secara statistik hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.
i. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Konsep merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti). Konsep ada yang sederhana dan dapat dilihat seperti konsep meja, kursi dan sebagainya dan ada konsep yang abstrak dan tak dapat dilihat seeprti konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak dapat dilihat disebut construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu diubah dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain perlu ada definisi operasional.
Definisi operasional adalah mengubah konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan dapat diuji kebenarannya oleh orang lain.
Konsep yang mempunyai variasi nilai disebut variabel. Variabel dibagi menjadi dua:
a. Variabel deskrit/katagorikal misalnya : variabel jenis kelamin.
b. Variabel Continues misal : variabel umur
Proses pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:
1. Menentukan dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali memiliki lebih dari satudimensi. Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat diukur, semakin baik ukuran yang dihasilkan.
2. Merumuskan dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan, barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
3. Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala: nominal, ordinal, interval, atau ratio.
4. Menguji tingkat validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah alat ukur yang baru.
Contoh yang bagus proses pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark (dalam Ancok:1989) yang mengembangkan suatu konsep untuk mengukur tingkat religiusitas. Menurut pendapat mereka konsep religiusitas mempunyai lima dimensi sebagai berikut :
1. Ritual Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agama mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang beragama Islam. atau pergi ke gereja dan kegiatan ritual lainnya bagi yang beragama Kristen.
2. Ideologi Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam agama mereka masing-masing. Misalkan apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain hal yang sifatnya dogmatik.
3. Intellectual Involvement, sebenarnya jauh seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam menambah pengetahuan agamanya, apakah dia mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. bagi yang beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu, membaca buku-buku agama, dan lain-lain. Demikian pula dengan orang pemeluk agama lainnya, apakah dia mengerjakan hal-hal yang serupa.
4. Experiential Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah seseorang pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah di apernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
5. Consequential Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya yang sakit, mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin. Menyumbangkan uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain.
Dimensi-dimensi yang disebut di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijadikan komponen alat pengukur yang terhadap dimensi tingkat religiusitas.

B. Validitas dan Reliabiltas Instrumen
Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur variabel yang kita teliti sebelumnya harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Bila instrumen/alat ukur tersebut tidak valid maupun reliabel, maka tidak akan diperoleh hasil penelitian yang baik.
Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang akan diukur.
Ada beberapa jenis validitas, namun yang paling banyak dibahas adalah validitas konstruk. Konstruk atau kerangka konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggabarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian penelitian. Konsep itu kemudian seringkali masih harus diubah menjadi definisi yang operasional, yang menggambarkan bagaimana mengukur suatu gejala. Langkah selanjutnya adalah menyusun pertanyaan-pertanyaan/ pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan definisi itu.
Untuk mencari definisi konsep tersebut dapat ditempuh dengan berbagai cara sebagai berikut :
1. Mencari definisi konsep yang dikemukakan para ahli. Untuk ini perlu dipelajari buku-buku referensi yang relevan.
2. Kalau dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi konsep-konsep penelitian, maka peneliti harus mendefinisikan sendiri konsep tersebut. Untuk tujuan ini peneliti dapat mendiskusikan dengan ahli-ahli yang kompeten dibidang konsep yang akan diukur.
3. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden (Ancok: 1989). Misalnya peneliti ingin mengukur konsep “religiusitas”. Dalam mendefinisikan konsep ini peneliti dapat langsung menanyakan kepada beberapa calon responden tetnang ciri-ciri orang yang religius. Berdasar jawaban calon responden, kemudian disusun kerangka suatu konsep. Apabila terdapat konsistensi antra komponen-komponen konstruk yang satu dengna lainnya, maka konstruk itu memiliki validitas.
Cara yang paling banyak dipakai untuk mengetahui validitas konstruk suatu instrumen/alat pengukur ialah dengan mengkorelasikan skor/nilai yang diperoleh pada masing-masing pertanyaan/pernyataan dari semua responden dengan skor/nilai total semua pertanyaan/pernyataan dari semua responden. Korelasi antara skor/nilai setiap pertanyaan/pernyataan dan skor/nilai total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik tertentu misalnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengkur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan/konsistensi hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan mantap atau konsisten, apabila untuk mengukur sesuatu berulang kali, alat pengukur itu menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama.
Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda, kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama, pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai.
Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut.
Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: a. teknik ulangan, b. teknik bentuk pararel dan c. teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua.
Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua kelompok. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Mengajukan instrumen kepada sejumlah responden kemudia dihitung validitas itemnya. Item yang valid dikumpulkan menjadi satu, item yang tidak valid dibuang.
b. Membagi item yang valid tersebut menjadi dua belahan. Untuk mebelah instrumen menjadi dua, dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut: 1). Membagi item dengan cara acak (random). Separo masuk belahan pertama, yang separo lagi masuk belahan kedua; atau (2) membagi item berdasarkan nomor genap-ganjil. Item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu dan yang bernomor genap juga dijadikan satu. Untuk menghitung reliabilitasnya skor total dari kedua belahan itu dikorelasikan.

C. Penetapan Metode Penelitian
Penetapan metode penelitian mencakup : (i) penentuan subyek penelitian (populasi dan sampel), (ii) metode pengumpulan data(penyusunan angket) dan (iii) metode analisis data (pemilihan analisis statistik yang sesuai dengan jenis data)

D. Pembuatan Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah pedoman yang disusun secara sistematis dan logis tentang apa yang akan dilakukan dalam penelitian. Rancangan penelitian memuat: judul, latar belakang masalah, masalah, tujuan, kajian pustaka, hipotesis, definisi operasional, metode penelitian, jadwal pelaksanaan, organisasi/tenaga pelaksana dan rencana anggaran.

E. Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data diperlukan kemampuan melacak peta wilayah, sumber informasi dan keterampilan menggali data. Untuk itu diperlukan pelatihan bagi para tenaga pengumpul data.
F. Pengolahan, Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian
Pengolahan data meliputi editing, coding, katagorisasi dan tabulasi data.
Analisis data bertujuan menyederhanakan data sehingga mudah dibaca dan ditafsirkan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik.
Interpretasi bertujuan menafsirkan hasil analisis secara lebih luas untuk menarik kesimpulan.

G. Menyusun Laporan Penelitian
Untuk memudahkan menyusun laporan maka diperlukan kerangka laporan out line.


















DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Fajar, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor: 1 Juni – Agustus 1992. Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga

Ace Suryadi, Teori dan Praktek Perumusan Masalah Dalam Penelitian Sosial Keagamaan, Makalah Tidak Diterbitkan, 2000.

Djamaluddin Ancok, Teknik Penyusunan Skala Pengukuran; PPK UGM, Yogyakarta, 1989.

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1973.

Harahap, Nasruddin, Penelitian Sosial : Latar Belakang, Proses : Persiapan Pelaksanaannya, dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor: 1 Juni – Agustus 1992. Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga

Moh. Nasir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta, 1985.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1992.

Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos: Jakarta, 1997.














Lampiran 1.
Pedoman Penyusunan Angket
1. Tujuan Pokok Pembuatan Angket
a. Memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian
b. Memperoleh data dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin
2. Sumber Penyusunan Angket
a. Kerangka konseptual (variabel)
b. Tujuan penelitian
c. Hipotesa
3. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket
a. Apakah pertanyaan yang diajukan relevan dengan tujuan dan hipotesa penelitian
b. Bagaimana cara tabulasi untuk tiap pertanyaan
c. Mempelajari angket yang sudah ada
d. Konsultasi dengan ahli yang pernah meneliti hal yang sama
4. Isi Pertanyaan dalam angket
a. Pertanyaan tentang fakta misal : umur, jenis kelamin, agama, pendidikan dan sebagainya.
b. Pertanyaan tentang pendapat, tanggapan dan sikap, misal : sikap responden terhadap sesuatu hal.
5. Jenis Pertanyaan dalam angket.
a. Pertanyaan tertutup
Jawaban pertanyaan sudah disediakan oleh peneliti. Keuntungan memudahkan dalam proses tabulasi, sedang kelemahannya kurang dapat memperoleh data yang mendalam dan bervariasi.
b. Pertanyaan terbuka
Jawaban pertanyaan tidak ditentukan terlebih dahulu, responden bebas memberi jawaban. Keuntungannya dapat menangkap informasi lebih luas. Sedang kelemahannya adalah kesulitan dalam proses tabulasi.
c. Pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka
Jawaban pertanyaan sudah disediakan, tetapi diikuti oleh pertanyaan terbuka

d. Pertanyaan semi terbuka
Jawaban pertanyaan sudah disediakan oleh peneliti, namun diberi kemungkinan tambahan jawaban.
6. Petunjuk Membuat Pertanyaan
a. Gunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti oleh responden.
b. Usahakan pertanyaan yang jelas dan khusus
c. Hindarkan pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian
d. Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti
e. Pertanyaan harus berlaku bagi semua responden
7. Uji Coba Angket
Keuntungan jika melakukan uji coba angket
a. Pertanyaan yang dianggap tidak relevan bisa dihilangkan
b. Bisa diketahui apakah tiap pertanyaan dapat dimengerti dengan baik oleh responden
c. Apakah urutan pertanyaan perlu dirubah
d. Bisa diketahui reaksi responden terhadap pertanyaan sensitif, sehingga perlu dirubah atau tidak
e. Lama pengisian angket.














Lampiran 2.
Contoh Angket

RITUAL INVOLVEMENT

1. Apakah Anda sholat ? 1. Ya 2. Tidak
Kalau ‘ya’, hal yang manakah dari hal-hal berikut ini yang sesuai bagi Anda :
a. solat secara teratur lima kali sehari,
b. solat tiap hari, tetapi tidak sampai lima kali sehari,
c. solat hanya seminggu sekali pada hari Jumat,
d. solat hanya pada Hari Raya saja.
2. Apakah Anda berdoa sebelum makan ? 1. Ya 2. Tidak
Kalau ‘ya’, dari hal berikut ini yang manakah yang sesuai bagi Anda :
a. selalu membaca doa setiap kali akan makan makanan apa saja,
b. hanya berdoa setiap akan makan di meja makan,
c. bila akan makan di meja makan kadang-kadang beroda, kadang-kadang tidak,
d. pernah berdoa, tetapi pada umumnya tidak


IDEOLOGICAL INVOLVEMENT
1. Apakah Anda yakin bahwa hari kiamat pasti datang?
a. sangat yakin
b. cukup yakin
c. kurang yakin
d. tidak yakin
2. Apakah Anda yakin bahwa surga itu hanya tempat bagi orang yang taat beribadah?
a. sangat yakin
b. cukup yakin
c. kurang yakin
d. tidak yakin


INTELECTUAL INVOLVEMENT

share

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...