Senin, 24 Januari 2011

Pentingnya Teori Belajar Revolusi Sosiokultural

Belajar merupakan suatu proses yang komplek yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, baik lingkungan alam maupun sosial budayanya. Dalam proses belajar bila kita hanya mengandalkan paradigma behavioristik maka kita akan mencetak orang-orang yang mengagungkan kekerasan dan mengadalkan keseragaman, tapi tidak menghargai adanya perbedaan. Hal ini terjadi karena siswa harus mempersiapkan diri memasuki era demokrasi yang sebenarnya adalah era yang ditandai dengan keragaman perilaku, adanya penghargaan terhadap saesuatu yang bebedasehingga perlu adanya perubahan dibidang pendidikan dan pembelajaran dengan teori belajar sosiokultural.
Ada 2 tokoh yang mendasari teori belajar revolusi sosiokultural:
1. Piagetian
Teori belajar yang akan berkembang menjadi aliran konstruktivis personal. Menurut Piagetian belajar ditentukan karena adanya karsa individu artinya pengetahiuan berasal dari individu. Siswa berdiri terpisah dan berinteraksi dengan lingkungan sosial yaitu interaksi antara siswa dengan tenman sebayanya dibanding dengan orang-orang yang lebih dewasa. Lingkungan sosial dalam hal ini merupakan lingkungan sekunder, penentu utama terjadinya belajar adalah individu yang bersangkutan. Pendapat ini merupakan pendapat yang kontra produktif pada kegiatan pembelajaran jika dilihat darin perspektif revolusi sosiokultural saat ini.
Menurut Piagietian penataan kondisi tidak menjadi penyebab belajar sesuai yang diungkapkan oleh aliran behavirisme, tapi merupakan sekedar memudahkan belajar. Keaktifan siswa penentukesuksesan belajar. Aktivitas mandiri jaminan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Perkembangan kognitif merupakan proses genetik artinya prosesnya didasarkan atas mekanisme biologi yang diikuti oleh proses adaptasi biologis dengan lingkungannya dalam proses mencari keseimbangan atau ekuilibrasi yang membutuhkan proses adaptasi. Ada 2 macam proses adaptasi yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi yaitu siswa mengintegrasikan pengetahuan baru dari luar ke dalam struktur kognitif yang telah ada di dalam dirinya. Sedangkan akomodasi adalah sisw memodifikasi struktur kognitif yang telah ada dengan pengetahuan baru yang diperolehnya.
2. Vygotsky
Menurut Vygotsky jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial budaya dan sejarahnya artinya untuk menelusuri asal usul jalanpikiran seseorang dengan cara menelusuri asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial (aktivitas dan bahasa yang digunakan) yang dilatari oleh sejarah hidupnya.
Peningkatan fungsi-fungsi mental berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, bukan dari individu itu sendiri.
Kondisi sosial sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan ketrampilan melalui interakso sehari-hari baik lingkungan sekolah maupun keluarganya secara aktif. Perolehan pengetahuan dan perkembangna kognitif sesuai dengan teori sosiogenesis yaitu kesadaran berinteraksi dengan lingkungan dimensi sosial yang bersifat primer dan demensi individual bersifat derivatif atau turunan dan sekunder, sehingga teori belajar Vygotsky disebut dengan pendekatan Co-Konstruktivisme artinya perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan olehindividu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan sosial yang aktif pula. Ada 4 konsep pensting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu genetic law of development, zona of proximal development dan mediasi.

Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
Lampung University
Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.com
www.mustofaabihamid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar