Minggu, 02 Januari 2011

Meluruskan Jalan Kader Muda Nahdlatul Ulama

Bag. I


Ketika Nahdlatul Ulama dideklarasikan oleh para kiai dan pengasuh pondok pesantren di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926, salah satu pemicunya adalah obsesi untuk melestarikan tradisi keislaman yang telah dibangun oleh Rosulullah Muhammad SAW, para sahabat dan salafussholih. Pembelaan atas tradisi ini kemudian disadari sebagai sebuah potensi besar Nahdlatul Ulama (NU). Sekarang pun banyak komponen masyarakat di dunia mengenal NU sebagai organisasi yang concern atas tradisi dan bahkan mampu mengelola modernitas untuk memperkuat dan mengembangkan tradisi tersebut.

Karakter ini tentunya masih dalam kerangka besar Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Di dalam komunitas pesantren, karakter dasar ini lebih dikenal dengan istilah “almukhafadzoh ‘alal qodim ash sholih wal akhdzu bil jadid al ashlah”. Secara tidak langsung, Nahdlatul Ulama telah lama melakukan kerja-kerja sosial budaya terutama berkaitan dengan penuntasan problem yang ditimbulkan oleh dualisme kebudayaan, yaitu benturan antara tradisi dan modernitas.

Konsepsi Nahdlatul Ulama berkaitan dengan tradisi itu secara otomatis telah mendorong terjadinya dekonstruksi tradisi di Indonesia. NU tidak memandang modernitas sebagai sebuah ancaman kebudayaan, bahkan sebaliknya modernitas dipandang sebagai instrumen untuk melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik di bidang sosial, ekonomi, bahkan budaya itu sendiri. NU menyadari bahwa arus besar masyarakat Islam di Indonesia masih memegang kuat tradisi.

Kenyataan ini mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kelebihannya adalah masyarakat mempunyai kesadaran atas pentingnya kolektivitas yang dibangun di atas kesamaan kepentingan, adat, dan ideologi. Sedangkan kekurangannya adalah rendahnya tingkat responsibilitas atas perubahan-perubahan sosial, ekonomi, dan dan budaya masyarakat dunia. Dekonstruksi tradisi yang dilakukan NU ini kemudian melahirkan formulasi tasamuh, tawasuth, tawazun, dan i’tidal.

Wajah NU di atas adalah identitas NU yang diyakini ideal dan terbaik bagi masyarakat Islam di Indonesia. Dalam ranah kerja-kerja praksis, aktualisasinya terpotret cukup jelas dalam kehidupan komunitas pesantren. Kiai NU yang menyebar di tengah-tengah masyarakat telah menempatkan pesantrennya sebagai pusat transformasi ilmu pengetahuan sekaligus benteng kebudayaan. Pesantren mempengaruhi proses pencerahan masyarakat. Pesantren juga mempengaruhi daya tahan masyarakat dari penetrasi kebudayaan global.

Untuk menjaga eksistensinya sebagai mitra masyarakat, secara kolektif pesantren melakukan evaluasi internal dalam upaya menyikapi dinamika sosial budaya masyarakat global. Dalam konteks ini NU menggunakan instrumen konferensi atau muktamar, yaitu sebuah konsolidasi sosial budaya dan agama yang dilakukan secara rutin dalam upaya merespons dinamika kehidupan masyarakat Islam Indonesia di tengah kompleksitas persoalan sistem dunia yang semakin mengglobal.

Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
Lampung University
Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar