Selasa, 11 Januari 2011

Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin


Islam merupakan agama yang sempurna dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ajaran Islam diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini melalui utusan-Nya yakni Rosulullah Muhammad SAW untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al Qur’an :
“Wamaa arsalnaka illa rohmatan lil ‘alamin”
Artinya :” Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(Q.S. Al Anbiya’ : 107).

Agama Islam yang yang mengandung ajaran yang sempurna untuk dijadikan pedoman hidup manusia untuk menggapai keselamatan, kedamaian, kemakmuran, kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat, itulah misi Nabi Muhammad mengajarkan Islam kepada umat manusia. Kemakmuran disini bukan hanya ditujukan kepada manusia semata namun untuk seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini yakni manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, alam dan lingkungan sekitar, serta semua makhluk ciptaan Allah. Oleh karena itu untuk mencapai itu semua harus memperhatikan kembali aspek hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan alam. Karena dalam mengarungi kehidupan di dunia ini sudah pasti terdapat suatu hubungan atau interaksi.

1. Hubungan Manusia dengan Allah SWT.
Salah satu dasar hubungan antara manusia dengan Allah SWT adalah suatu keyakinan manusia itu sendiri terhadap Allah SWT sebagai Robb semesta alam. Hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT harus dilandasi sebuah keimanan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan tempat mengadu, bergantung dan tempat memohon pertolongan. Pada hakikatnya semua manusia di dunia ini membutuhkan Tuhan untuk ketentraman hati dan keselamatan jiwa. Kaum jahiliah di Arab pada masa sebelum Islam diturunkan menggunakan sesembahan berupa berhala sebagai tempat untuk memohon dan menenteramkan hati, begitu pula di Indonesia adanya kepercayaan animisme dan dinamisme untuk tujuan kedamaian dan ketentraman, itu semua merupakan suatu bentuk bahwa hakikatnya setiap manusia membutuhkan Tuhan. Sebagai umat Islam dasar keimanan terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas:
Qul huwallahu ahad, Allahush shomad, Lam yalid walam yuulad walam yakullahu kufuan ahad”
Artinya : “ Katakan, bahwa Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (Q.S. Al- Ikhlas : 1-4).

Keyakinan seseorang kepada Allah akan memberikan ketenangan dalam hidup manusia. Dalam konsep tauhid akan dikupas lebih detail dalam cabang ilmu, yaitu ilmu tauhid, ushuluddin, ilmu kalam, dsb. Al Qur’an dan Hadist juga mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT. Keyakinan atau keimanan inilah yang akan membawa manusia ke dalam ketaqwaan. Ketaqwaan manusia dapat mengalami pasang surut, sehingga ketaqwaan inilah yang harus senantiasa ditingkatkan. Pemaknaan keimanan itu sendiri adalah meyakini dalam hati, mengikrarkan dengan lisan (ucapan) dan diamalkan dengan tindakan dan perbuatan, tentunya dengan melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya.

2. Hubungan Manusia dengan Manusia lainnya.
Manusia dalam kesehariannya sudah tentu berhubungan dan berinteraksi dengan manusia lainnya karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Sehingga hubungan antar manusia itu diatur dalam Al Qur’an dan Hadist agar tercipta keharmonisan, ketentraman dan kedamaian dalam kehidupannya.Hal ini diatur dalam firman Allah SWT :
“Wa’tashimu bihablillahi jami’awwalaa tafarroqu, wadzkuru ni’matallahi ‘alaikum idzkuntum a’daa am fa allafa baina quluubikum faashbahtum bini’mati ikhwanan, ….. “
Artinya : “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berceraiberai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara……..” ( Q.S.Ali Imron : 103)

Adapun kunci untuk menggapai ketaqwaan adalah sebagai berikut:
a. Berpegang teguh pada tali (agama) Allah SWT dan jangan bercerai berai.
Dalam hidup ini harus senantiasa berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama Islam yang benar. Dan sesama muslim kita senantiasa menghormati perbedaan yang terjadi. Kita tidak boleh menuduh seseorang sebagai orang kafir, munafiq, atau mengejek sesama muslim karena perbedaan itu. Tetapi apabila ada dari saudara kita sesame muslim yang menyimpang dari ajaran Islam kita harus mengajaknya untuk kembali kejalan yang benar (amar ma’ruf nahi mungkar). Namun dalam hal aqidah kita harus sama yakni mengakui bahwa hanya Allah-lah yang patut kita sembah. Sesama muslim harus bersatu dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Dalam pelaksanaan secara teknisnya dalam bermuamalah terdapat 3 macam yaitu :
1)Ukhuwah Islamiah
Dalam hal aqidah Islam kita bersaudara sesama umat Islam lainnya. Contoh pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan rasa ukhuwah Islamiyah antara lain:

a. Sesama orang beriman adalah bersaudara
Firman Allah: ”Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S. Al-Hujurat ayat 10)

b. Sesama orang beriman dilarang saling bermusuhan
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu bersatu karena nikmat Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara; dan sebelumnya kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imran ayat 103).

c. Hablum minallaah dan Hablum minannaas
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia/hablum minannaas, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu, karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”.(Q.S. Ali Imran 112).

d. Berlaku sopan terhadap sesama orang beriman
“Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), “Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah (sopanlah) kamu terhadap orang-orang yang beriman” (Q.S. Al-Hijr ayat 88).

2) Ukhuwah Basyariyah/ Insaniyah
Persaudaraan antar sesama manusia yakni kita senantiasa berlaku baik pada setiap manusia karena derajat kita sama dihadapan Allah kecuali iman dan taqwa yang membedakannya. Sehingga kita harus saling tolong menolong dan menghormati orang lain.

3) Ukhuwah Wathoniyah
Galam konsep kenegaraan kita bersaudara sebangsa dan setanah air, sehingga kita harus senantiasa mematuhi konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku yang telah disepakati dalam kehidupan bernegara ini. Mulai dari undang-undang yang disusun DPR sampai peraturan-peraturan di kampong pun jika itu sudah menjadi kesepakatan bersama maka kita harus mematuhinya sehingga dengan kesadaran hukum itu dapat tercipta persatuan dan kesatuan.

b. Nikmat dari Allah harus senantiasa disyukuri
Banyak sekali nikmat yng diberikan Allah SWT kepada kita, bahkan kita tak mampu menghitung nikmat yang telah kita terima tersebut. Diantara nikmat-nikmat Allah yang harus kita syukuri adalah:
Nikmat diberi fisik yang sempurna disertai akal sehat. Ini harus senantiasa kita manfaatkan semaksimal mungkin agar dapat meraih sukses dunia dan akhirat.
Bumi dan kekayaan alam serta ilmu pengetahuan.
Merupakan modal yang luar biasa besarnya dari Allah SWT, dengan berbekal ilmu pengetahuan kita dapat memanfaatkan dan memaksimalkan bumi dan kekayaan alam untuk kesejahteraan hidup manusia.
Pedoman hidup : Al-Qur’an dan As Sunnah.
Itu semua harus disyukuri dan dimanfaatkan

c. Mengajak pada Kebaikan dengan Dasar Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Apabila mengajak pada kebaikan sudah seharusnya kita menyesuaikan antara ucapan/ ajakan kita dengan tindakan yang riil. Apabila menolong agama Allah, insyaAllah Allah akan menolong seriap urusan kita.

d. Jangan Melupakan sejarah
Tanpa sejarah mungkin kita tidak bisa mengembangkan dan memajukan Indonesia menuju kemakmuran. Inilah konteks hubungan antar manusia. Dalam melakukan sesuatu pun kita tidak boleh semau kita sendiri, kita harus berkaca pada sejarah, jika ada sesuatu yang baik maka harus dilanjutkan tapi bila sesuatu yang buruk yang didapati dalam sejarah itu maka harus ditinggalkan.

3. Hubungan Manusia dengan Alam
Banyak disebutkan dalam hadist bahwa kita harus senantiasa menjaga harmonisasi hubungan antara manusia dengan alam sekitar. Alam telah memberikan bnyak manfaat bagi manusia sehingga sudah selayaknya kita melestarikan alam untuk kemaslahatan umat dan kesejahteraan hidup manusia, jangan malah merusak alam dan lingkungan.

Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
Lampung University
Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.com
www.mustofaabihamid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar