Minggu, 09 Februari 2014

Kopi Kawa Daun; Kopi Nikmat Warisan Nenek Moyang di Ranah Minang

Sore itu, saat mentari menari-nari di ufuk barat, memancarkan sinarnya ke arah bukit-bukit dan hamparan sawah yang menghijau di sepanjang jalan berkelok, Jalan Lintas Padang – Bukittinggi. Mentari yang memancarkan sinar menyeruat mega merah di langit Minangkabau, senja telah rebah. Saya bersama kawan-kawan berhenti di sebuah kedai kopi di pinggir jalan. Tampak ramai pengunjung yang melepas lelah atau sekadar ngobrol-ngobrol sambil nyeruput kopi yang terhidang di sebuah batok kelapa dan tatakan bambu.

Jika Anda penggemar dan penikmat kopi sejati, rasanya kurang lengkap jika belum mencoba menikmati dan nyeruput Kopi Kawa Daun khas Minangkabau. Minuman kopi biasanya terbuat dari biji kopi yang disangrai kemudian dijadikan bubuk kopi dan diseduh dengan  air panas. Namun berbeda dengan Kopi Kawa Daun. Kopi Kawa Daun tidak berasal dari biji kopi pada umumnya, namun terbuat dari olahan daun kopi hingga tercipta minuman khas anak nagari. Seperti halnya minuman teh yang diambil daunnya dan diseduh, namun proses pengolahannya tentu berbeda pula dengan minuman teh. Sangat unik! 

Saya, Yosef, Rio, Ferdi, Fandy, Rizky, Boy, Tika dan Icha mampir di sebuah Kedai Kopi Kawa Daun di pinggir jalan lintas Padang – Bukittinggi. Saya bersama kawan-kawan penasaran dengan kopi yang konon katanya warisan nenek moyang itu. Kami memesan Kopi Kawa Daun serta makanan yang disajikan mendampingi kopi, yaitu aneka gorengan yang masih panas, pisang goreng, ubi goreng, bakwan, tahu isi, dll. Untuk yang masih penasaran dan belum pernah mencicipi Kopi Kawa Daun ini, mungkin akan menganggap rasa kopi ini lebih mirip dengan teh dengan aroma berbeda. Aromanya khas dan rasa kelatnya menempel lama di lidah.

Bila anda mencobanya untuk pertama kali mungkin akan terasa begitu berbeda dan terasa begitu aneh di lidah anda. Namun bila anda menikmatinya dengan cara perlahan-lahan serta menikmatinya dengan santai dan biarkan aroma juga rasanya  berputar-putar menggoyang lidah, rasa kopinya bermain-main di lidah serta di mulut anda maka anda akan benar-benar mendapatkan citarasa yang sungguh sangat nikmat dan tak terlupakan.

Rasanya berbeda dengan kopi pada umumnya, meskipun terbuat dari olahan daun kopi namun rasanya tidak langu. Benar-benar khas. Kopi Kawa Daun bisa menjadi minuman selingan bagi para pecinta kopi yang menginginkan variasi rasa unik untuk lidah serta ingin mengeksplorasi rasa kopi tradisional yang khas. Benar-benar mantap.

Apalagi cara menghidangkannya masih tradisional menggunakan tempurung kelapa yang beralaskan batang bambu, menambah kenikmatan saat menyeruput Kopi Kawa Daun ditemani hidangan pelengkap berupa gorengan sembari menikmati pemandangan alami berupa bukit-bukit dan hamparan sawah yang menghijau disekitar kedai. Angin sepoi-sepoi pun berhembus mengiringi obrolan melepas penat kala senja saat itu. Saya menikmatinya dengan menyeruput dari batok kelapa dan sesekali menikmatinya sendok demi sendok merasakan sensasi rasanya yang nikmat.
Kopi Kawa Daun
Jika anda menginginkan variasi rasa, di setiap kedai Kopi Kawa Daun ini juga menyediakan variasa rasa, yaitu Kopi Kawa Susu, Kawa Madu, Kawa Jahe, Kawa STMJ (Susu Teh Madu Jahe), Kawa Telur, dll. Kopi Kawa Daun yang dicampur dengan susu, madu, jahe atau telur memiliki kenikmatan dan khasiat yang bermanfaat bagi tubuh.
Kopi dihidangkan bersama gorengan :D
Kopi Kawa Daun dalam Tempurung Kelapa

Standar harga dari cara penyajian Kopi Kawa Daun cukup bervariasi. Yaitu dipatok antara Rp 2.000,00 hingga Rp 8.000,00 per batok kelapanya. Tergantung pada racikan apa yang kita inginkan. Susu, ditambah es, ataupun ditambah telur.
Abie nyeruput Kopi Kawa Daun
Ferfau menikmati Kopi Kawa Daun
Momo_ro ngeksis juga :D
Icha ^^
Koh Yosef nyobain Kawa Daun
Tika minumnya penuh penghayatan :D
Ini minumnya agak lebay :p
Papa bersama anak2nya #eh :D
Top Markotop Mak Nyuuus :D
Masih banyak nih kalo mau nambah lagi :D
Tidak sulit mendapati kedai Kopi Kawa Daun ini, di sepanjang jalan lintas Padang – Bukittinggi terdapat banyak kedai yang menjajakan minuman khas ini. Di Kota Padang, Tanah Datar, Agam, Bukittinggi, Payakumbuh, dan kota-kota lain di Sumatera Barat juga sudah banyak yang menjualnya. Bahkan, jika jauh dari Sumatera Barat, sudah tersedia pula pemesanan secara online melalui situs www.KopiKawaDaun.com yang menyediakan Kopi Kawa Daun kemasan ekonomi. Tinggal diseduh dengan air panas dan/atau dicampur dengan gula, susu, madu atau jahe. Kopi Kawa Daun siap dinikmati.
 
Kopi Kawa Daun dalam Kemasan, by: www.KopiKawaDaun.com
Warisan Nenek Moyang

            Ternyata, minuman Kopi Kawa Daun ini menyimpan sejarah nenek moyang. Konon, saat Belanda menjajah Indonesia dan menerapkan Cultuurstelsel atau taman paksa yang digagas oleh Gubernur Van Den Bosch yang mengharuskan daerah-daerah di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, termasuk Sumatera Barat untuk menanam tanaman perkebunan serta komoditas ekspor lainnya. Saat itu pada tahun 1830 tanam paksa diterapkan di Pulau Jawa, selang 10 tahun kemudian tanam paksa ini diterapkan di Sumatera Barat dengan komoditas kopi sebagai salah satu produk yang harus ditanam oleh penduduk setempat dan hasilnya diserahkan kepada penjajah, Belanda.

             Penduduk diharuskan menanam kopi tanpa menuai hasil panennya. Bahkan untuk mencicipi (buah) kopi hasil panennya itu pun dilarang oleh Belanda saat itu. Semua kopi hasil panen diangkut ke Amsterdam Belanda dan diekspor ke Eropa. Penduduk setempat (hanya) memetik daunnya yang kemudian diolah menjadi “kawa”. Pedih memang penderitaan penduduk saat masa penjajahan Belanda.

            Sejarah kelam tak harus diratapi, tapi dimodifikasi, dikreasi lalu dihidangkan pada zaman yang kian maju saat ini, pada rakyatnya yang kian berjarak dengan masa lalu. Kawa adalah sejarah dalam tempurung kelapa yang tak perlu diratapi, tapi diakali dan diinovasi. Lalu kini menjadi kuliner yang hebat, keluar dari rumah-rumah penduduk di pingggir jalan sepanjang bukit. Hadir dalam kedai minuman, dinikmati anak-anak muda era modern saat ini, dipuja, dikisahkan ke mana saja bahkan sampai ke Belanda. Kreasi anak nagari itu, semakin membuat Ranah Minang ini terkenal. Ternyata warisan yang diterima berupa kekayaan batin dan kekayaan intelektual, jauh lebih berharga. Kawa adalah paduan dari keduanya.

Khasiat Kopi Kawa Daun
           
Kini, penelitian terbaru di Inggris menemukan bahwa teh dari daun kopi ini ternyata lebih sehat ketimbang teh dan kopi sendiri. Menurut para ilmuwan dari Royal Botanic Gardens di Kew, London, dan Joint Research Unit for Crop Diversity, Adaptation and Development di Montpellier, teh daun kopi mengandung senyawa yang bermanfaat mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes.

Berdasarkan penelitian, daun kopi mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan teh biasa. "Yang mengejutkan adalah berapa banyak antioksidan dalam daun kopi. Jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan teh hijau dan teh hitam," ujar Dr Aaaron Davies, pakar kopi dan botani dari Royal Botanic Gardens seperti dilansir laman Telegraph.

Tak hanya antioksidan, daun kopi juga mengandung bahan kimia alami yang berkhasiat mengatasi masalah peradangan. Bahan kimia alami ini biasanya ditemukan pada buah mangga.
"Ditemukan juga zat dalam level yang tinggi yang disebut mangiferin dalam daun tanaman kopi Arabika," ucapnya.

Para peneliti menilai, selama ini daun kopi diabaikan karena orang lebih mengedepankan biji kopi yang memiliki nilai lebih tinggi. Meski demikian, mereka yakin bahwa teh daun kopi bisa menjadi minuman sehat baru, setelah teh hitam atau teh hijau.

Teh daun kopi mengandung kafein yang rendah dan memiliki rasa yang biasa, tidak pahit seperti teh atau sekuat kopi. Dr Davies menjelaskan, kopi daun teh sangat populer di beberapa negara, seperti Ethiopia dan Sudan Selatan. Bahkan ada upaya memasarkan teh daun kopi ini di Inggris pada tahun 1800-an.

"Saya menghabiskan waktu di Sudan dan bertemu dengan seorang tetua desa yang membuat teh daun kopi setiap hari. Ia mendaki selama beberapa jam guna mengumpulkan daun kopi untuk dijadikan teh," katanya.

Dr. Davies menemukan sampel teh daun kopi dalam koleksi Kew yang berusia hampir 100 tahun. Pada saat itu, produsen kopi di Sumatera dan Jawa diketahui berusaha mempopulerkan teh daun kopi di Inggris dan Australia.

Laporan ketika itu mengklaim bahwa teh daun kopi mampu mengatasi rasa lapar dan kelelahan. Teh daun kopi juga digambarkan menyegarkan, meski beberapa yang menilainya tidak bisa diminum. 

Dr. Davies dan Dr. Claudine Campa dari Joint Research Unit for Crop Diversity, Adaptation and Development melakukan tes terhadap 23 spesies tanaman kopi. Hasilnya, daun pada tujuh spesies tanaman kopi mengandung mangiferin yang tinggi.

Di antara tujuh spesies, daun kopi Arabika-lah yang mengandung mangiferin paling tinggi. Seperti diketahui mangiferin berkhasiat sebagai anti-inflamasi, mengurangi risiko diabetes, kolestrerol darah, dan melindungi neuron di otak.

Penelitian yanag dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Annals of Botany itu juga menunjukkan bahwa daun kopi Arabaika mengandung antikosidan paling tinggi. Lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam teh atau kopi tradisional. Meski demikian para peneliti mengakui, dampak dari senyawa yang ditemukan dalam daun kopi pada tubuh manusia memerlukan penelitian lebih lanjut.

Mari cintai produk-produk asli Indonesia dan mempopulerkan wisata Indonesia yang sangat kaya dan indah ini. Mari syukuri nikmat anugerah Tuhan ini dengan melestarikannya.

Padang, 16 Januari 2014
Salam Bahagia dan Sejahtera,
Regards,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar