Rabu, 04 April 2012

Definisi Galau dan Tips Mengatasinya

Indonesia merupakan negara yang kaya raya bukan hanya kaya akan sumber daya alam yang melimpah namun juga kaya akan bahasa. Berbicara masalah kaum muda yang notabene merupakan sebuah masa peralihan dari anak-anak (remaja) menuju tahap kedewasaan ternyata memiliki bahasa tersendiri yang biasa disebut bahasa gaul/geol atau kalau di Amerika disebut bahasa prokem.

Melihat fenomena yang terjadi pada anak remaja yang gaul/geol setiap saat bertambah kosakata bahasa geolnya. Terinspirasi dari banyaknya anak muda yang sering “galau” saya tertarik untuk mencari tahu dan menulis tentang apa itu galau?. Banyak anak yang mengatakan bahwa dirinya sedang galau, tapi tidak banyak yang tahu apa sebenarnya galau itu?. Bahkan yang lebih menarik lagi sebagian anak muda menganggap bahwa galau itu menular dan yang membuat tergelitik adalah saat ada anak muda yang akan melakukan penelitian tentang pengaruh bebek yang sedang galau terhadap banyaknya telor yang dihasilkan. Bebek yang sedang galau terhadap pasangannya diindikasikan akan ngambek sehingga tidak mau bertelur. Hal ini juga dikarenakan sang majikan ternyata juga sedang galau sehingga menular ke bebek peliharaannya. 


Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan galau dan menginterpretasikannya. Diantaranya Galau adalah suatu keadaan ketika suasana hati menginginkan kebebasan, namun ada yang mengikat, tidak mau lepas. Galau adalah pikiran kacau, gara-gara cinta. Atau ada yang menyebutkan bahwa galau adalah keadaan dimana seseorang bingung untuk menentukan pilihan. Merasa susah apa yang akan terjadi nantinya, apakah sesuai harapan atau tidak, apakah ini benar atau salah, apakah ini yg terbaik (bimbang). Galau itu ketika orang itu tengah kosong pikirannya dan asalnya itu dari hati. Galau adalah suatu keadaan dimana kita memikirkan suatu hal secara berlebihan, bingung apa yang harus dilakukan dengan suatu hal ini .. Dengan pikirannya sendiri sehingga menimbulkan efek emosi melabil, pikiran pusing, dan mendadak insomnia.

Cara terbaik menelisiknya adalah berpaling ke kamus. Di halaman 407 Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008), dikatakan “galau” berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau.

Merujuk ke defenisi menurut kamus keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau pikirannya sedang kacau.
Kacau dalam kamus diartikan (salah satunya, terutama berkaitan dengan pikiran) kusut (kalut) tidak keruan. Contoh kalimatnya: Pikirannya bertambah kacau mendengar berita itu.

Menurut saya, galau bukan kata yang pas untuk menunjukkan sebuah keadaan pikiran yang tengah tidak dalam keadaan baik. Karena kata “kacau” yang terdapat dalam makna “galau” lebih tepat dengan suasana kalang kabut dan kusut.
Mengecek ke Google Translate dan buku Kamus Indonesia-Inggris John M. Echols dan Hasan Shadily, bahasa Inggris galau adalah hubbub dan confusion. Artinya, galau lebih dekat dengan suasana pikiran yang tengah bingung. Bahasa Indonesia menyediakan kata lain yang lebih tepat, “gundah”. Di KBBI, “gundah” berarti sedih, bimbang, gelisah. Dilengkapi jadi “gundah gulana” berarti keadaan sangat sedih atau sedih dan lesu.

Merasa takut dan susah hati menjalani hidup yang itu-itu saja. Hingga membuat diri tak terlepas dari dari kebimbangan dan kesedihan, yang mengeruhkan kebeningan kehidupan dan mematahkan kenikmatan. Apa sebenarnya yang menjadi penyebebabnya? Apakah masa lalu, atau kenangan buruk yang hidup di siang dan malam hari diatas pentas hati? Kadang diri menjadi sering berdiam diri, tapi terkadang juga merasa jemu. Akhirnya diri jadi sering banyak bicara, berkeluh kesah.

Ingin sekali rasanya mengadu, tapi pada siapa harus mengadu, diri kita tak tahu. Juga bagaimana kata untuk memulainya; karena kata-kata terlalu miskin dan tak memadai guna menyatakan isi hati. Mungkin juga karena takut untuk mengadu. Sebab, diri kita takut di kasihani; karena belas kasihan ini menyebabkan kelemahan, dan kita merasa masih tegar menghadapinya.

Apa yang membawa diri kita dalam kegelisahan? Dan mengapa sebagai manusia diri kita tak bisa menemukan kebahagaiaan?
Betapa sering kita dibingungkan oleh masalah-masalah aneh, yang hendak kita ingkari, tapi tenyata tak dapat kita hapus diingatan. Dan semuanya menjadi tak begitu normal. kita merasa teganggu dengan kejadian atau benda benda. Kita tak bisa melihat dengan apa adanya. kita benar-benar tak ingin seperti ini terus, kita ingin merubahnya. Kita beranggapan kalau dapat merubah keadaan ini, kitaakan menjadi tenang dan bahagia. Namun sekali lagi kita tak melihat dengan jelas jalan keluarnya, atau ‘caranya’.

Untuk suasana hati yang sering disebut tengah “galau” rasanya lebih pas bila mengatakannya tengah “gundah.”
Lantas apa hubungannya antara galau dan keterlibatan hati...?
Berbicara "galau" maka tidak bisa di lepaskan dari keterikatan hati, karena segala sumber kegalauan adalah berasal dari hati. Galau merupakan kondisi dimana ketidakmantapan hati dalam menentukan suatu sikap terhadap seuatu yang akan diambil atau dipilih.

Kegalauan yang terjadi pada diri kita ataupun orang lain sangat erat kaitannya dengan kondisi hati kita, hati yang kosong dan hampa akan mudah untuk bergalau ria, sedangkan hati yang terjaga dan selalu di sibukkan dengan hal hal yang positif akan lebih terjaga. Terkadang banyak orang yang lebih menikmati kegalauan dan merasa bangga atas kegalauan yang terjadi pada dirinya sendiri dibandingkan dengan mencari solusi agar keluar dari kegalauan yang terjadi. Lantas bagaimana agar kita bisa terhindar dari virus kegalauan ini sendiri :

1. Ingatlah Allah
Firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Ahzab 41-42)

2. Menjaga Hati
Rasul bersabda, "Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati." (Al-Hadis).
hati tidak bisa melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya. Seperti melihat kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.Lalu, bagaimana menjaga hati agar tetap sehat? Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati. Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman. Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.

3. Taubat & Beristigfar
Tobat dan istighfar adalah dua obat yang bisa membuang toksin di dalam hati. Ia bagaikan antibody yang bisa membuat hati tetap sehat.

4. Bacalah Al-Qur'an
Bacalah AL-Qur'an agar hati kita tenang dan damai, tidak ada obat yang lebih mujarab untuk menenangkan hati dan menerangkan jiwa manusia selain daripada al-Qur'an yang telah diturunkan oleh Allah sebagai obat.
Allah S.W.T berfirman :
" Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.،¨ (QS. Al Israa':82)

Mustofa Abi Hamid
Physics Education ‘09
University of Lampung (Unila)
Address :
BPH Masjid Al-Wasi’i Kampus Universitas Lampung
Lantai Dasar Masjid Al-Wasi’i Jln. Soemantri Brojonegoro no.13 Gedung Meneng Bandarlampung Post Code : 35145
HP : 0856.6666.090
0897.6126.033
Ph : (0721) 783044
e-mail :abi.sma4@gmail.com
abi.unila@yahoo.co.id
m.abihamid@students.unila.ac.id
Twitter follow : @MustofaAbiHamid
www.mustofaabihamid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar